Menu

Mode Gelap
Aset Master Lagu Diduga Dialihkan Tanpa Izin, Valdy Nyong Somasi Label Ide Timur  Manusia Di Antara Dua Setan  Kemenhub Gelar Rakorwil, Perkuat Aksesibilitas Penerbangan di Papua Kemenhub Kembali Salurkan Bantuan, 7,9 Ton untuk Korban Gempa NTT 471 Perwira Transportasi Poltekpel Barombong dan Poltekbang Makassar Dilantik adidas Kembali, 4 Klub Jadi Pijakan Baru di BRI Super League 2026/2027

Uncategorized

Manusia Di Antara Dua Setan 

badge-check


 Manusia Di Antara Dua Setan  Perbesar

Oleh: H. J. FAISAL*

Wujud Setan yang Sebenarnya

Wartatrans.com, JAKARTA — Suatu saat, salah seorang mahasiswa saya bertanya tentang apakah setan itu, bagaimana wujudnya, dan apakah benar bahwa setan itu berwujud seperti makhluk menyeramkan yang ada di film-film horror?

Mendengar pertanyaan polos seperti itu, saya pun tersenyum….

Sejenak saya berpikir, apakah benar umat muslim sampai sekarang masih belum paham apa itu setan, bagaimana wujudnya, dan bagaimana cara kerjanya….?

Padahal kehidupan sehari-hari umat muslim di seluruh dunia selalu ‘berteman’ dan ‘bertemu’ dengan setan, misalnya melalui gadget yang mereka pegang, dan bahkan apakah kita sebagai umat muslim sadar bahwa justru kita sudah menjadi setan itu sendiri….?

Saya pun menjawab pertanyaan polos mahasiswa saya tersebut….

Istilah setan sebenarnya adalah sebuah istilah profesi atau pekerjaan tetap bagi jin dan manusia yang selalu membisikkan hal yang menjerumuskan.

Setan itu nyata, dapat terlihat oleh pandangan manusia, sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Al Fathir ayat 6, sebuah ayat yang menegaskan bahwa setan sesungguhnya adalah musuh yang nyata bagi manusia.

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Karena itulah setan selalu dijadikan musuh oleh manusia (baca: umat muslim) yang selalu ingin jujur, yang selalu ingin istiqomah dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala, yang selalu ingin menuruti hati nuraninya dalam kebenaran, dan yang selalu menghindari segala macam bentuk dosa.

Bahkan, jangankan kita sebagai manusia biasa, sesungguhnya nabi dan rasul Allah Ta’ala pun selalu berjibaku melawan godaan dan bisikan setan ini.

Dalam Al-Qur’an, khususnya di Surat Al-An‘am ayat 112, menegaskan bahwa setiap nabi memiliki musuh berupa setan dari kalangan manusia dan jin yang saling membisikkan perkataan indah sebagai tipuan.

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin; sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu. Seandainya Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka biarkanlah mereka bersama apa yang mereka ada-adakan.”

Makna ayat ini antara lain adalah:

Pertama, bahwa setan bukanlah hanya makhluk gaib (jin), tetapi juga manusia yang berperan sebagai penghasut.

Kedua, bisikan mereka biasanya berupa retorika indah, propaganda, atau rayuan yang menjerumuskan.

Ketiga, musuh para nabi selalu ada dalam bentuk ini, sehingga umat Islam diingatkan untuk waspada terhadap tipu daya yang tampak indah namun menyesatkan.

Sedangkan wujud setan yang terdiri dari golongan manusia itu sendiri, ada pada manusia yang sombong, iri, dengki, suka berdusta, suka mengadu domba, tidak betah berada dalam kedamaian, banyak berbuat dosa, kecurangan, manipulasi, bahkan bangga dengan dosa-dosanya tersebut karena kebodohannya sendiri, dan selalu bekerja sama dengan para tukang ramal untuk menyesatkan manusia.

Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Asy-Syu‘ara ayat 221–222, di mana makna ayatnya adalah bahwasanya setan memilih “mitra” dari kalangan manusia yang suka berbohong dan berdosa, dan bisikan setan kepada manusia ini menjadi saluran untuk menyebarkan kebohongan dan menjerumuskan masyarakat.

Setan yang Cerewet dan Setan yang Diam Saja (Setan Bisu)

Selain setan penghasut yang ‘cerewet’ dan ‘pandai bicara’ yang aktif menjerumuskan manusia ke dalam dosa dan ketidakberdayaan melalui bisikan, provokasi, dan manipulasi, ada juga golongan manusia yang disamakan dengan setan ‘bisu’ yang diam saja, yakni orang berilmu yang memilih bungkam ketika melihat kezaliman, padahal diamnya justru akan memperkuat tirani dzalim yang sedang berkuasa.

Dalam tradisi Islam, konsep ini dekat dengan peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan; jika tidak mampu, maka dengan lisan; jika tidak mampu, maka dengan hati dan itu selemah-lemahnya iman.”

Dari hadits tersebut, jelaslah bahwa diamnya orang berilmu di hadapan kezaliman berarti berhenti pada level paling lemah, bahkan bisa dianggap pengkhianatan terhadap amanah ilmu itu sendiri.

Secara filosofis, ini juga terkait dengan hegemoni kekuasaan, ketika penguasa menggunakan ancaman atau legitimasi agama untuk membungkam kritik.

Maka, orang berilmu yang tidak bersuara seakan menjadi bagian dari struktur yang melanggengkan ketidakadilan.

Jika kita tarik ke ranah media sosial saat ini, maka “setan yang pandai bicara” adalah mereka yang selalu membuat propaganda perpecahan, hoaks, dan ujaran kebencian.

Sementara “setan yang diam alias setan bisu”nya adalah para intelektual yang tidak menggunakan ilmunya untuk membela kebenaran.

Keduanya sama-sama setan yang menghancurkan rakyat dan masyarakat.

Syaitanu Akhras (Setan Bisu)

Ungkapan “syaitanu akhras” (setan bisu) memang bukan berasal dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, melainkan berasal dari sebuah pandangan dan pemikiran filosofis seorang ulama salaf yang bermahzab Syafi’i, yang berasal dari Iran, yang bernama Abu Ali ad-Daqqaq (wafat 406 H), dan dikutip kembali oleh Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.

Imam Abu Ali ad-Daqqaq menegaskan bahwa orang berilmu yang diam dari kebenaran sama buruknya dengan setan yang membisikkan kebatilan.

Dalam konteks keilmuan Islam, diam dari kebenaran bukanlah sikap netral, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap amanah ilmu. Ilmu yang seharusnya menjadi cahaya justru padam ketika pemiliknya bungkam di hadapan kezaliman.

Al-Qur’an menegaskan dalam surat An-Nisa ayat 135, bahwa setiap orang beriman wajib menegakkan keadilan, bahkan terhadap diri sendiri dan kerabat.

Diam berarti berpaling dari amanah ini.

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amar ma’ruf nahi munkar (HR. Muslim) di atas, menegaskan tiga tingkatan perlawanan terhadap kemungkaran, yaitu dengan tangan, dengan lisan, dan dengan hati.

Dengan demikian, sekali lagi ditegaskan bahwa diam tanpa sikap berarti berhenti pada level iman paling lemah.

Dalam sejarah Islam, ulama selalu menjadi garda terdepan dalam melawan tirani. Ketika mereka diam, maka masyarakat akan kehilangan kompas moral, tidak mempunyai keteladanan yang dapat dipercaya, dan dipastikan akan terjadi kekacauan sosial (Social Disorder) yang akan sangat fatal akibatnya.

Bahkan pandangan tersebut diperkuat oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, di mana istilah syaitanu akhras dijadikan sebagai kritik keras oleh kedua ulama tersebut sebagai apatisme intelektual.

