Menu

Mode Gelap
Infotainment Awards 2026: Ketika Popularitas, Fandom dan Media Sosial Menentukan Siapa yang Jadi Bintang ASDP Perkuat Sinergi Lancarkan Mobilitas dan Arus Logistik di Pelabuhan Ketapang Pelindo Regional 4 Perkuat Sinergi melalui Sharing with Stakeholder Kemenhub Instruksikan Perketat Pemeriksaan Mandiri dan Latihan Darurat Kapal Secara Masif Operasional AKAP di Terminal Tipe A Bareh Solok Tetap Berjalan Normal Pascabanjir HUT ke-81, KAI Catat 351,6 Juta Pelanggan hingga Agustus 2026

RAGAM

Infotainment Awards 2026: Ketika Popularitas, Fandom dan Media Sosial Menentukan Siapa yang Jadi Bintang

badge-check


 Infotainment Awards 2026: Ketika Popularitas, Fandom dan Media Sosial Menentukan Siapa yang Jadi Bintang Perbesar

Catatan Sutrisno Buyil

Wartatrans.com, JAKARTA — Kalau ada yang bertanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi di industri hiburan Indonesia saat ini, jawabannya bisa ditemukan di panggung Infotainment Awards 2026.

Lihat saja daftar pemenangnya.

Sandrinna Michelle dan Junior Roberts, Lesti Kejora, Rizky Billar, Fattah Syach, Aisha Askar Aljaidi, Arya Mohan, Aqeela Calista, El Rumi dan Syifa Hadju, hingga Raffi Ahmad.

Nama-nama tersebut datang dari latar yang berbeda. Ada pemain sinetron, penyanyi, pasangan selebritas, bintang muda hingga entertainer senior.

Namun ada satu benang merah: mereka punya perhatian publik. Dan di industri hiburan, perhatian publik adalah mata uang.

Semakin sering seorang artis diperbincangkan, semakin besar peluang namanya berada di radar media, televisi, media sosial dan tentu saja penggemar.

Di sinilah saya melihat menariknya Infotainment Awards tahun ini.

Ajang penghargaan bukan hanya soal siapa yang paling berbakat. Sebab, ukuran bakat tentu berbeda dengan ukuran popularitas. Penghargaan infotainment berada di wilayah yang sangat dekat dengan seberapa kuat seorang figur hadir dalam kehidupan penontonnya.

Bukan Cuma Bakat

Dulu, seorang artis bisa menjadi besar karena sinetron, film atau lagu yang sukses.

Sekarang tidak cukup. Artis harus tetap terlihat. Hari ini muncul di sinetron, besok diwawancarai infotainment, lusa videonya viral di media sosial, kemudian muncul di acara televisi. Siklus tersebut membuat nama seorang artis terus berputar di ruang publik.

Karena itu, saya tidak heran melihat wajah-wajah muda mendominasi Infotainment Awards 2026.

Mereka memang hidup di ekosistem tersebut. Televisi adalah panggungnya, media sosial adalah ruang interaksinya, sementara fandom adalah energi yang membuat popularitasnya terus bergerak.

Aqeela Calista, Fenomena Tiga Trofi

Contoh paling menarik adalah Aqeela Calista. Ia meraih tiga penghargaan: Most Charming Female Celebrity, Artis Paling Socmed dan Celebrity of The Year.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa tiga trofi otomatis menjadikan Aqeela sebagai artis terbaik. Bukan itu persoalannya.

Justru yang menarik adalah mengapa satu nama bisa menonjol di tiga kategori berbeda? Jawabannya kemungkinan tidak berada pada satu karya saja.

Ada daya tarik personal. Ada eksistensi media sosial. Ada popularitas. Ada basis penggemar. Dan tentu ada visibilitas yang membuat namanya terus hadir di hadapan publik.

Inilah wajah baru industri selebritas.

Dulu orang bertanya, “Kamu main sinetron apa?”

Sekarang pertanyaannya bisa berubah menjadi, “Kamu punya berapa followers? Kontenmu ramai tidak? Penggemarmu seaktif apa?”

Bukan berarti angka media sosial adalah satu-satunya ukuran. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial telah menjadi bagian penting dari ekosistem popularitas.

Sandrinna-Junior dan Seni Menjadi Pasangan

Kemudian ada Sandrinna Michelle dan Junior Roberts yang memenangkan Best Couple.

Penghargaan pasangan selalu menarik.

Sebab yang dijual bukan hanya individu, tetapi juga chemistry.

