Menu

Mode Gelap
Karnaval Maulid di Pekalongan Disorot, Atraksi Diduga Mirip Ritual Satanik Menelusuri Jejak Willem I hingga Jalur Bergerigi, Museum Ambarawa Simpan Sejarah Panjang Kereta Api Pelindo Regional 4 Perkuat Keamanan Pelabuhan melalui Sertifikasi PFSO FIFGROUP Raih Penghargaan GP2SP DKI Jakarta KAI 81 Tahun, Perjalanan Tiket Kereta dari Loket hingga Access by KAI Pelindo Regional 4 Gandeng BNN Edukasi Antinarkoba di Kalangan Pelajar

PERISTIWA

Karnaval Maulid di Pekalongan Disorot, Atraksi Diduga Mirip Ritual Satanik

badge-check


 Karnaval Maulid di Pekalongan Disorot, Atraksi Diduga Mirip Ritual Satanik Perbesar

Wartatrans.com, PEKALONGAN — Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan, Jawa Tengah, menuai kontroversi. Karnaval yang digelar dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu menjadi sorotan setelah sejumlah atraksi bernuansa mistik dan menyeramkan beredar di media sosial.

Yang paling mengundang perhatian adalah kemunculan simbol-simbol yang oleh sebagian masyarakat dinilai menyerupai simbol satanik, disertai atraksi teatrikal penyembelihan hewan yang dikemas dalam suasana horor.

Kontroversi tersebut kemudian mendapat perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI). Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, menilai kreativitas seni dalam sebuah karnaval tetap memiliki ruang, tetapi harus mempertimbangkan nilai edukasi dan konteks kegiatan yang menyertainya.

“Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi. Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW,” tegas Cholil.

Menurut dia, Maulid Nabi semestinya menjadi momentum untuk menghadirkan kegembiraan yang mendidik sekaligus memperkuat keimanan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Kegiatan seperti pembacaan Al-Qur’an, shalawat, pengajian, kisah keteladanan Nabi, serta berbagai aktivitas sosial dinilai lebih mencerminkan substansi peringatan Maulid.

Adegan Penyembelihan Dipersoalkan

Salah satu bagian yang turut menjadi sorotan adalah adegan penyembelihan kambing. Adegan tersebut ditampilkan sebagai bagian dari pertunjukan dan kemudian viral setelah rekamannya tersebar di media sosial.

Cholil menilai penyembelihan hewan yang dilakukan dengan cara yang tampak tidak beradab dan dijadikan tontonan bernuansa horor merupakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Menurutnya, hewan dalam perspektif syariat tetap harus diperlakukan dengan baik. Penyembelihan tidak semestinya dijadikan tontonan yang mengeksploitasi kekerasan atau menimbulkan ketakutan.

Polemik semakin berkembang karena sebagian warganet menyebut sejumlah visual dalam karnaval tersebut menyerupai ritual satanik.

Namun demikian, istilah “ritual satanik” perlu ditempatkan secara proporsional. Sejauh informasi yang tersedia, belum terdapat bukti atau keterangan resmi yang menyatakan bahwa penyelenggara SKNC benar-benar melakukan ritual satanik. Yang menjadi kontroversi adalah atraksi, kostum, simbol, dan adegan yang oleh sebagian pihak dinilai memiliki kemiripan dengan simbol atau nuansa ritual tersebut.

Antara Seni, Tradisi dan Maulid

SKNC merupakan bagian dari tradisi masyarakat Simbang Kulon yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Kegiatan tersebut menjadi ruang ekspresi budaya dan kreativitas masyarakat, sekaligus dikaitkan dengan rangkaian peringatan Maulid Nabi.

Pada pelaksanaan 2026, karnaval melibatkan puluhan kelompok masyarakat dengan beragam bentuk penampilan dan kreativitas.

Pemerintah daerah sebelumnya menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi, kebersamaan dan persaudaraan masyarakat.

Namun, munculnya atraksi bernuansa mistik membuat substansi kegiatan kemudian bergeser menjadi perdebatan publik.

Bagi MUI, persoalannya bukan terletak pada karnaval atau ekspresi seni itu sendiri. Yang dipersoalkan adalah ketika ekspresi tersebut dianggap menghadirkan unsur animisme, simbol yang menakutkan, serta adegan kekerasan terhadap hewan dalam sebuah kegiatan yang membawa nama peringatan Maulid Nabi. Karena terlihat lebih kepada ritual satanik.

Peringatan Maulid, kata Cholil, seharusnya menghadirkan kembali keteladanan Rasulullah SAW – bukan sekadar kemeriahan, tetapi juga pesan tentang akhlak, kasih sayang, kedamaian dan persaudaraan.

Kontroversi SKNC 2026 akhirnya menjadi perbincangan tentang batas kreativitas dalam kegiatan keagamaan: ketika seni dan tradisi bertemu dengan simbol-simbol keagamaan, kreativitas tetap membutuhkan kepekaan agar pesan utama perayaan tidak justru tenggelam oleh kontroversi.*** (Priyo)

Baca Lainnya

Pelindo Regional 4 Perkuat Keamanan Pelabuhan melalui Sertifikasi PFSO

14 September 2026 - 22:23 WIB

FIFGROUP Raih Penghargaan GP2SP DKI Jakarta

14 September 2026 - 22:14 WIB

Pelindo Regional 4 Gandeng BNN Edukasi Antinarkoba di Kalangan Pelajar

14 September 2026 - 22:04 WIB

IPC TPK Cetak Kinerja Positif Hingga Agustus 2026, Catat Pertumbuhan Volume Petikemas 8,37 Persen

14 September 2026 - 21:55 WIB

Sungai-Sungai Indonesia Mulai Menyusut, Alarm Krisis Air di Tengah Kemarau 2026

14 September 2026 - 20:36 WIB

Ketua YBWSA Unissula Prof Bambang Tri Tegaskan Mendukung Giat Keumatan Termasuk MTQ Nasional XXXI

14 September 2026 - 20:25 WIB

KKP Limpahkan Berkas Dua Tersangka Bom Ikan di Kawasan Konservasi Kapoposang ke Kejaksaan

14 September 2026 - 17:32 WIB

Nana Mardiana “Turun Gunung”, Kawal Dangdut Indonesia Menuju UNESCO

14 September 2026 - 15:48 WIB

Laut Banten Surut dan Kekhawatiran Risiko Tsunami

14 September 2026 - 14:23 WIB

Alumni Menwa Universitas Pancasila Konsolidasi, Dorong Pembentukan Menwa Generasi Baru

14 September 2026 - 14:10 WIB

Trending di RAGAM