Wartatrans.com, JAKARTA — Kemarau 2026 mulai memperlihatkan wajah lain di sejumlah wilayah Indonesia. Debit sejumlah sungai menyusut drastis. Di beberapa lokasi, dasar sungai mulai terlihat, aktivitas transportasi air terganggu, sementara masyarakat di sejumlah daerah mulai menghadapi persoalan ketersediaan air.
Fenomena tersebut terlihat antara lain di Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, Sungai Silugonggo di Pati, Jawa Tengah, serta Sungai Barito di Kalimantan Tengah.

Di wilayah Sekadau, Kalimantan Barat, penyusutan debit Sungai Kapuas bahkan mengganggu aktivitas pelayaran. Dasar sungai yang mulai muncul menyebabkan sebuah tongkang pengangkut kernel sawit dilaporkan terjebak karena kedalaman alur sungai berkurang.
Kondisi serupa terlihat di Sungai Silugonggo, Pati. Debit sungai menyusut dan pada sejumlah titik permukaan air terlihat sangat rendah. Di sekitar Bendung Karet Sungai Juana, penyusutan air bahkan membuat ikan-ikan yang biasanya berada di dalam sungai terlihat di permukaan.
Kondisi tersebut tidak hanya menjadi persoalan lingkungan. Bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sungai, turunnya debit air dapat berpengaruh terhadap pertanian, perikanan, transportasi hingga kebutuhan sehari-hari.
Di Kalimantan Tengah, fenomena penyusutan juga terjadi di Sungai Barito. Di sekitar Desa Kalahien, Barito Selatan, bagian dasar sungai terlihat menyerupai hamparan pasir. Namun, kondisi tersebut tidak berarti Sungai Barito mengering total. Alur utama sungai masih memiliki air dan masih dapat dilalui kapal maupun perahu.
Penyusutan debit juga menjadi perhatian di Sungai Mentaya, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Pemerintah daerah mengantisipasi dampak berkurangnya curah hujan terhadap ketersediaan air dan aktivitas masyarakat yang bergantung pada sungai.

Jutaan ikan sapu-sapu terkapar di sungai yang kering di daerah Pati – Jawa Tengah.
Fenomena ini menjadi semakin penting karena persoalan kekeringan tidak hanya terjadi pada sungai. Kementerian Pekerjaan Umum sebelumnya menyatakan telah menangani ratusan titik kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarau tidak lagi sekadar persoalan cuaca panas. Ketika debit sungai terus turun, dampaknya bergerak ke berbagai sektor: air baku, pertanian, transportasi sungai, perikanan dan kebutuhan masyarakat.
Sejumlah sungai besar Indonesia selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Kapuas, Barito, Mentaya, Mahakam hingga Musi bukan sekadar bentang alam, tetapi jalur transportasi, sumber air, kawasan ekonomi dan bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan jutaan orang.
Karena itu, munculnya hamparan pasir di badan sungai semestinya dibaca sebagai alarm.
Persoalannya bukan semata-mata apakah sebuah sungai benar-benar kering atau masih menyisakan aliran air. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa jauh penurunan debit tersebut akan berlangsung dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat apabila kemarau terus berlanjut.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memperkuat pemantauan debit sungai, ketersediaan air baku serta kebutuhan air masyarakat. Langkah antisipasi juga diperlukan untuk daerah yang bergantung pada transportasi sungai maupun pertanian.
Kemarau pada akhirnya bukan hanya tentang matahari yang terik dan hujan yang tak kunjung turun.
Ketika sungai mulai kehilangan air, yang ikut dipertaruhkan adalah kehidupan di sepanjang alirannya.*** (Jasa)


























