Wartatrans.com, JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menawarkan rumah mulai Rp220 juta dalam BCA Expo 2026, di tengah pasar properti yang belum sepenuhnya pulih.
Strategi ini menurut Direktur BCA Haryanto T. Budiman, memperlihatkan persaingan bank dan pengembang bergeser dari sekadar menjual rumah menjadi menawarkan kombinasi harga, akses, serta kepastian pembiayaan.

Bank Indonesia mencatat penjualan properti residensial pasar primer pada kuartal II-2026 masih terkontraksi 2,36% secara tahunan, meski jauh membaik dibandingkan kontraksi 25,67% pada kuartal sebelumnya.
Harga properti juga hanya tumbuh 0,69%. Di sisi lain, 70,05% pembelian rumah primer dilakukan melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR), menunjukkan pembiayaan bank tetap menjadi penentu transaksi.
BCA Expo Jabodetabek berlangsung di ICE BSD City, Tangerang, 11-13 September 2026.
“BCA menawarkan KPR mulai 1,23% efektif per tahun (eff. p.a.) fixed satu tahun untuk rumah baru dari pengembang mitra, dengan biaya provisi 0,81%,” ujarnya dalam keterangan resmi BCA, Minggu (13/9/2026).
Pilihan hunian yang ditawarkan antara lain Citra Maja City di Kabupaten Lebak mulai Rp220 juta, Anandaya di Parung Panjang mulai Rp424 juta, Grand Almas Residence di Tigaraksa mulai Rp498 juta, serta Sutera Nexen di Balaraja mulai Rp656 juta.
Pola tersebut memperlihatkan keterjangkauan tidak hanya ditentukan harga rumah.
Citra Maja City dikembangkan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD), sementara Anandaya berada sekitar 10 menit dari Stasiun Parung Panjang.
Akses transportasi menjadi pertimbangan bagi masyarakat yang bekerja di Jakarta, Serpong, maupun BSD.
Dia bilang, pertumbuhan KPR berkaitan dengan aktivitas ekonomi karena industri properti memiliki banyak sektor turunan.
“Industri properti dipengaruhi dari beragam aspek, sehingga kalau KPR tumbuh, perekonomian kita juga akan tumbuh,” ujar Haryanto.
Strategi pembiayaan juga diarahkan kepada konsumen muda. SVP Consumer Credit Division BCA Melani Megawati pada Februari 2026 menjelaskan skema bunga fixed berjenjang memungkinkan nasabah menyesuaikan cicilan dengan kapasitas keuangan.
Ia mengatakan, bunga dibuat rendah pada awal periode dan secara bertahap menyesuaikan, dengan asumsi pendapatan Gen Z meningkat seiring masa kerja atau perkembangan usaha.
Dari sisi pasar, Anggota Satgas Perumahan sekaligus pengamat properti Panangian Simanungkalit menilai konsumen muda juga memiliki peluang melalui pasar sekunder.
Ia menyebut rumah second menjadi peluang bagi Gen Z karena memiliki legalitas yang jelas dan harga relatif terjangkau. Pernyataan itu disampaikan Panangian pada 19 Mei 2026.
Kedua perspektif tersebut menunjukkan tantangan pasar KPR 2026 bukan hanya menyediakan bunga rendah. Bank dan pengembang perlu mempertemukan harga, lokasi, akses mobilitas, serta skema cicilan dengan kemampuan pendapatan konsumen.
BCA Expo dengan demikian menjadi arena mempertemukan kebutuhan hunian dan kapasitas pembiayaan.
Bagi pasar, ruang pertumbuhan masih terbuka selama strategi harga dan pembiayaan mampu mengikuti kemampuan konsumen. (Artha Tidar)






























