Menu ✖

Mode Gelap
Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja KAI Angkut 191 Ribu Ton Barang Retail hingga September 2026, Dorong Efisiensi Logistik Kemenhub dan Kemenlu Fasilitasi Kepulangan 4 Awak Kapal Korban Pembajakan di Somalia Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo B50 Jadi Program Utama KAI, Target Pangkas Emisi 133.676 Ton CO₂e Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

SENI BUDAYA

Bumi Atsanti, Ruang Harmoni dan Kearifan Lokal Tumbuh di Tengah Sawah Borobudur

badge-check


 Bumi Atsanti, Ruang Harmoni dan Kearifan Lokal Tumbuh di Tengah Sawah Borobudur Perbesar

Wartatrans.com, MAGELANG — Di tengah hamparan sawah yang menghijau di Dusun Bumi Segoro, Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sebuah ruang kebudayaan bernama Bumi Atsanti terus tumbuh menjadi tempat bertemunya seni, kreativitas, pendidikan dan kearifan lokal.

Bumi Atsanti yang dirintis Yayasan Atma Nusantara Jati itu menjadi ruang interaksi masyarakat melalui berbagai kegiatan seni dan budaya. Pada Jumat (21/8/2026), suasana kawasan tersebut semarak dengan aktivitas anak-anak dan komunitas yang belajar sekaligus bermain dengan memanfaatkan berbagai unsur tradisi lokal.

Pengurus sekaligus pemilik Bumi Atsanti, Ibu Dhani, mengatakan keberadaan ruang tersebut berangkat dari tanggung jawab moral untuk ikut memajukan edukasi masyarakat Borobudur, khususnya melalui kreativitas seni.

“Kami memikul tanggung jawab moral untuk memajukan edukasi di Borobudur, khususnya dalam kreativitas seni, terutama gerabah dan tanah liat,” ujarnya.

Menurut dia, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sumbangsih bagi penguatan kualitas sumber daya manusia, terutama generasi muda agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.

“Harapan kami, ini menjadi sumbangsih bagi peradaban dan kualitas sumber daya manusia, agar pemuda setempat mampu berjalan beriringan dengan perubahan zaman serta terus menumbuhkan inovasi yang tidak terputus dari akar budaya sendiri,” katanya.

Bermain dan Belajar dari Kearifan Lokal

Kegiatan di Bumi Atsanti tidak hanya menghadirkan aktivitas seni, tetapi juga menghidupkan kembali permainan tradisional yang mulai jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak.

Suasana semakin meriah dengan permainan musik menggunakan perkusi berbahan gerabah. Di sisi lain, anak-anak belajar melukis permukaan tanah liat yang telah dibentuk.

Aktivitas tersebut dilakukan bersama Yoyok dan Rika dari Omah Sawah Borobudur. Anak-anak juga diajak memainkan permainan tradisional seperti gangsing dan engklek.

Permainan tradisional itu tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi menjadi media pembelajaran untuk memperkenalkan kembali warisan budaya kepada generasi muda.

Keberadaan Bumi Atsanti sekaligus menjadi jawaban atas kebutuhan ruang publik bagi masyarakat di sekitar kawasan Borobudur untuk berekspresi dan mengembangkan kreativitas.

Di tengah status Borobudur sebagai kawasan warisan budaya dan destinasi wisata dunia, masyarakat lokal membutuhkan ruang yang memungkinkan kebudayaan tumbuh dari komunitasnya sendiri. Bumi Atsanti mencoba mengambil peran tersebut dengan menyediakan ruang bagi masyarakat, anak-anak, seniman dan komunitas untuk berkarya.

Lemah Urip Rawat Tradisi Gerabah

Semangat pelestarian budaya juga terlihat dari aktivitas komunitas Lemah Urip. Jepe dan Wulan membuka stan gerabah sekaligus menggelar lomba mewarnai gerabah berbentuk mini vas bunga.