Dua artis yang secara terpisah sudah populer bisa menghasilkan perhatian yang lebih besar ketika publik melihat mereka sebagai pasangan layar maupun pasangan yang memiliki daya tarik bersama.

Di sinilah fandom bekerja.

Penggemar tidak hanya mengikuti karya artisnya. Mereka mengikuti hubungan, interaksi, penampilan bersama hingga momen-momen kecil yang kemudian menjadi bahan pembicaraan.

Maka ketika pasangan seperti Sandrinna dan Junior memenangkan kategori Best Couple, ada konteks popularitas bersama yang patut diperhatikan.

El Rumi-Syifa Hadju dan Kekuatan Momentum

Begitu pula El Rumi dan Syifa Hadju yang meraih Wedding of The Year. Pernikahan selebritas memang memiliki kekuatan yang berbeda.

Ada unsur romantisme, kemeriahan, keluarga, fashion, tamu terkenal dan tentu saja rasa ingin tahu publik.

Tetapi di era media sosial, sebuah pernikahan tidak berhenti ketika acara selesai.

Foto beredar. Video dipotong menjadi konten. Pernikahan diberitakan media. Penggemar ikut membicarakan. Bahkan detail kecil bisa menjadi topik tersendiri.

Momentum akhirnya berubah menjadi popularitas.

Karena itu, penghargaan Wedding of The Year menarik dibaca sebagai pengakuan terhadap sebuah peristiwa selebritas yang berhasil menyedot perhatian publik.

Generasi Baru Sedang Naik Kelas

Nama Fattah Syach dan Arya Mohan juga memberikan pesan penting. Industri hiburan tidak pernah berhenti mencari wajah baru.

Sinetron masih menjadi salah satu pintu masuk penting bagi generasi muda untuk mendapatkan popularitas.

Begitu seorang pemain berhasil menarik perhatian, kariernya bisa berkembang ke berbagai wilayah: film, musik, iklan, konten digital bahkan menjadi influencer.

Inilah yang saya sebut sebagai mesin regenerasi industri hiburan. Dan SCTV punya pengalaman panjang dalam melahirkan bintang dari sinetron.

Karena itu, dominasi anak muda dalam Infotainment Awards sebenarnya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba.

Lesti, Billar dan Raffi Tidak Kalah oleh Zaman

Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa generasi senior sudah habis.

Lihat Lesti Kejora, Rizky Billar dan Raffi Ahmad.

Lesti dan Billar masing-masing meraih Gorgeous Mom dan Gorgeous Dad, sedangkan Raffi Ahmad membawa pulang Most Inspirational Celebrity.

Mereka menunjukkan bahwa usia bukan satu-satunya penentu popularitas.

Yang jauh lebih penting adalah kemampuan mempertahankan relevansi.

Raffi adalah contoh menarik.

Ia telah melewati berbagai fase industri hiburan. Dari pemain sinetron, presenter, entertainer hingga pengusaha.

Artinya, untuk tetap berada di pusat perhatian selama bertahun-tahun, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan popularitas masa lalu.

Harus ada kemampuan beradaptasi.

SCTV dan Rumah Anak Muda

Lalu apa hubungannya dengan SCTV?

Sangat erat.

Sebagai stasiun televisi yang selama bertahun-tahun kuat dengan sinetron dan program hiburan, SCTV memiliki ekosistem sendiri dalam melahirkan dan membesarkan bintang.

Ketika penontonnya banyak berasal dari kalangan muda, sangat masuk akal jika wajah yang paling sering mereka lihat kemudian menjadi wajah yang paling populer.

“Eranya sudah berubah. Program televisi yang ada di SCTV, khususnya sinetron, pengisinya memang generasi milenial dan Gen Z. Jadi wajar kalau isi Infotainment Awards juga generasi belia,” kata saya sebagai wartawan yang masih aktif meliput industri televisi.

Televisi bekerja dengan realitas penonton.

Program yang tidak mendapatkan perhatian tentu akan dievaluasi. Karena itu, rating dan share tetap menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan keberlangsungan sebuah program, meskipun sekarang ukuran performa juga semakin kompleks karena penonton tersebar di berbagai platform.

“Kalau rating sinetron remaja jelek, sudah pasti dievaluasi. Televisi melihat respons penonton. Kalau tidak ditonton, bagaimana program mau dipertahankan?” ujar saya.

Televisi Tidak Lagi Bersaing Sendirian

Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.

SCTV dan televisi lainnya sekarang tidak hanya berkompetisi dengan stasiun televisi tetangga.

