Menu

Mode Gelap
Prabowo Perkuat Arah Baru Ekonomi, Disiplin Fiskal dan Ketahanan Energi Jadi Prioritas Pasca Pergantian Menkeu Sungai-Sungai Indonesia Mulai Menyusut, Alarm Krisis Air di Tengah Kemarau 2026 Ketua YBWSA Unissula Prof Bambang Tri Tegaskan Mendukung Giat Keumatan Termasuk MTQ Nasional XXXI KKP Limpahkan Berkas Dua Tersangka Bom Ikan di Kawasan Konservasi Kapoposang ke Kejaksaan Indonesia Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup, EMTEK Siapkan Produk Pertandingan Kualitas 4K Bawa Bantuan untuk Masyarakat Terdampak Bencana, KMP Inerie II Tiba di Palue

PERISTIWA

Sungai-Sungai Indonesia Mulai Menyusut, Alarm Krisis Air di Tengah Kemarau 2026

badge-check


 Sungai-Sungai Indonesia Mulai Menyusut, Alarm Krisis Air di Tengah Kemarau 2026 Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Kemarau 2026 mulai memperlihatkan wajah lain di sejumlah wilayah Indonesia. Debit sejumlah sungai menyusut drastis. Di beberapa lokasi, dasar sungai mulai terlihat, aktivitas transportasi air terganggu, sementara masyarakat di sejumlah daerah mulai menghadapi persoalan ketersediaan air.

Fenomena tersebut terlihat antara lain di Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, Sungai Silugonggo di Pati, Jawa Tengah, serta Sungai Barito di Kalimantan Tengah.

Di wilayah Sekadau, Kalimantan Barat, penyusutan debit Sungai Kapuas bahkan mengganggu aktivitas pelayaran. Dasar sungai yang mulai muncul menyebabkan sebuah tongkang pengangkut kernel sawit dilaporkan terjebak karena kedalaman alur sungai berkurang.

Kondisi serupa terlihat di Sungai Silugonggo, Pati. Debit sungai menyusut dan pada sejumlah titik permukaan air terlihat sangat rendah. Di sekitar Bendung Karet Sungai Juana, penyusutan air bahkan membuat ikan-ikan yang biasanya berada di dalam sungai terlihat di permukaan.

Kondisi tersebut tidak hanya menjadi persoalan lingkungan. Bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sungai, turunnya debit air dapat berpengaruh terhadap pertanian, perikanan, transportasi hingga kebutuhan sehari-hari.

Di Kalimantan Tengah, fenomena penyusutan juga terjadi di Sungai Barito. Di sekitar Desa Kalahien, Barito Selatan, bagian dasar sungai terlihat menyerupai hamparan pasir. Namun, kondisi tersebut tidak berarti Sungai Barito mengering total. Alur utama sungai masih memiliki air dan masih dapat dilalui kapal maupun perahu.

Penyusutan debit juga menjadi perhatian di Sungai Mentaya, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Pemerintah daerah mengantisipasi dampak berkurangnya curah hujan terhadap ketersediaan air dan aktivitas masyarakat yang bergantung pada sungai.

Jutaan ikan sapu-sapu terkapar di sungai yang kering di daerah Pati – Jawa Tengah.

Fenomena ini menjadi semakin penting karena persoalan kekeringan tidak hanya terjadi pada sungai. Kementerian Pekerjaan Umum sebelumnya menyatakan telah menangani ratusan titik kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarau tidak lagi sekadar persoalan cuaca panas. Ketika debit sungai terus turun, dampaknya bergerak ke berbagai sektor: air baku, pertanian, transportasi sungai, perikanan dan kebutuhan masyarakat.

Sejumlah sungai besar Indonesia selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Kapuas, Barito, Mentaya, Mahakam hingga Musi bukan sekadar bentang alam, tetapi jalur transportasi, sumber air, kawasan ekonomi dan bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan jutaan orang.

Karena itu, munculnya hamparan pasir di badan sungai semestinya dibaca sebagai alarm.

Persoalannya bukan semata-mata apakah sebuah sungai benar-benar kering atau masih menyisakan aliran air. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa jauh penurunan debit tersebut akan berlangsung dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat apabila kemarau terus berlanjut.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memperkuat pemantauan debit sungai, ketersediaan air baku serta kebutuhan air masyarakat. Langkah antisipasi juga diperlukan untuk daerah yang bergantung pada transportasi sungai maupun pertanian.

Kemarau pada akhirnya bukan hanya tentang matahari yang terik dan hujan yang tak kunjung turun.

Ketika sungai mulai kehilangan air, yang ikut dipertaruhkan adalah kehidupan di sepanjang alirannya.*** (Jasa)

Baca Lainnya

Ketua YBWSA Unissula Prof Bambang Tri Tegaskan Mendukung Giat Keumatan Termasuk MTQ Nasional XXXI

14 September 2026 - 20:25 WIB

KKP Limpahkan Berkas Dua Tersangka Bom Ikan di Kawasan Konservasi Kapoposang ke Kejaksaan

14 September 2026 - 17:32 WIB

Laut Banten Surut dan Kekhawatiran Risiko Tsunami

14 September 2026 - 14:23 WIB

Alumni Menwa Universitas Pancasila Konsolidasi, Dorong Pembentukan Menwa Generasi Baru

14 September 2026 - 14:10 WIB

H. Fikri Gelar Pendidikan Politik, Dorong Kader Perkuat Literasi Demokrasi dan Pengabdian kepada Masyarakat

14 September 2026 - 14:05 WIB

Aceh Culinary Festival, Perkuat Narasi Kuliner Khas Aceh

14 September 2026 - 10:36 WIB

Longsor Kembali Terjang Aceh Tengah, 1 Anak Meninggal dan 13 Warga Luka

14 September 2026 - 07:26 WIB

240 Ribu Satuan Pendidikan Belum Terima MBG, BGN Siapkan 2.700 Dapur di Wilayah 3T

14 September 2026 - 00:05 WIB

Mentan Amran Copot Manajer Pupuk Banggai: Petani Jangan Dipersulit

13 September 2026 - 23:42 WIB

Belum Genap Setahun Pasca-Tragedi 2025, Longsor Silih Nara Tewaskan Anak 9 Tahun: Desakan Mendesak Intervensi Sistemik dari Pemerintah Pusat

13 September 2026 - 22:35 WIB

Trending di PERISTIWA