Kegiatan sederhana tersebut memperlihatkan bahwa tradisi membuat gerabah masih memiliki tempat di tengah generasi muda.

Gerabah tidak hanya dipandang sebagai benda kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan dan identitas masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui kegiatan kreatif seperti mewarnai gerabah, anak-anak diperkenalkan pada tanah liat dengan cara yang menyenangkan. Dari aktivitas itu, muncul ruang untuk mengenal proses, kreativitas sekaligus nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Relawan Mesir Temukan Harmoni di Borobudur

Keberagaman peserta juga menjadi warna tersendiri dalam kegiatan Bumi Atsanti. Salah satunya adalah Osama, relawan asal Mesir yang saat ini menempuh pendidikan jurusan Fisioterapi di UMS Surakarta.

Kehadiran Osama menunjukkan bahwa ruang kebudayaan dapat menjadi jembatan perjumpaan lintas negara dan latar belakang.

Bagi Osama, Borobudur bukan hanya sebuah kawasan yang memiliki peninggalan sejarah besar. Borobudur juga menjadi ruang untuk membangun silaturahmi, berekspresi, bereksplorasi dan memahami kehidupan melalui seni serta budaya.

Interaksi tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan memiliki kemampuan untuk mempertemukan manusia tanpa dibatasi oleh perbedaan negara, bahasa maupun latar belakang.

Budaya Membutuhkan Ruang

Bumi Atsanti pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang sebuah tempat berkegiatan. Lebih jauh, keberadaannya menjadi gambaran tentang pentingnya ruang bagi masyarakat untuk menjaga kebudayaan.

Budaya akan tetap hidup ketika masyarakat memiliki kesempatan untuk mempraktikkan, mengembangkan dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Di antara tanah liat, permainan tradisional, hamparan sawah dan aktivitas komunitas, Bumi Atsanti mencoba membangun ekosistem kecil yang mempertemukan pendidikan, seni, lingkungan dan kearifan lokal.

Dari ruang sederhana di tengah sawah Borobudur itu, masa depan kebudayaan lokal sedang dirawat. Bukan hanya melalui benda-benda peninggalan, tetapi melalui manusia yang terus belajar, berkarya dan menjaga hubungan dengan akar budayanya.

Karunia terbesar sebuah peradaban bukanlah batu yang disusun menjadi candi, melainkan jiwa-jiwa yang terus menjaga, merawat dan meneruskannya dari tanah, untuk alam, dan bagi sesama manusia.*** (Priyo)

Baca Lainnya

Zulfikar Kirbi, Seni Harus Terus Mengalir, Jangan Sampai Berhenti

7 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 Hadirkan Semangat Persahabatan Lintas Negara di USK

7 Oktober 2026 - 12:38 WIB

118 Bus Shuttle DAMRI Siap Layani Mobilitas Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026

6 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Kehadiran MotoGP Mandalika 2026 Perluas Jaringan Transportasi Lombok

6 Oktober 2026 - 05:04 WIB

Sembilan Tahun Ruang Baca, Doa untuk Negeri Mengiringi Perayaan

5 Oktober 2026 - 21:37 WIB

Komunitas Ruang Baca Rayakan HUT ke-9 Lewat Galeri Esai di Warung Kopi

5 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Aceh Tengah Bersama Kodim 0106 Raih Juara Stand Terbaik Indonesia Fest 2026

5 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Wahyu Zein, Penyany Sekaligus Komposer Rilis EP dan Sukses Tembus 8 Ribuan Montly Listeners di Spotify

5 Oktober 2026 - 08:25 WIB

Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 Digelar di USK, Hadirkan Seniman dari Berbagai Negara

5 Oktober 2026 - 08:13 WIB

Tanjung Lesung Kini Terhubung Dengan Bandara Soekarno-Hatta Melalui Layanan DAMRI

4 Oktober 2026 - 17:52 WIB

Trending di JALUR