Wartatrans.com, JAKARTA – Fenomena watchalong Piala AFF 2026 melalui YouTube menunjukkan perubahan cara masyarakat menikmati tayangan olahraga.
Pertandingan sepak bola tidak lagi hanya dikonsumsi melalui televisi, tetapi berkembang menjadi pengalaman digital yang menggabungkan hak siar resmi, platform daring, dan interaksi bersama kreator konten.

Perubahan tersebut terlihat dalam kolaborasi resmi antara MNC Group, pemegang hak siar Piala AFF 2026, dengan Muhammad Reza Oktovian atau dikenal sebagai Reza Arap, kreator konten, musisi, dan salah satu pendiri WEIRD GENIUS.
Format ini menghadirkan pengalaman menonton alternatif melalui YouTube tanpa menggantikan tayangan utama yang tetap tersedia melalui kanal resmi televisi.
Pada laga Indonesia melawan Kamboja, Senin (27/7/2026), format watchalong Reza mencatat puncak 1,2 juta penonton bersamaan (concurrent viewers), menggambarkan besarnya minat audiens terhadap pola konsumsi siaran olahraga berbasis digital.
Reza mengatakan, kolaborasi tersebut menghadirkan perbedaan dibandingkan siaran reaksi yang sebelumnya banyak dilakukan kreator.
“Biasanya kalau membuat live reaction, kita tidak boleh menampilkan suara siaran. Nah, kali ini berbeda,” ujar Reza.
Hal itu juga menjadi bagian dari strategi pemegang hak siar. Director of Programming and Acquisition MNC Media Dini Putri pada acara tersebut menyebut keterlibatan kreator menjadi langkah baru dalam distribusi konten olahraga.
“Ini sesuatu yang baru dilakukan pertama kali di Indonesia, di mana seorang YouTuber akan menjadi bagian dari penyelenggaraan dan penayangan sebuah event yang sangat ditunggu-tunggu, yaitu AFF Hyundai Cup 2026,” kata Dini.
Masuknya kreator ke dalam rantai distribusi resmi membuat nilai sebuah pertandingan olahraga ikut mengalami perubahan.
Hak siar tetap menjadi aset utama, tetapi kemampuan membangun keterlibatan audiens melalui platform digital menciptakan peluang bisnis baru melalui iklan digital, sponsor, konten bermerek, hingga aktivasi komunitas.
Kajian Pricewaterhouse Coopers (PwC), jaringan jasa profesional global asal Inggris melalui laporan Global Entertainment & Media Outlook 2026–2030, menunjukkan konsumsi digital menjadi salah satu penggerak utama industri hiburan dan media.
Perusahaan media kini tidak hanya bersaing menjual tayangan, tetapi juga membangun hubungan dengan komunitas audiens melalui berbagai platform.
Di sisi regulasi, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menilai perkembangan tersebut harus berjalan bersama perlindungan kepentingan publik dan etika penyiaran.
Komisioner KPI Pusat bidang Pengawasan Isi Siaran Tulus Santoso pada Juli 2026 mengatakan televisi tetap memiliki peran penting dalam menjamin akses masyarakat, sementara platform digital menjawab kebutuhan penonton yang semakin mobile.
“Secara tujuan, aspek demokratisasi dan pemenuhan hak publik untuk mendapatkan siaran (hiburan) sudah terpenuhi. Penyiaran melalui TV free to air menjamin masyarakat di daerah pelosok atau terdepan tetap bisa menonton gratis. Sementara di YouTube memfasilitasi kebutuhan generasi muda dan pemirsa mobile,” ungkap Tulus.
Fenomena AFF 2026 memperlihatkan masa depan siaran olahraga,bukan berada pada persaingan antara televisi dan platform digital, melainkan pada kemampuan mengintegrasikan keduanya.
Televisi menjaga nilai hak siar, sementara ekosistem digital memperluas jangkauan dan nilai ekonomi melalui keterlibatan audiens. (Artha Tidar)































