Wartatrans.com, JAKARTA – Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya menjadi panggung perebutan gelar juara dunia, tetapi juga arena persaingan bisnis Adidas AG dan Nike Inc. Final turnamen memperkuat posisi Adidas setelah dua finalis, Spanyol dan Argentina, sama-sama menggunakan perlengkapan Adidas.
Namun, di pasar Indonesia, Nike tetap memiliki fondasi bisnis kuat melalui jaringan ritel, distribusi, dan rantai pasok industri olahraga.

Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina 1-0 pada laga final. Keberhasilan tersebut memberi keuntungan pemasaran bagi Adidas karena merek asal Jerman itu tampil pada dua tim finalis sekaligus mendampingi tim juara mengangkat trofi.
Eksposur global tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap jersey resmi dan produk sepak bola.
Kemenangan dalam turnamen besar menjadi aset pemasaran penting bagi industri olahraga.
Hubungan emosional antara penggemar dan tim juara dapat memperkuat loyalitas konsumen terhadap sebuah merek.
Sementara itu, Nike tidak memperoleh momentum simbolik serupa karena tidak memiliki tim pengguna produknya yang menjadi juara.
Meski demikian, persaingan Adidas dan Nike tidak hanya ditentukan oleh hasil pertandingan.
Kekuatan bisnis kedua perusahaan juga bergantung pada distribusi, inovasi produk, serta kemampuan mempertahankan pasar.
Di Indonesia, Adidas dan Nike tidak membuka angka penjualan khusus nasional dalam laporan keuangan globalnya.
Karena itu, kekuatan pasar lebih tepat dilihat melalui jaringan distribusi dan ekosistem bisnis.
Adidas menjalankan bisnis melalui PT adidas Indonesia dengan dukungan jaringan ritel resmi dan mitra distribusi untuk kategori sepak bola, lari, serta gaya hidup.
Nike memperkuat pasar Indonesia melalui jaringan ritel olahraga. PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) menjadi salah satu pemain penting dalam ekosistem penjualan produk olahraga, termasuk Nike melalui berbagai kanal ritel.
MAPA mencatat pendapatan bersih tahun 2025 sebesar Rp43,1 triliun dengan laba bersih Rp2,7 triliun, meski tidak merinci kontribusi masing-masing merek.
Dari sisi manufaktur, Indonesia tetap menjadi bagian penting rantai pasok olahraga global.
Pemerintah mencatat industri alas kaki nasional menyumbang sekitar 1,2 persen terhadap PDB industri pengolahan pada kuartal III 2025 dan menyerap sekitar 921 ribu tenaga kerja.
Nilai ekspor alas kaki Indonesia pada 2024 mencapai US$7,28 miliar, tumbuh 13,13 persen.
Pengamat Ekonomi STIE Jambi Noviardi Ferzi dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026), menilai industri olahraga kini mengandalkan kekuatan merek.
“Persaingan nilai pasar jersey global membuktikan bahwa daya tarik ekonomi tidak lagi hanya ditentukan oleh prestasi teknis di lapangan, tetapi juga oleh kekuatan narasi merek dan keterikatan emosional konsumen,” kata Noviardi.
Piala Dunia 2026 menunjukkan Adidas memenangkan momentum global, sementara Nike tetap kuat di Indonesia.
Tantangan Indonesia berikutnya adalah meningkatkan nilai tambah agar tidak hanya menjadi basis produksi, tetapi juga pusat inovasi industri olahraga. (Artha Tidar)