Mereka berkompetisi dengan YouTube, TikTok, Instagram, layanan streaming dan berbagai platform digital lainnya.

Anak muda bisa saja tidak menonton televisi pada jam tayang tertentu, tetapi mereka tetap mengikuti artis favoritnya melalui media sosial.

Ironisnya, justru dari sinilah televisi bisa mendapatkan keuntungan.

Artis yang lahir dari sinetron kemudian menjadi viral di media sosial. Popularitas digitalnya kembali membawa perhatian ke program televisi.

Televisi dan media sosial akhirnya bukan selalu musuh. Dalam banyak kasus, keduanya justru saling menghidupkan.

Jadi, Mengapa Mereka Menang?

Pertanyaan ini yang menurut saya paling menarik.

Kenapa mereka?

Kenapa bukan yang lain?

Saya kira jawabannya tidak bisa disederhanakan menjadi “karena mereka lebih bagus.”

Sebab penghargaan memiliki kategori dan mekanisme masing-masing.

Tetapi jika melihat daftar pemenang Infotainment Awards 2026, ada beberapa modal yang terlihat jelas:

Popularitas.

Karya dan eksistensi.

Momentum pemberitaan.

Kekuatan fandom.

Interaksi media sosial.

Dan yang paling penting, kedekatan dengan penonton.

Mereka yang mampu mempertahankan perhatian publik memiliki modal besar dalam pertarungan popularitas.

Trofi Bukan Akhir Perjalanan

Namun saya ingin memberikan satu catatan. Trofi seharusnya jangan menjadi akhir perjalanan. Justru setelah mendapatkan penghargaan, tantangan sebenarnya dimulai.

Karena popularitas bisa datang cepat dan pergi cepat.

Hari ini seorang artis menjadi pembicaraan. Besok bisa digantikan wajah baru.

Generasi Z yang sekarang memenuhi panggung penghargaan suatu hari akan menjadi generasi senior. Dan ketika itu terjadi, akan muncul pertanyaan yang sama: masihkah mereka relevan?

Itulah hukum alam industri hiburan.

Bintang boleh berganti. Selera penonton boleh berubah. Platform boleh berganti. Tetapi satu hal tidak pernah berubah: artis harus punya alasan untuk terus ditonton.

Infotainment Awards 2026 akhirnya bukan hanya tentang siapa yang membawa pulang trofi.

Ia adalah cermin tentang siapa yang sedang mendapatkan perhatian publik hari ini.

Dan dari panggung tahun ini, pesannya cukup jelas:

Generasi muda sedang mengambil alih panggung. Tetapi untuk bertahan sebagai bintang, mereka harus membuktikan bahwa popularitas hari ini bisa berubah menjadi karya dan relevansi untuk hari esok.***

Penulis adalah Wartawan Senior, Ketua Umum Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia.

Baca Lainnya

Pelindo Regional 4 Perkuat Sinergi melalui Sharing with Stakeholder

23 September 2026 - 12:18 WIB

KAI-KCIC Ajak 607 Anak Panti Asuhan Menjajal Kereta Cepat Whoosh

23 September 2026 - 10:34 WIB

Gugatan Syarat Pendidikan Gibran Bergulir di MK, Pemohon Minta Pelantikan Dibatalkan

23 September 2026 - 08:12 WIB

Syifa Hadju Rindu Akting, Tapi Masih Ingin Nikmati Masa Awal Berumah Tangga dengan El Rumi

23 September 2026 - 03:56 WIB

Vika Salim Tak Kejar Pernikahan Mewah, Pilih Selesaikan Rumah Sebelum Ijab Kabul

22 September 2026 - 23:12 WIB

Sandrina Michelle Ungkap Alasan Nyaman Jalani Hubungan dengan Junior Roberts

22 September 2026 - 23:07 WIB

KSOP Utama Tanjung Perak Pastikan Kesiapan E-RTG Baru di Terminal Petikemas Nilam

22 September 2026 - 22:33 WIB

AHY: Jadilah Versi Terbaik Diri Sendiri, Generasi Muda Penentu Masa Depan Indonesia

22 September 2026 - 20:26 WIB

Pelindo Regional 4 Perkuat Budaya Dialog Lewat BWL

22 September 2026 - 18:16 WIB

Bupati Pati Nonaktif Sudewo Dituntut 8,5 Tahun Penjara, Bentrok Antar Pendukung Dikecam Warga Semarang

22 September 2026 - 16:47 WIB

Trending di RAGAM