Menu

Mode Gelap
Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata Puluhan Relawan Airnav Indonesia, Taspen, dan Jasindo Mengabdi di Boyolali Kereta Merdeka KAI Semarakkan HUT ke-81 RI, Ada Lomba hingga Upgrade Kelas Gratis Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

Uncategorized

Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

badge-check


 Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Perayaan Hari Didong Musara Gayo Jabodetabek di Jalan Keni Gayo, Setu, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (15/8/2026), tidak hanya menghadirkan pertunjukan Didong, tetapi juga menjadi ruang bagi para penyair Gayo untuk menyuarakan gagasan melalui puisi.

Penyair besar Indonesia asal Gayo, LK Ara, turut tampil membacakan puisi di hadapan para tamu dan masyarakat Gayo yang hadir. LK Ara, yang beberapa waktu lalu meraih penghargaan Penyair Afilihung dalam perhelatan Hari Puisi, tampil dengan karakter pembacaan yang kuat dan sarat makna.

Kehadiran LK Ara memberikan warna tersendiri bagi perayaan Hari Didong. Puisi yang dibacakannya menjadi bagian dari upaya mempertemukan tradisi sastra dengan seni Didong sebagai kekayaan budaya Gayo.

Selain LK Ara, penyair Salman Yoga juga tampil membacakan puisi bertema Radio Rimba Raya. Puisi tersebut mengangkat kembali ingatan sejarah tentang Radio Rimba Raya, yang memiliki tempat penting dalam perjalanan perjuangan Indonesia dan sejarah Aceh.

Penyair Salman Yoga baca puisi tentang Radio Rimba Raya.

Pembacaan puisi Salman Yoga berlangsung dalam suasana penuh perhatian. Tema Radio Rimba Raya tidak sekadar menjadi materi sastra, tetapi juga menjadi pengingat akan peran sejarah Gayo dan Aceh dalam mempertahankan keberadaan Republik Indonesia pada masa perjuangan.

Penampilan LK Ara dan Salman Yoga melengkapi kemeriahan Hari Didong Musara Gayo Jabodetabek. Seni tradisi Didong, puisi, dan berbagai ekspresi budaya berpadu dalam satu panggung yang memperlihatkan bahwa kebudayaan Gayo terus hidup dan berkembang.

Hari Didong pun tidak sekadar menjadi perayaan seni, tetapi menjadi momentum untuk merawat ingatan, identitas, dan kebanggaan budaya Gayo di tengah masyarakat perantauan.*** (Jasa)

Baca Lainnya

TNI dan Polisi Lepas Tembakan, Peringatan Hari Damai Aceh di Masjid Raya Baiturrahman jadi Ricuh

15 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Dari Lilitan Utang, Ibu Rini Kini Tekuni Bisnis Gitar dan Perjuangkan Masa Depan Anak

14 Agustus 2026 - 18:04 WIB

Bandara Husein Mulai Layani Pesawat Jet dengan 12 Rute Domestik

14 Agustus 2026 - 16:54 WIB

“Duta” Radio Rimba Raya Hadiri Transformasi Kreator Indonesia di RRI Pusat

13 Agustus 2026 - 13:55 WIB

Raup Suara Mayoritas Tantan Sulthon Nakhodai PWI Jabar Periode 2026-2031

13 Agustus 2026 - 12:31 WIB

Sri Mulyati Buat Kreasi Mozaik Bunga dari Plastik Bekas, Bukti Sampah Bisa Menjadi Karya Seni Bernilai

7 Agustus 2026 - 10:58 WIB

MK: Transparansi Penyebab Delay Pesawat Perlu Diperkuat

6 Agustus 2026 - 04:48 WIB

Hampir 42 Persen KA Jarak Jauh dari Gambir dan Pasar Senen Gunakan Kereta New Generation

5 Agustus 2026 - 13:07 WIB

Proyek Trans Sumatra Railway Tak Hanya Berorientasi Pada Pembangunan Rel

5 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Neno Warisman: Puisi Bukan Sekadar Rangkaian Kata, tetapi Cara Merawat Warisan Budaya

28 Juli 2026 - 22:39 WIB

Trending di Uncategorized