Wartatrans.com, JAKARTA – PT Garuda Daya Pratama Sejahtera (GDPS), bagian dari Garuda Indonesia Group, memperluas bisnis ke sektor private aviation melalui kerja sama dengan Jet Pribadi Asia.
Ekspansi tersebut mencakup layanan aircraft cleaning untuk pesawat pribadi.

Direktur Utama GDPS Cornelis Radjawane mengatakan, karakteristik dan kebutuhan layanan private aviation berbeda dengan penerbangan komersial.
“Industri private aviation memiliki karakteristik dan kebutuhan layanan yang berbeda. Karena itu, kami berupaya memastikan layanan yang diberikan tidak hanya memenuhi kebutuhan operasional, tetapi juga memerhatikan standar kualitas dan pelayanan,” jelas Cornelis, Senin (14/9/2026).
Pihaknya melihat masih banyak ruang untuk mengembangkan layanan pendukung di industri aviasi.
“Ke depan, kami akan terus mengeksplorasi kebutuhan tersebut dengan tetap mengedepankan kualitas sumber daya manusia dan standar layanan,” ujarnya.
Pasar private aviation Indonesia memiliki basis yang stabil. Asian Sky Group mencatat jumlah business jet di Indonesia pada akhir 2025 mencapai 61 pesawat, tidak berubah dibandingkan 2024 dan menempatkan Indonesia di posisi ketujuh Asia-Pasifik.
Aktivitas private aviation kawasan juga tumbuh. Founder dan CEO Jetex Adel Mardini mengatakan dalam keterangan ekspansi Jetex ke Indonesia, Senin (13/7/2026), bahwa kawasan Asia-Pasifik mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah armada business jet selama lima tahun terakhir.
Mardini menyebut keberangkatan business jet Asia-Pasifik mencapai 130.716 penerbangan pada 2025, naik 4,2% secara tahunan.
Menurut dia, pertumbuhan tersebut mendorong kebutuhan terhadap fasilitas fixed-base operator (FBO) yang baru dan modern.
Di dalam negeri, WIRA, bagian dari kelompok usaha Premiair, menyediakan FBO serta layanan premium aircraft cleaning untuk business dan VIP jets.
Quantum Aero juga menawarkan ground handling, flight support dan aircraft cleaning dari basis operasinya di Bandara Halim Perdanakusuma.
Masuknya GDPS membuat persaingan layanan pendukung private aviation semakin menantang.
Persaingan tidak hanya soal harga, tetapi juga kualitas pengerjaan, standar keselamatan, kecepatan layanan, kompetensi sumber daya manusia (SDM) dan kemampuan memenuhi kebutuhan spesifik pemilik maupun operator pesawat.
Jumlah 61 business jet belum otomatis menggambarkan besarnya pasar aircraft cleaning. Potensi pendapatan dipengaruhi frekuensi penerbangan, utilisasi pesawat, jenis layanan, ukuran pesawat dan pola kontrak.
Bagi GDPS, layanan cleaning dapat menjadi pintu masuk mengembangkan layanan pendukung aviasi lainnya.
Jika aktivitas private aviation meningkat, kebutuhan FBO, ground handling, aircraft management, maintenance dan detailing berpotensi berkembang. (Artha Tidar)





























