Menu

Mode Gelap
Tokoh Dunia Bahas Dampak Teknologi AI di Bali Perlindungan ABK Diperketat, KKP Temukan Sejumlah Masalah dalam Inspeksi Kapal Perikanan 498.232 Turis Mancanegara Naik Kereta Api hingga Agustus 2026, Yogyakarta Jadi Favorit Tangani Kepadatan Kendaraan di Ketapang, ASDP Optimalkan Operasional 23 Kapal Bandara Husein Bandung Perkuat Konektivitas Penerbangan Catatan Halimah Munawir: Belajar Harmonis dalam Perbedaan dari Tari Gandrung

TEKNOLOGI

Tokoh Dunia Bahas Dampak Teknologi AI di Bali

badge-check


 Menkomdigi Perbesar

Menkomdigi

Wartatrans.com, BALI – Kecerdasan buatan (AI) berkembang begitu cepat. Namun, di tengah euforia teknologi tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah AI akan membuat kehidupan manusia lebih baik, atau justru membuat manusia kehilangan sesuatu yang paling mendasar dari dirinya?

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu fokus World Encounter Summit 2026 yang mempertemukan pemimpin pemerintah, pemuda, akademisi, tokoh agama, perusahaan teknologi, hingga masyarakat sipil dari berbagai negara di Bali.

Rangkaian forum dimulai melalui Bali Harmony Dialogue, Kamis (3/9/2026), di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.

Forum tersebut kemudian dilanjutkan dengan XI International Scholas Chairs Congress 2026 pada 4-6 September 2026.
Para peserta dari lima benua membahas dampak AI terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai pendidikan, dunia kerja, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial.
Yang menjadi perhatian adalah kesenjangan dalam perkembangan AI.

Tidak semua negara memiliki akses yang sama terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, maupun kemampuan mengatur teknologi tersebut.

Karena itu, pemerataan manfaat AI dinilai bukan semata persoalan teknologi, melainkan juga menyangkut keadilan sosial, ekonomi, moral, dan lingkungan.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut B. Pandjaitan mengatakan, Indonesia harus membangun kapasitas sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi.

“Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM,” ujar Luhut.

Sementara Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan, tingginya penggunaan AI oleh generasi muda Indonesia harus diikuti penguatan riset, talenta, infrastruktur, dan kebijakan.

“Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional,” kata Meutya.

Ia menilai Indonesia memiliki peluang menjadi pencipta teknologi, bukan sekadar pasar bagi produk AI dari negara lain.

Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado mengingatkan, pertanyaan terbesar di era AI bukan hanya tentang apa yang mampu dilakukan mesin.

Menurutnya, dunia juga harus menentukan manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama teknologi tersebut. (omy)

Baca Lainnya

Catatan Halimah Munawir: Belajar Harmonis dalam Perbedaan dari Tari Gandrung

5 September 2026 - 10:08 WIB

Catatan Halimah Munawir: Denny JA – Persahabatan yang Tak Kalah Panjang dari Sejarah

5 September 2026 - 09:49 WIB

Imigrasi Garut Media Gathering: Bicara Layanan dan Keamanan di Era Mobilitas Tinggi

5 September 2026 - 08:56 WIB

Indonesia Mulai Terapkan Penghapusan Masa Berlaku Kuota Data Selular 28 September

5 September 2026 - 05:00 WIB

Kecamatan Gayamsari Semarang Menggelar Salat Istisqa, Mohon Hujan dan untuk Introspeksi Diri

5 September 2026 - 04:49 WIB

KAI Services Bawa Pengalaman Kereta ke Tengah KAI Expo 2026, Hadirkan Produk dan Layanannya!

4 September 2026 - 23:10 WIB

Hari Pelanggan Nasional 2026: IPC TPK Pontianak, Perkuat Sinergi Pengguna Jasa Demi Kelancaran Logistik Daerah

4 September 2026 - 22:29 WIB

Kepala BGN Bikin Gebrakan, Jika Ubah Skema Insentif SPPG, Berpotensi Tekan Pengeluaran hingga Triliunan Rupiah

4 September 2026 - 20:31 WIB

Pelindo Regional 2 Perkuat Komitmen Tingkatkan Kualitas Layanan di Hari Pelanggan Nasional 2026

4 September 2026 - 17:13 WIB

KNG Raya Cabang Bogor Matangkan Rencana Usaha Beras Menir dan Kopi Saset

4 September 2026 - 16:59 WIB

Trending di RAGAM