Oleh: Salman Yoga S*
Wartatrans.com, ACEH — Peradaban sebuah bangsa selalu ditandai dengan penulisan ulang sejarahnya, seperti yang belakangan dilakukan oleh Negara Indonesia melalu Kementerian Kebudayaan, seolah kebenaran mempunyai versi-versinya sendiri. Sementara estetika dan nilai-nilai humanis terus berjalan diareanya sendiri, lengkap dengan dehumanisasinya akibat konflik atau akibat bencana. Maka tidak heran bila adagium yang berbunyi “Sejarah selalu ditulis oleh pemenang”, bukan oleh yang paling damai.

Berbeda dengan karya sastra terutama puisi, ia ditulis oleh yang masih punya hati, bukan yang punya kuasa dan materi berlebih. Sebelum ada garis imajiner bernama “perbatasan”, nusantara ini satu kesatuan. Satu bahasa, bahasa rasa. Satu adat, adat kemulyaan. Bahkan satu rintihan saat dirampas, satu sorak saat merdeka. Dari Aceh sampai Patani, dari Riau sampai Sarawak, orang berbalas pantun di dermaga, di ladang hingga surau dan tepi danau. Kata adalah mata uang kita, kata adalah silaturrahmi sekaligus keluarga kita.
Lalu datanglah peta baru, datanglah bendera baru, datanglah politik yang mengajari kita untuk melihat saudara sebagai “negara lain”. Selat Melaka yang dulu penghubung, dipaksa jadi pemisah. Padahal ombaknya tetap sama, anginnya tetap sama, bahkan bahasanya tetap mengunakan kata-kata.
Buku kumpulan puisi “Sajak-Sajak Penyair Indonesia – Malaysia: Dua Negeri Satu Hati” ini tanpaknya lahir dari kegelisahan itu. Kegelisahan yang melihat kita semakin pandai berbahasa asing, tapi semakin gagap berbahasa persaudaraan, berbahasa dengan hati yang berestetika dan berperadaban.
Di dalam antologi ini, kita menemukan dua suara yang berbeda logat tapi satu nada. Penyair dari kedua negara menulis tentang kemarau panjang, tentang sawah yang dijual, tentang anak bangsa yang lupa sejarah, tentang laut, selat, hutan yang digunduli, tentang bencana, tentang tanaman, tentang hati, tentang diri, tentang kemanusiaan, tentang pengkhiatan, tentang politik yang implisit, tentang jati diri yang dipertanyakan, tentang rindu pada akar Melayu. Bahkan ada yang menulis dengan bahasa ibu-nya, bahasa yang dalam dunia modern menjadi bahasa yang dianggap paling primitive. Tetapi mereka tetap menulis seperti ibu-ibu mereka tetap berahim pada yang Maha Rahman.
Beda isu, tapi satu luka. Beda tanah, tapi satu langit. Tentu penyatuan karya ini bukan untuk lomba. Bukan untuk membuktikan siapa lebih “sastrawi”, karena karya yang baik adalah karya yang mampu keluar dari kepala penulisnya. Keluar untuk menginterpretasikan diri untuk menemukan nasip dan pembacanya sendiri.
Saya percaya sastra adalah diplomasi paling jujur. Tidak ada nota protes. Tidak ada konferensi pers. Yang ada hanya kejujuran di atas kertas. Dulu Radio Rimba Raya dari Takengon berani melawan dunia dengan 50 Watt. Ia meminjamkan suaranya untuk kemerdekaan Indonesia. Hari ini, kami meminjamkan pena kami untuk kemerdekaan cara berpikir. Agar kita berhenti melihat tetangga sebagai orang lain. Agar kita kembali ingat bahwa sebelum ada Indonesia dan Malaysia, kita sudah lebih dulu menjadi Nusantara.
Buku ini tidak akan mengubah kebijakan, tidak pula akan mengubah undang-undang. Tapi setidaknya, ia bisa mengubah satu hati. Satu hati pembaca yang setelah menutup halaman terakhir, tiba-tiba sadar bahwa rupanya sakitnya sama. Rupanya cintanya sama. Rupanya kita ini sama, sama-sama punya diplomasi berupa “kata-kata”. Jika kita menemukan bait yang menampar, itu bukan kebetulan. Itu teguran dari saudara kita di seberang laut. Jika menemukan bait yang menenangkanmu, itu bukan kebetulan. Itu pelukan dari saudaramu sebumi.
Selamat kepada Ares Faujian, Dedy Bachta, Elda Yani, Habas Rangga, Jefri Zain, M. Aqil Karimy, Novi Aprilia, Raudhatul Fitri, Robi Sugara dan Tiara Nursyita Sariza yang karya-karyanya tergabung dalam buku penting ini. Selamat datang di medan amal sekaligus medan perjuangan baru, dimana dunia hanya akan mencatat orang-orang yang berkarya, karya-karya yang berbicara dan berani bersuara.
Selamat pulang ke rumah yang bernama “kata” dan “makna”.***
Tanah Gayo, 2026

*Dr. Salman Yoga S, Akademisi, Budayawan dan Sastrawan Nasional.





