Fenomena Syaitanu Akhras di Indonesia

Jika kita tarik ke konteks bangsa ini, fenomena “setan bisu” tampak nyata dalam sikap sebagian intelektual, akademisi, dan tokoh agama saat ini, yang lebih memilih bungkam di hadapan rezim ‘badut’, politikus nirmoral, praktik korupsi, nepotisme, dan berbagai macam bentuk pelanggaran hukum.

Diamnya orang berilmu di hadapan kezaliman bukan sekadar kelemahan pribadi, melainkan legitimasi struktural terhadap tirani.

Diamnya orang berilmu di hadapan kezaliman selalu memberi ruang bagi penguasa zalim untuk terus melanggengkan kekuasaan tanpa koreksi moral.

Dalam kerangka teori hegemoni, diamnya intelektual berarti tunduk pada dominasi ideologi penguasa. Mereka tidak lagi menjadi “intelektual organik” yang membela rakyat, melainkan sekadar pelengkap status quo penguasa.

Fenomena ini tampak dalam kasus korupsi yang merajalela, kasus dangkalnya pemikiran, dan kasus jilat-menjilat kepada penguasa.

Banyak akademisi dan kaum intelektual yang mengetahui akar masalahnya, tetapi memilih diam karena takut kehilangan posisi, jabatan, atau akses terhadap fasilitas negara.

Diamnya ulama dan cendekiawan dalam menghadapi ketidakadilan sosial membuat masyarakat kehilangan teladan. Padahal, suara mereka bisa menjadi katalis perubahan.

Dalam pandangan saya, syaitanu akhras dalam konteks bangsa ini bukan hanya individu, melainkan sistem yang membungkam suara kritis melalui ancaman, kriminalisasi, atau kooptasi.

Bangsa yang Berhadapan dengan Dua Jenis Setan Sekaligus

Ketika suara kebenaran dibungkam, maka yang terdengar hanyalah propaganda. Inilah yang disebut Ibnu Qayyim sebagai “setan yang pandai bicara” yaitu mereka yang menyebarkan kebatilan dengan retorika indah.

Maka, bangsa ini kini menghadapi dua jenis setan sekaligus, yaitu setan yang pandai bicara (propaganda, hoaks, ujaran kebencian) dan setan bisu (intelektual yang diam dari kebenaran).

Keduanya sama-sama melemahkan masyarakat. Yang satu menyesatkan, yang lain membiarkan kesesatan itu berakar.

Dan dalam perspektif sosiologi kritis, diamnya orang berilmu (intelektual) adalah bentuk complicity keterlibatan pasif dalam kezaliman.

Mereka mungkin tidak mencuri, tetapi diamnya mereka membuat para pencuri leluasa.

Mereka mungkin tidak korupsi, tetapi diamnya mereka membuat para koruptor menjadi ‘pemenang’.

Mereka mungkin tidak menjadi bodoh dan miskin, tetapi diamnya mereka justru membuat rakyat semakin terjerumus ke dalam kebodohan dan kemiskinan.

Dengan demikian, maka secara langsung justru para intelektual ‘setan bisu’ ini turut serta menciptakan jurang kebodohan, jurang kemiskinan, dan jurang kehancuran bangsanya sendiri, menjadi semakin dalam.

Dalam konteks demokrasi, diamnya intelektual berarti membiarkan demokrasi direduksi menjadi prosedur tanpa substansi.

Rakyat kehilangan suara kritis yang seharusnya datang dari kalangan berilmu.

Bahkan rakyat menjadi semakin apatis terhadap kaum akademisi intelektual karena mereka justru semakin rajin membela para penguasa yang berani ‘membayar’ mahal mereka.

Fenomena Syaitanu Akhras dalam Dunia Pendidikan

Menurut saya, fenomena syaitanu akhras juga sangat tampak jelas dalam dunia pendidikan bangsa ini.

Banyak dosen dan guru tahu sistem pendidikan rusak, tetapi memilih diam karena takut berhadapan dengan birokrasi.

Padahal, pendidikan adalah ruang paling strategis untuk melawan kezaliman. Diamnya akademisi atau kaum intelektual (baca: pendidik) berarti membiarkan generasi baru tumbuh dalam sistem yang cacat.

