Menu

Mode Gelap
Menhub Dudy: Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Terus Dimonitor, Keselamatan Tetap Utama Bandara Soekarno-Hatta Prioritaskan Pelayanan Bagi Penumpang Terdampak Penutupan Abu Gunung Anak Krakatau Berdampak Tanding Sepak Bola, Klub Ubah Rute Pulang Persija dan Persebaya Catatan Halimah Munawir: Narosan – Ketika Tradisi Menjadi Jalan Menuju Keluarga Pasca Pelantikan, Dewan Pakar PKS Kabupaten Bogor Siap Bergerak Sesuai Panduan Haji Fikri Imbau Warga Kabupaten Bogor Waspadai Abu Vulkanik Anak Krakatau

Uncategorized

Catatan Halimah Munawir: Narosan – Ketika Tradisi Menjadi Jalan Menuju Keluarga

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Narosan – Ketika Tradisi Menjadi Jalan Menuju Keluarga Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Hari ini kami mendapat kesempatan untuk menghantarkan bungsu kami menuju satu tahap penting dalam kehidupannya: meminang pujaan hati, dengan mengikuti salah satu tradisi budaya yang diwariskan oleh para leluhur, Narosan atau seserahan.

Di sebuah ruang di Hotel Astanaraya, Minggu, 6 September, kami menyaksikan sebuah ritus yang sesungguhnya jauh lebih bermakna daripada sekadar seremoni. Ia adalah rites of passage, sebuah ritus peralihan yang menandai perubahan status seseorang: dari kehidupan lajang menuju sebuah perjalanan baru dalam membangun keluarga.

Dalam tradisi Sunda, prosesi ini dikenal sebagai Narosan. Ia hadir setelah sebelumnya kedua keluarga melakukan Neundeun Omong, sebuah tahapan ketika kedua belah pihak mulai membuka pembicaraan, saling mengenal, berkunjung, dan membangun kesepahaman tentang niat baik menyatukan dua insan dalam ikatan keluarga.

Beberapa bulan setelah Neundeun Omong, hari ini niat itu kembali diteguhkan melalui Narosan.

Dari pihak keluarga laki-laki, kami membawa berbagai perlengkapan sandang serta aneka jajanan dan panganan Nusantara untuk calon mempelai perempuan. Begitu pula sebaliknya, pihak keluarga perempuan memberikan seserahan kepada pihak laki-laki.

Jika dilihat sekilas, mungkin yang tampak hanyalah barang-barang yang dibawa dan diserahkan. Tetapi sesungguhnya, di balik setiap benda terdapat simbol dan pesan yang jauh lebih dalam.

Ada tanggung jawab yang hendak dipikul. Ada penghormatan kepada calon pasangan dan keluarganya. Ada ketulusan untuk memasuki kehidupan baru.

Dan yang tak kalah penting, ada kekeluargaan yang sedang dibangun, bukan hanya antara dua anak manusia, tetapi juga antara dua keluarga dan dua lingkungan sosial yang kelak akan menjadi satu.

Tradisi seperti ini mengingatkan kita bahwa perkawinan bukan sekadar peristiwa antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Di dalam kebudayaan Nusantara, perkawinan adalah peristiwa sosial dan kultural. Ada keluarga yang dipertemukan, ada nilai yang diwariskan, ada tanggung jawab yang disampaikan, dan ada doa yang dititipkan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, menjaga tradisi bukan berarti kita harus hidup di masa lalu.

Justru sebaliknya, tradisi dapat menjadi jembatan agar nilai-nilai masa lalu tetap memiliki tempat di tengah kehidupan modern. Bentuknya mungkin dapat berubah mengikuti zaman, tetapi makna tentang penghormatan, tanggung jawab, gotong royong, dan kekeluargaan semestinya tidak ikut hilang.

Hari ini kami kembali belajar bahwa warisan leluhur tidak selalu hadir dalam bentuk benda-benda tua atau bangunan bersejarah. Ia juga hidup dalam ritual, tutur, tata cara, simbol, dan sikap manusia ketika menjalani sebuah peristiwa penting dalam kehidupannya.

Narosan menjadi salah satu cara leluhur mengajarkan kepada kita bahwa memasuki kehidupan berumah tangga bukan perkara sederhana. Ada keluarga yang harus dihormati, ada tanggung jawab yang harus dijalankan, dan ada kehidupan baru yang harus dibangun bersama.

Bagi kami sebagai orang tua, tentu ada rasa haru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Menghantarkan anak bungsu menuju gerbang kehidupan barunya membuat kami menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat. Anak yang dahulu berada dalam dekapan, kini telah sampai pada waktunya untuk membangun rumah tangganya sendiri.

Kami hanya bisa mengiringinya dengan doa. Semoga niat baik ini mendapat ridha Allah SWT. Semoga dua hati yang dipertemukan dapat menjadi pasangan yang saling menguatkan. Semoga dua keluarga yang hari ini dipertemukan dapat terus menjaga silaturahmi.

Dan semoga kelak tradisi luhur seperti Neundeun Omong dan Narosan tidak berhenti pada generasi kami, tetapi terus diwariskan kepada anak cucu sebagai bagian dari kekayaan budaya yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, budaya bukan sekadar apa yang kita warisi dari leluhur, tetapi apa yang kita rawat untuk diwariskan kembali kepada generasi setelah kita.

Alhamdulillah, satu tahapan telah kami lalui. Kini kami titipkan langkah berikutnya kepada waktu, keluarga, dan tentu saja kepada Allah SWT.

Semoga menjadi awal dari sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.***

 

Baca Lainnya

Peringatan Maulid Nabi di Rumah Qur’an DKM Masjid Annur Purigading Berlangsung Khidmat

6 September 2026 - 10:49 WIB

Dari Dapur Kecil ke Produksi 3.000 Bolu Sehari, Kisah Dermiyanti Menaklukkan Pasar Jambi

4 September 2026 - 21:04 WIB

Jakarta Butuh Hub Logistik

30 Agustus 2026 - 16:27 WIB

Manusia Di Antara Dua Setan 

30 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Radio Rimba Raya Resmi Ditetapkan Sebagai Situs Cagar Budaya

28 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Di Upacara Peringatan HUT ke 81 Jawa Tengah, Gubernur Ahmad Luthfi Pamer Keberhasilan

20 Agustus 2026 - 15:03 WIB

KKP Kibarkan Merah Putih di Perairan Teluk Banten

19 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

16 Agustus 2026 - 16:35 WIB

TNI dan Polisi Lepas Tembakan, Peringatan Hari Damai Aceh di Masjid Raya Baiturrahman jadi Ricuh

15 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Dari Lilitan Utang, Ibu Rini Kini Tekuni Bisnis Gitar dan Perjuangkan Masa Depan Anak

14 Agustus 2026 - 18:04 WIB

Trending di Uncategorized