Wartatrans.com, JAKARTA – Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026 datang ketika kebutuhan industri nasional dikejar kesiapan energi, teknologi, dan infrastruktur terus membesar.
Di Jakarta, rangkaian ini menargetkan lebih dari 75.000 trade attendees, melibatkan 2.000+ perusahaan dari 39 negara/wilayah dan menempati area lebih dari 108.000 meter persegi di JIExpo Kemayoran.

Energy Week pada 2–5 September 2026 mempertemukan sektor ketenagalistrikan, baterai, dan data center.
Engineering Week pada 9–12 September membawa pertambangan, konstruksi, migas, air, metalurgi, serta manajemen kebencanaan dalam satu ekosistem.
Skala tersebut menunjukkan persoalan industri kini tidak berdiri sendiri. Pabrik baterai membutuhkan listrik yang andal, teknologi produksi, sumber daya manusia, utilitas, logistik, dan rantai pasok, sementara pertumbuhan data center dan hilirisasi menambah tekanan terhadap kebutuhan energi.
Deputy Event Director Pamerindo Indonesia Hanung Hanindito mengatakan, pertumbuhan IEE mencerminkan kebutuhan pelaku industri untuk mempertemukan teknologi dan kebutuhan proyek.
“Dengan 2.000+ perusahaan peserta dan target lebih dari 75.000 trade attendees, kami melihat kebutuhan yang semakin besar terhadap ruang yang dapat mempertemukan pelaku industri, penyedia teknologi, dan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Hanung di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Namun, besarnya investasi dan kapasitas produksi belum otomatis membuat Indonesia menguasai teknologi baterai. Prof. Evvy Kartini, Founder National Battery Research Institute (NBRI), mengatakan Indonesia perlu memperkuat kemampuan domestik agar peluang sumber daya mineral dan investasi berubah menjadi keunggulan industri.
“Indonesia perlu memperkuat riset, inovasi, dan penguasaan teknologi, serta membangun kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, industri, dan lembaga riset,” kata Evvy di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Tantangan serupa terlihat pada agenda energi bersih yang akan menopang pertumbuhan industri. Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa pada Sabtu (15/8/2026) menekankan kesiapan implementasi target pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW).
“Target PLTS 100 GW bukan hanya persoalan membangun pembangkit, tetapi juga membutuhkan kesiapan jaringan, penyimpanan energi, sumber daya manusia, serta rantai pasok,” kata Fabby.
Kesiapan tersebut menjadi penting ketika kebutuhan listrik industri terus bertambah. Transisi energi tidak hanya menuntut tambahan kapasitas energi bersih, tetapi juga jaringan, digitalisasi, penyimpanan, dan kemampuan industri domestik.
IEE 2026 karena itu relevan dibaca sebagai cermin kesiapan ekosistem industri. Jika investasi baterai, data center, dan hilirisasi terus bertambah, keunggulan Indonesia akan ditentukan bukan hanya oleh kepemilikan mineral, tetapi juga kemampuan memasok energi andal, menguasai teknologi, dan membangun engineering domestik.
Tekanan ini membuat agenda keberlanjutan harus dibaca bersama efisiensi biaya dan kepastian pasokan energi. Bagi pelaku usaha, persoalan tersebut menentukan biaya produksi, kepastian investasi, dan daya saing ekspor.
Transformasi industri akan bernilai ekonomi jika kapasitas yang dibangun dapat beroperasi efisien, terserap pasar, dan menghasilkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri. (Artha Tidar)
