Dalam ranah politik, diamnya tokoh agama dan akademisi membuat rakyat kehilangan rujukan moral.

Akibatnya, politik menjadi sekadar perebutan kekuasaan para politikus yang kelakuannya mirip seperti tikus, tanpa nilai, tanpa adab (baca: bi-adab), dan tanpa ilmu.

Syaitanu akhras juga tampak dalam isu lingkungan. Banyak ilmuwan tahu dampak kerusakan alam, tetapi diam karena kepentingan ekonomi dan politik.

Diam dalam isu lingkungan berarti mengkhianati amanah khalifah fil-ardh. Alam rusak bukan hanya karena keserakahan, tetapi juga karena kebisuan orang berilmu.

Maka, istilah syaitanu akhras menjadi relevan untuk mengkritik keadaan bangsa, karena diamnya orang berilmu memperkuat tirani, korupsi, kerusakan pendidikan, dan kehancuran lingkungan, dan kehancuran dalam segala bidang.

Dan bukankah memang tugas setan untuk menciptakan kekacauan, kerusakan, dan kehancuran?

Penutup

Maka tidak ada jalan lain, jalan keluar satu-satunya adalah menghidupkan kembali tradisi amar ma’ruf nahi munkar.

Intelektual dan akademisi harus berani bersuara, meski konsekuensinya berat.

Diam bukanlah pilihan, karena diam berarti membiarkan diri kita menjadi syaitanu akhras alias si setan bisu.

Dengan demikian, narasi syaitanu akhras bukan sekadar hikmah ulama salaf, melainkan kritik sosial yang sangat relevan.

Bangsa ini membutuhkan keberanian orang berilmu untuk bersuara, agar tidak tenggelam dalam kezaliman yang dilegitimasi oleh kebisuan.

Apakah harus menunggu semuanya menjadi terlambat?

Apakah harus menunggu generasi bangsa ini tersesat lebih dalam lagi?

Atau apakah harus menunggu bangsa ini hancur sehancur-hancurnya terlebih dulu, baik hancur secara ekonomi maupun secara moral?

Sebagai sesama pendidik, saya hanya mengingatkan bahwa pendidik yang bertransformasi menjadi setan bisu, hanya akan menghasilkan peserta didik yang lebih bisu dari setannya itu sendiri.

Dan yang harus kita ingat pula, apa pun jenis setannya, tetap akan mendapatkan hukuman dalam neraka yang menyala-nyala (as-sa‘ir).

“Sesungguhnya syaitan hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

(Al-Qur’an surat Fathir ayat 6)

Wallahu’allam bisshowab

Jakarta, 29 Agustus 2026.***

 

Penulis adalah Pensyarah Prodi PAI UNIDA Bogor / Anggota PJMI / Pemerhati Pendidikan dan Sosial / Director of Logos Institute for Education and Sociology Studies (LIESS)

Baca Lainnya

BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin

29 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports

29 Agustus 2026 - 16:33 WIB

Sumber Air Baku IPA Kudu Menurun, Pelanggan PDAM di Semarang Diminta Siaga

29 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Dua Dekade Menghidupkan Kembali Suara Radio Rimba Raya

29 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Radio Rimba Raya Resmi Ditetapkan Sebagai Situs Cagar Budaya

28 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Kunjungi Green Port Terminal Teluk Lamong, Kemenhub Apresiasi Komitmen TTL Wujudkan Net Zero Emission 2060

28 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Dinsos Tolak Ajuan Keringanan Pasien Miskin Non BPJS di RS dr. Slamet Garut 

28 Agustus 2026 - 18:36 WIB

Ketua DEN Minta Perbaikan Program MBG Lewat Digitalisasi

28 Agustus 2026 - 14:26 WIB

Pemerintah Dorong Industri Baterai Nikel, MOLINAS Masuk Rantai Hilirisasi

28 Agustus 2026 - 13:16 WIB

KIP Dorong Keterbukaan Informasi Tak Sekadar Predikat Informatif

28 Agustus 2026 - 08:49 WIB

Trending di RAGAM