Menu ✖

Mode Gelap
Suyudi Ario Seto Disetujui DPR Jadi Kapolri, Gantikan Listyo Sigit Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik Tanam 10 Pala Tomandin di SMA Don Bosco Fakfak, Siswa Belajar Ketangguhan di Tengah El Nino KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer KKP Percepat Sertifikasi Awak Kapal Perikanan melalui Modernisasi Pelatihan

RAGAM

Generasi Muda Harus Jadi Motor Transformasi Energi Nasional

badge-check


 Generasi Muda Harus Jadi Motor Transformasi Energi Nasional Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Upaya mencapai kemandirian dan kedaulatan energi Indonesia membutuhkan keterlibatan generasi muda. Kaum muda dinilai tidak cukup hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi harus tampil sebagai bagian penting dalam menciptakan solusi atas berbagai tantangan sektor energi.

Pandangan tersebut disampaikan akademisi Universitas Muhammadiyah Indonesia, Dr. Rasminto, saat memberikan pemaparan kepada peserta Pertamina Youth Program 2026 di Bogor, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Rasminto, Indonesia mempunyai sumber daya energi yang melimpah dan beragam. Potensi tersebut, kata dia, harus diikuti dengan kemampuan nasional dalam mengolah sumber energi menjadi kekuatan ekonomi, mulai dari produksi, pembangkitan, distribusi, hilirisasi hingga pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

“Generasi muda memiliki posisi yang sangat penting dalam menentukan arah energi Indonesia. Mereka bukan hanya generasi penerus, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menjadi pelaku utama perubahan,” ujar Rasminto.

Ia menjelaskan, perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadi peluang bagi anak muda untuk masuk lebih jauh ke sektor energi. Kemampuan beradaptasi, kreativitas, penguasaan teknologi, serta keberanian menciptakan terobosan menjadi modal yang sangat dibutuhkan.

Rasminto menyebut setidaknya ada empat ruang strategis yang dapat diisi generasi muda, yakni inovasi, penggerakan masyarakat, pengembangan talenta, dan penguatan pengawasan.

Dalam bidang inovasi, misalnya, anak muda dapat mengembangkan berbagai solusi berbasis teknologi. Mulai dari startup energi, sistem digital, teknologi penyimpanan energi, bioenergi, EBT, hingga teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

“Pemuda harus didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menciptakan teknologi dan solusi yang menjawab persoalan energi Indonesia,” katanya.

Sementara dalam kehidupan masyarakat, generasi muda dapat mengambil peran sebagai penggerak perubahan perilaku. Kampanye penghematan energi, pemanfaatan energi yang lebih efisien, elektrifikasi, hingga mendorong penggunaan produk dan teknologi energi buatan dalam negeri merupakan sejumlah langkah yang bisa dilakukan.

Selain inovasi, Rasminto menilai pembangunan talenta menjadi kebutuhan mendesak. Transformasi sektor energi membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai perkembangan industri.

Karena itu, menurutnya, penguatan pendidikan vokasi, riset, sertifikasi profesi, kewirausahaan, serta pengembangan lapangan kerja hijau atau green jobs harus mendapat perhatian.

“Kalau kita ingin membangun kemandirian energi, maka kualitas manusianya juga harus dipersiapkan. Infrastruktur saja tidak cukup tanpa didukung talenta yang mampu mengoperasikan, mengembangkan dan menciptakan inovasi baru,” tuturnya.

Rasminto juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mengawal tata kelola energi. Menurutnya, persoalan energi bukan hanya menyangkut ketersediaan sumber daya, tetapi juga berkaitan dengan kualitas pengelolaan, integrasi data, koordinasi antarinstansi, transparansi dan pengawasan.

Generasi muda, lanjut dia, perlu memiliki kemampuan membaca dan memahami data sehingga dapat ikut memberikan masukan terhadap kebijakan energi secara konstruktif.

“Partisipasi pemuda dalam pengawasan bukan berarti mengambil alih kewenangan pemerintah. Justru kehadiran mereka dapat memperkuat kontrol sosial dan mendorong tata kelola yang lebih terbuka serta akuntabel,” jelasnya.

Ia menambahkan, persoalan ketergantungan terhadap energi impor juga harus menjadi perhatian bersama. Ketika kebutuhan energi nasional tidak mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap devisa dan ketahanan ekonomi nasional.

Karena itu, agenda swasembada energi harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas nasional, baik dari sisi teknologi, industri maupun sumber daya manusia.

“Ketahanan energi tidak bisa dibangun hanya dengan menambah infrastruktur. Kita membutuhkan manusia yang memiliki kemampuan menciptakan, mengelola, mengembangkan sekaligus mengawasi ekosistem energi nasional,” ungkap Rasminto.

Ia berharap pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha dan berbagai pemangku kepentingan memberikan ruang yang lebih luas kepada generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan sektor energi.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor akan membuka kesempatan bagi anak muda untuk mengembangkan gagasan menjadi inovasi yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat.

“Pemuda jangan ditempatkan hanya sebagai objek pembangunan. Mereka harus diberikan ruang untuk menjadi subjek yang ikut menentukan masa depan energi Indonesia,” pungkasnya.*** (Byl)

Baca Lainnya

AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik

1 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara

1 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎

1 Oktober 2026 - 03:08 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Dukung Program Presiden Prabowo, KKP Siapkan Produk Perikanan untuk Menu MBG

30 September 2026 - 18:39 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

KPU Fakfak Tetapkan Data Pemilih Triwulan III 2026, Naik 808 Jiwa

30 September 2026 - 13:41 WIB

Yanuar Cecar Eks Kalapas Cibinong: Sofa hingga AC Hilang, Siapa yang Perintah?

30 September 2026 - 12:34 WIB

Dari 10 Jamaah Menjadi 651, Majelis Taklim Ar Rahmah Rangkul Jemaah Syiar Islam Bersama

30 September 2026 - 12:19 WIB

Dari Control Room ke Lapangan, Peserta Magenta Intip Langsung Operasional IPC TPK

30 September 2026 - 11:13 WIB

Trending di ANJUNGAN