Wartatrans.com, JAKARTA – Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 pada 9-11 Oktober di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, menargetkan 145.000 penonton.
Ini mendorong strategi penyelenggara bergeser dari sekadar menjual tiket menuju perjalanan wisata terintegrasi.

PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) mengemas tiket balapan dengan penerbangan, akomodasi, transportasi, dan layanan perjalanan.
Direktur Operasi ITDC sekaligus Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 Troy Warokka mengatakan, strategi tersebut diarahkan untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan di Lombok.
“Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perjalanan wisata ke The Mandalika,” ujar Troy, Selasa (1/9/2026).
Model tersebut terlihat dalam penawaran MotoGP Mandalika 2026 melalui Garuda Indonesia Travel Fair 2026.
InJourney bersama Aero Globe Indonesia menawarkan Easy Package mulai Rp7,05 juta, MotoGP Experience Package mulai Rp8,87 juta, dan Lombok Experience Package mulai Rp9,58 juta per orang.
Paket tersebut menggabungkan penerbangan Garuda Indonesia Jakarta-Lombok pulang-pergi, tiket MotoGP tiga hari, akomodasi, transportasi, dan layanan perjalanan.
Skema itu menempatkan MotoGP sebagai bagian dari produk wisata, bukan sekadar agenda balapan.
Dari sisi udara, Garuda Indonesia, TransNusa, dan Pelita Air mendukung konektivitas menuju Lombok.
TransNusa meningkatkan frekuensi Denpasar-Lombok menjadi lima penerbangan per 10 Agustus 2026, sementara PT Dharma Lautan Utama menyediakan alternatif perjalanan laut Surabaya-Lombok-Surabaya.
Direktur Komersial InJourney Veronica H. Sisilia menyebutkan, integrasi produk diharapkan mendorong pertumbuhan transaksi sekaligus memperkuat sinergi antarmember.
“Melalui partisipasi ini, kami juga berharap dapat untuk mendorong pertumbuhan penjualan dan transaksi, sekaligus memperkuat brand dan sinergi antarmember dalam mendukung pariwisata nasional,” katanya.
Tantangannya adalah memastikan lonjakan aktivitas saat MotoGP berubah menjadi pergerakan ekonomi yang lebih panjang.
Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat mencatat tingkat penghunian kamar hotel bintang pada Mei 2026 sebesar 41,07%, dengan rata-rata lama menginap 1,86 hari.
Pada bulan yang sama, perjalanan wisatawan nusantara ke NTB mencapai 1.332.393 perjalanan.
Tingginya arus wisatawan domestik menunjukkan pasar perjalanan tersedia, tetapi rata-rata lama menginap yang masih di bawah dua hari memperlihatkan ruang untuk memperpanjang durasi kunjungan.
Data penyelenggaraan 2025 menunjukkan jumlah penonton mencapai 140.324 orang. Pemerintah kemudian mencatat dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2025 mencapai sekitar Rp4,96 triliun.
Risiko kawasan juga tidak hanya berasal dari siklus event. Gempa M7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 sempat memicu peringatan dini tsunami yang mencakup wilayah Nusa Tenggara Barat, sebelum peringatan tersebut diakhiri BMKG pada pukul 07.30 WIB.
Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa ketahanan konektivitas dan kesiapan kebencanaan juga menjadi bagian dari kualitas destinasi wisata di kawasan Nusa Tenggara. Bagi event berskala internasional, kemampuan menjaga akses, informasi, transportasi, dan rasa aman wisatawan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata yang tidak bisa dipisahkan dari target kunjungan.
ITDC juga menyiapkan 90 kamar di Merumatta Senggigi dan 55 kamar di Prime Park Lombok untuk periode 9-12 Oktober 2026. Pilihan akomodasi di luar Mandalika menunjukkan upaya menyebarkan pergerakan wisatawan, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada akses, harga, dan kemudahan transportasi.
MotoGP Mandalika 2026 menghadapi ukuran yang lebih besar dari sekadar jumlah penonton.
Tantangannya adalah mengubah mobilitas event menjadi lama tinggal, belanja wisatawan, dan aktivitas ekonomi lokal yang bertahan setelah suara mesin balap berhenti. (Artha Tidar)
































