Wartatrans.com JAKARTA – Setelah sukses menggelar edisi perdana pada 2025, Santri Film Festival (Sanfest) 2026 kembali hadir dengan cakupan yang lebih luas. Festival tahun ini tidak hanya melibatkan lebih banyak peserta, tetapi juga membuka ruang bagi keterlibatan para praktisi perfilman lintas negara.
Mengusung tema “The Verses in Motion”, Sanfest 2026 membawa gagasan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an tidak berhenti pada teks dan pemahaman, tetapi dapat diterjemahkan menjadi gagasan, gerakan, serta karya yang relevan dengan kehidupan masyarakat hari ini.
Bagi Sanfest, film menjadi salah satu medium untuk mempertemukan dunia pesantren dengan persoalan kehidupan modern. Para santri didorong untuk melihat realitas di sekelilingnya, menemukan persoalan sosial maupun lingkungan, kemudian mengolahnya menjadi karya yang memiliki perspektif nilai-nilai Al-Qur’an.
Penggagas sekaligus Ketua Komite Sanfest, Neno Warisman, menjelaskan bahwa pendekatan yang ditawarkan kepada peserta tidak sekadar membuat film berdasarkan cerita-cerita yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Menurut Neno, setidaknya terdapat dua metode pendekatan yang dapat digunakan para santri.
Pertama, mencari solusi terhadap berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang ada di sekitar melalui sudut pandang Al-Qur’an. Kedua, menggali nilai dan hikmah dari kisah-kisah Al-Qur’an, kemudian merefleksikannya terhadap persoalan kehidupan modern.
“Jadi bukan memindahkan kisah-kisah dalam Al-Qur’an ke dalam film,” tegas Neno dalam jumpa pers di Ulik Coffee, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026).
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Sanfest ingin memberikan ruang kreativitas kepada santri untuk membaca kehidupan secara kontekstual. Al-Qur’an ditempatkan sebagai sumber nilai dan inspirasi dalam melihat realitas, sementara film menjadi bahasa kreatif untuk menyampaikan gagasan tersebut kepada masyarakat luas.
Mempertemukan Pesantren dan Dunia Film
Sanfest 2026 juga menghadirkan sejumlah nama dari dunia perfilman dan seni sebagai bagian dari rangkaian festival. Dalam jumpa pers tersebut, Neno didampingi Niniek L. Karim selaku juri, Festival Director Gus Achmad dan Fadhil, serta Mario Irwinsyah.
Kehadiran para praktisi film tersebut sekaligus menunjukkan upaya Sanfest membangun jembatan antara kreativitas generasi santri dengan pengalaman para pelaku industri perfilman.
Salah satu yang turut hadir adalah aktor Syakir Daulay. Ia memaparkan pengalamannya sebagai seorang bintang film yang pernah menjalani kehidupan sebagai santri ketika masih mondok.
Pengalaman Syakir menjadi bagian menarik dalam pembicaraan mengenai hubungan antara pesantren dan industri kreatif. Kehidupan pesantren tidak diposisikan sebagai ruang yang terpisah dari perkembangan zaman, melainkan dapat menjadi sumber pengalaman, nilai, dan perspektif yang kemudian dituangkan melalui karya seni dan film.

Dari Ayat Menjadi Gerakan
Melalui tema “The Verses in Motion”, Sanfest 2026 hendak mendorong lahirnya karya yang tidak hanya berbicara tentang nilai agama secara tekstual, tetapi juga menghubungkannya dengan realitas kehidupan.
Persoalan lingkungan, kehidupan sosial, perubahan zaman, hingga berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda dapat menjadi ruang bagi para santri untuk menerjemahkan nilai Al-Qur’an ke dalam bahasa visual.
Dengan demikian, film bagi Sanfest bukan semata-mata produk hiburan. Film dapat menjadi ruang refleksi, sarana menyampaikan gagasan, sekaligus media untuk memperlihatkan bagaimana nilai-nilai yang dipelajari di pesantren dapat hadir dalam kehidupan masyarakat.
Sanfest 2026 pun membawa pesan bahwa santri tidak hanya menjadi penonton perkembangan industri kreatif, tetapi juga dapat menjadi pelaku yang menghadirkan cerita, gagasan, dan perspektifnya sendiri melalui film.
Dari pesantren, ayat dibaca. Dari kehidupan, persoalan ditemukan. Dan melalui film, nilai-nilai itu kemudian digerakkan menjadi cerita yang berbicara kepada zaman.*** (Septi)


























