Wartatrans.com, JAKARTA – RANS Entertainment membuka peluang menayangkan Indonesia Women’s League (IWL) 2026/2027 setelah menguji distribusi pertandingan melalui Srikandi Merdeka Cup 2026.
Penjajakan ini memperlihatkan perubahan pasar siaran olahraga, dari sekadar menjual tayangan menuju perebutan perhatian audiens di berbagai platform.

CEO RANS Entertainment Nagita Slavina mengatakan pengalaman tersebut membuka peluang memperluas konten olahraga di RANS.
“Semoga ke depannya memang banyak akan ada lebih banyak lagi di RANS Entertainment, didoain. Salah satunya Liga Putri, mohon doanya semoga lancar,” kata Nagita di Kantor I.League, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
PSSI belum memastikan RANS sebagai pemegang hak siar. Anggota Komite Eksekutif PSSI Vivin Cahyani Sungkono mengatakan pembicaraan masih menyangkut aspek komersial, administrasi dan durasi kontrak.
“Pembicaraan sih sudah positif, tapi memang kami masih jajaki lagi kan secara komersialnya bagaimana, paperwork-nya bagaimana, kontraknya berapa lama. Tapi sudah mengerucut ke arah sana,” ujar Vivin.
Pengalaman Srikandi menjadi dasar penjajakan tersebut.
“Dan sebagai trial, kita coba dulu sebelum ke Liga Putri, kita coba dulu dengan Srikandi Merdeka Cup dan hasilnya memang di luar ekspektasi,” katanya.
Respons digitalnya juga memberi sinyal awal. Saat Indonesia U-16 menghadapi Arab Saudi pada Jumat (14/8/2026), tayangan melalui YouTube RANS sebagai official partner mencatat lebih dari 100.000 penonton.
“Terakhir tadi kami cek sudah lebih dari 100.000 yang nonton,” ujar dia.
IWL resmi dimulai 17 Oktober 2026 dan diikuti enam klub. Kompetisi digelar terpusat di Jakarta, sehingga distribusi pertandingan memiliki basis produksi yang relatif terkonsentrasi.
Perubahan perilaku penonton membuat distribusi multiplatform menjadi bagian penting dari bisnis olahraga.
Pada Juli lalu, pengamat Ekonomi Digital sekaligus Direktur EYF Indonesia Muhammad Faisal Saihitua menilai, “era di mana satu kanal bisa menjangkau semua orang telah berlalu.”
Menurut dia, pelaku usaha perlu mendistribusikan konten dan belanja iklan secara lebih merata lintas platform, dimulai dari media sosial hingga streaming, dari YouTube maupun podcast.
Pandangan itu membuat IWL menghadapi ujian yang lebih besar daripada sekadar menemukan broadcaster. Lebih dari 100.000 penonton pada satu laga Srikandi merupakan sinyal pasar, tetapi nilai hak siar liga bergantung pada kemampuan mempertahankan audiens sepanjang musim.
Faisal sebelumnya juga menekankan olahraga dapat menghasilkan nilai “bukan hanya dari sisi tontonan, tetapi juga dari sisi bisnis olahraga.”
Dengan demikian, peluang RANS menjadi bagian dari perubahan ekosistem broadcast match Indonesia. IWL akan menguji apakah sepak bola putri mampu mengubah perhatian digital menjadi penonton rutin, lalu menjadi nilai komersial yang berkelanjutan. (Artha Tidar)































