Wartatrans.com, JAKARTA – Minggu (19/7/2026), Pau Cubarsí dinobatkan sebagai penerima FIFA Young Player Award setelah membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026. Bek Barcelona berusia 19 tahun itu menjadi salah satu penentu kemenangan 1-0 atas Argentina melalui babak perpanjangan waktu pada final di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat.
Pau Cubarsí Paredes lahir di Estanyol, Provinsi Girona, Catalunya, pada 22 Januari 2007. Lulusan akademi La Masia itu dikenal memiliki kemampuan membaca permainan, tenang saat menguasai bola, dan piawai membangun serangan dari lini belakang. Menurut FIFA, kekuatan utamanya terletak pada football intelligence, yakni kemampuan mengambil keputusan secara tepat dalam situasi bertekanan tinggi.

Kontribusinya di Piala Dunia 2026 tercermin dalam statistik resmi FIFA. Hingga partai final, ia membukukan 547 umpan sukses, terbanyak kedua di turnamen setelah kapten Spanyol Rodrigo Hernández Cascante (Rodri) dengan 648 umpan sukses. Dari 566 percobaan umpan, hanya 19 yang gagal mencapai sasaran sehingga akurasi umpannya mencapai 97 persen, tertinggi bersama Cristian Romero di antara pemain dengan volume umpan tinggi sepanjang turnamen. Tak ada bek lain yang mengalirkan bola sebanyak itu dengan tingkat akurasi setinggi yang dibukukan Cubarsí.
Pada laga pamungkas, Cubarsí berduet dengan Aymeric Laporte di jantung pertahanan La Roja. Laporte menghadirkan pengalaman di level internasional, sedangkan bek muda itu memberi ketenangan sekaligus akurasi distribusi bola. Kolaborasi keduanya membatasi ruang gerak Lionel Messi dan lini depan Argentina sepanjang waktu normal, meski Albiceleste beberapa kali mengancam melalui serangan balik.
Titik balik pertandingan terjadi pada menit 90+2. Cubarsí memotong aliran bola lawan lalu membawa bola keluar dari lini pertahanan Spanyol untuk memulai serangan. Enzo Fernández, pemain lawan terdekat, berusaha menghentikan laju Cubarsí dengan tekel keras. Akibat pelanggaran tersebut, gelandang Chelsea itu menerima kartu kuning kedua dari wasit Slavko Vinčić yang berujung kartu merah sehingga Albiceleste harus menjalani babak perpanjangan waktu dengan 10 pemain.
Keunggulan jumlah pemain mengubah arah pertandingan. Spanyol mengambil alih kendali permainan dan terus menekan pertahanan Argentina. Memasuki babak tambahan, pelatih Luis de la Fuente menarik Aymeric Laporte dan memasukkan Martín Zubimendi untuk menyegarkan tim, sementara Cubarsí tetap dipercaya mengawal lini belakang hingga peluit panjang. Tekanan tersebut akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-106 ketika Ferran Torres mencetak gol penentu yang memastikan kemenangan sekaligus mengakhiri penantian 16 tahun Spanyol untuk kembali menjadi juara dunia.
Paradoks pun tercipta di New York New Jersey Stadium. Enzo, yang empat tahun sebelumnya meraih penghargaan Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2022, justru menjadi titik balik kekalahan Albiceleste. Sebaliknya, Cubarsí membawa pulang penghargaan yang sama setelah mengantar Spanyol menjadi juara dunia. Dalam rentang empat tahun, penghargaan pemain muda terbaik berpindah dari Argentina ke Spanyol, sekaligus menandai lahirnya generasi baru di panggung sepak bola dunia.
Menariknya, perjalanan Cubarsí memiliki jejak di Indonesia. Tiga tahun sebelum berdiri di puncak sepak bola dunia, ia tampil bersama Spanyol di Stadion Manahan, Solo, pada Piala Dunia U-17 2023 hingga babak perempat final.
Dari Solo hingga panggung final Piala Dunia, perjalanan Cubarsí menunjukkan bahwa pembinaan usia muda bukan sekadar investasi jangka panjang, melainkan fondasi yang mampu melahirkan pemain hingga mencapai puncak sepak bola dunia.***
(Artha Tidar)






























