Wartatrans.com, JAKARTA — Seni tak hanya bicara soal panggung, pertunjukan, dan hiburan. Di tangan Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) ’56, panggung juga menjadi ruang untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Semangat itulah yang terasa dalam pertunjukan “Meradjoet Sendja – Persembahan Cinta Untuk Republik” yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (26/8/2026). Melalui konser “Orchestra Kebangsaan Bakti Seniman Nusantara”, PARFI ’56 menggalang dana untuk membantu para seniman yang menghadapi kehidupan kurang beruntung, terutama mereka yang telah memasuki usia lanjut.

Ketua PARFI ’56, Marcella Zalianty, mengatakan gagasan kegiatan tersebut lahir dari keinginan untuk menghadirkan perhatian yang lebih nyata kepada para seniman yang selama masa produktifnya telah memberikan warna bagi dunia seni dan perfilman Indonesia.
“PARFI ’56 ingin membantu seniman yang di hari tuanya kurang beruntung. Konser Orchestra Kebangsaan Bakti Seniman Nusantara ini salah satu upaya teman-teman PARFI ’56 dalam penggalangan dana,” ujar Marcella dalam jumpa pers seusai pertunjukan.
Menurut Marcella, kehidupan seorang seniman tidak selalu berjalan sejalan dengan popularitas yang pernah mereka miliki. Ada seniman yang setelah tidak lagi aktif berkarya harus menjalani kehidupan dengan berbagai keterbatasan.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan PARFI ’56 ingin membangun gerakan sosial yang lebih terencana dan berkelanjutan.
Tidak hanya untuk membantu seniman, kepedulian yang dibangun melalui Meradjoet Sendja juga diarahkan kepada masyarakat yang sedang mengalami musibah.
Hasil Penggalangan Dana untuk NTT
Di tengah pelaksanaan kegiatan, perhatian PARFI ’56 turut tertuju kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dilanda gempa bumi.
Sutradara pertunjukan Meradjoet Sendja yang juga menjabat **Ketua Bidang Sosial PARFI ’56, Olivia Zalianty**, mengatakan hasil penggalangan dana nantinya juga akan diperuntukkan bagi masyarakat NTT yang terdampak musibah.
“Insya Allah dari hasil penggalangan dana ini akan kami peruntukkan bagi masyarakat NTT yang sedang kena musibah,” ujar Olivia.
Bagi Olivia, keterlibatan insan seni dalam kegiatan sosial merupakan bentuk nyata bahwa dunia hiburan tidak berdiri sendiri. Ketika masyarakat menghadapi persoalan, para pekerja seni juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengambil bagian sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Meradjoet Sendja karena itu tidak hanya diposisikan sebagai pertunjukan musik dan seni, melainkan juga sebagai gerakan solidaritas. Panggung menjadi medium untuk mempertemukan karya, kepedulian, serta semangat berbagi.
Ingin PARFI Punya Dana Taktis
Sementara itu, Marcella mengungkapkan bahwa PARFI ’56 memiliki cita-cita lebih besar dari sekadar menggelar kegiatan penggalangan dana setiap kali muncul persoalan sosial.
Ia ingin organisasi yang dipimpinnya memiliki dana taktis yang dapat digunakan sewaktu-waktu untuk membantu anggota maupun masyarakat yang membutuhkan.
“Mimpi besar kami, PARFI memiliki dana taktis untuk kegiatan sosial. Sehingga ketika ada saudara kita yang membutuhkan tidak perlu membuat kegiatan,” ungkap Marcella.
Ia berharap ke depan PARFI ’56 dapat memiliki **dana abadi** yang dikelola secara berkelanjutan. Dengan begitu, ketika ada seniman yang membutuhkan bantuan atau terjadi bencana yang membutuhkan perhatian, organisasi dapat segera memberikan bantuan tanpa harus terlebih dahulu menggelar kegiatan penggalangan dana.
“Kepinginnya PARFI ’56 memiliki dana abadi, yang bisa dipakai kapan saja ketika ada yang membutuhkan,” tegas Marcella.
Karena itu, Marcella dan Olivia berharap masyarakat, khususnya para penonton dan dermawan, memberikan dukungan terhadap gerakan sosial yang dibangun melalui Meradjoet Sendja.
Harapannya sederhana, semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula manfaat yang dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Lewat Meradjoet Sendja, PARFI ’56 mencoba merajut kembali semangat kebersamaan. Bukan hanya merajut karya para seniman, tetapi juga merajut kepedulian agar para pelaku seni yang pernah menghibur masyarakat serta saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah tidak merasa berjalan sendirian.*** (Byl)






























