LWartatrans.com, TANGERANG – AirNav Indonesia dan The Boeing Company menandatangani Letter of Intent (LoI) atau kesepakatan awal studi optimasi operasional pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Penandatanganan LoI dilakukan Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno dan Senior Managing Director, Boeing Commerial Airplanes Malcolm An, di Hotel Sheraton Jakarta Soekarno-Hatta Airport, Tangerang, Selasa (15/9/2026).

Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno menyampaikan, kerja sama ini dengan melakukan kajian.
Di mana diarahkan untuk melihat peluang pengurangan kepadatan pergerakan pesawat di darat sekaligus meningkatkan kapasitas pemanfaatan landas pacu.
“Analisis dilakukan dengan memetakan kondisi operasi saat ini dan mengujinya melalui pemodelan menggunakan Total Airspace and Airport Modeller (TAAM),” ucap Avirianto.
Pihaknya bukan hanya melihat kondisi operasi saat ini, tetapi juga berbagai opsi yang memungkinkan pergerakan pesawat lebih efisien.
“Setiap opsi akan diuji melalui pemodelan dan simulasi sehingga rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar analisis yang kuat,” ujarnya.
Turut hadir dalam penandatanganan tersebut, Deputi Bidang Fasilitasi dan Sinergi Pembangunan Badan Pengaturan BUMN, Kepala Sub Direktorat Pengawasan dan Data Keselamatan Penerbangan Direktorat Perhubungan Udara Kemenhub, Indra Gunawan.
Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro, Direktur Teknik Zainal Arifin Harahap, Direktur SDM dan Umum Didiet K.S. Radityo, serta Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Oskar Syahbana.
Selain itu, hadir pula Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, Program Manager, Boeing Southeast Asia, Davida Gondohusodo, IATA Assistant Manager Industry Affair, Marisqa Debora, Direktur Operasi Angkasa Pura Indonesia, Agus Haryadi, serta perwakilan sejumlah maskapai penerbangan.
Avirianto mengungkapkan, LoI ini merupakan kelanjutan dari Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani AirNav Indonesia dan Boeing pada 2023, yang membentuk kerangka kerja sama di bidang manajemen ruang udara, pelatihan, dan perencanaan strategis manajemen lalu lintas udara.
Dijelaskannya, tahap awal studi dilakukan melalui pemodelan operasi menggunakan baseline model TAAM untuk merepresentasikan kondisi operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai saat ini.
Model tersebut menggunakan jadwal penerbangan selama 24 jam yang mewakili operasional normal bandara.
Pemodelan mencakup east flow dan west flow, dua konfigurasi operasi berdasarkan arah aliran pergerakan pesawat. Hasil pemodelan berupa data statistik operasional dan visualisasi empat dimensi (4D).
AirNav dan Boeing juga akan melakukan observasi langsung di Bandara I Gusti Ngurah Rai bersama Subject Matter Experts (SME) dari unsur pengendalian lalu lintas udara, operasi bandara, maskapai, ground handling, dan perencanaan bandara.
Observasi dapat mencakup antara lain menara ATC, fasilitas radar terminal, pusat operasi ground handling, pusat operasi maskapai, unit perencanaan dan pembangunan bandara, serta area sisi udara (airside).
Setelah baseline model divalidasi menggunakan data operasional AirNav Indonesia, kedua pihak akan menyusun alternatif peningkatan operasi.

“Alternatif tersebut mencakup tata letak, prosedur pergerakan di darat, penggunaan taxiway dan area parkir pesawat, serta pengurutan pergerakan dan koordinasi,” imbuh Avirianto.
Alternatif tersebut selanjutnya akan diuji melalui simulasi TAAM. Boeing diperkirakan akan memodelkan hingga tiga skenario untuk menilai kinerja masing-masing opsi sebelum dipertimbangkan untuk diterapkan.
Dia mengungkapkan, pemodelan juga menggunakan sedikitnya dua jadwal tambahan yang merepresentasikan proyeksi pertumbuhan trafik.
Setiap skenario diuji dalam dua arah aliran pergerakan pesawat dengan asumsi operasional yang disepakati bersama.
Hasil pemodelan dan simulasi akan menjadi bahan penyusunan rekomendasi peningkatan operasi pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Sementara itu, Indra Duivenvoorde, Managing Director Boeing Indonesia, menambahkan, kerja sama ini menggabungkan keahlian global Boeing dalam kinerja pesawat dan manajemen lalu lintas udara dengan pengalaman operasional AirNav Indonesia.
Kajian ini diarahkan untuk menghasilkan cara-cara praktis berbasis data dalam meningkatkan kelancaran arus lalu lintas, pemanfaatan landasan pacu, serta mendukung penerbangan yang aman, efisien, dan berkelanjutan di Bali.
”Kami memandang Indonesia sebagai salah satu pasar penerbangan terbesar di Asia dan berkomitmen terhadap kemitraan kami dengan AirNav Indonesia serta industri penerbangan sipil nasional,” kata Indra. (omy)






























