Menu

Mode Gelap
KAI Daop 1 Jakarta Catat Lonjakan Mobilitas Selama Long Weekend Wafat Yesus Kristus Komunitas Seni Kuflet Gelar Tur Literasi Sumatera di Jambi, Sasar Kampus hingga Komunitas INDOSIAR Luncurkan “Band Academy”, Upaya Hidupkan Kembali Era Musik Band Indonesia Rayakan Liburan dengan Perjalanan Hemat, DAMRI Hadirkan Promo “Twin Date 4.4 Kelola 196 Ribu Penumpang, Pelindo Regional 2 Pastikan Kelancaran Arus Lebaran 2026 KAI Daop 7 Madiun Layani 492 Ribu Pelanggan Selama Angkutan Lebaran 2026

PERISTIWA

Menyelusuri Jejak “Dara Portugis” di Pesisir Barat Aceh

badge-check


 Menyelusuri Jejak “Dara Portugis” di Pesisir Barat Aceh Perbesar

Wartatrans.com, LAMNO — Jejak sejarah Portugis di Aceh kerap hadir di antara fakta dan legenda. Salah satu kisah yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat pesisir Barat Aceh adalah tentang keberadaan keturunan Portugis yang dikenal dengan sebutan “Dara Portugis”—perempuan bermata terang, berkulit cerah, namun berbahasa dan berbudaya Aceh.

Kisah ini bermula pada awal abad ke-16, tepatnya tahun 1511 M, ketika armada Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque bergerak untuk menaklukkan Malaka. Dalam catatan lisan masyarakat Aceh, Raja Portugis kala itu mengirimkan pasukan bantuan tambahan. Namun, rombongan tersebut tidak pernah sampai ke Malaka. Kapal mereka terdampar di pesisir Barat Sumatra, tepatnya di kawasan Lamno, Aceh.

Pasukan Portugis itu kemudian ditawan oleh penguasa Aceh saat itu, Sultan Ali Mughayat Syah. Alih-alih dimusnahkan, para tawanan justru dimanfaatkan keahliannya untuk memperkuat armada militer Kesultanan Aceh. Mereka disebut-sebut berperan dalam pengembangan teknologi persenjataan, mulai dari pembuatan meriam, kapal perang, hingga mesiu. Kontribusi ini diyakini menjadi salah satu faktor penting yang menguatkan posisi Aceh hingga mampu melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Pedir yang bercorak Hindu.

Meski kisah tersebut tidak tercatat secara resmi dalam arsip sejarah tertulis, narasi ini terus diwariskan secara turun-temurun dan hidup sebagai legenda lokal yang dipercaya sebagian masyarakat.

Bule Lamno dan “Suku Mata Biru”
Dari percampuran itulah muncul istilah “Bule Lamno”, sebutan bagi keturunan Portugis yang menikah dengan penduduk lokal. Mereka umumnya memiliki ciri fisik khas Eropa—mata cokelat terang hingga biru—namun fasih berbahasa Aceh dan menjalani kehidupan seperti masyarakat setempat.
Selain itu, masyarakat juga mengenal keberadaan kelompok kecil yang disebut “suku mata biru”. Konon, kelompok ini merupakan keturunan Eropa yang memilih hidup eksklusif dan tidak melakukan perkawinan campur. Namun jumlah mereka sangat sedikit dan keberadaannya kini semakin sulit dilacak.

Tak heran jika kawasan pesisir Barat Aceh, khususnya Lamno, kerap disebut-sebut sebagai “daerah tujuan” para pemuda dari dalam maupun luar Aceh yang penasaran—siapa tahu berjodoh dengan sang Dara Portugis.

Namun, jejak fisik keturunan Portugis ini kian memudar. Seorang warga Lamno berinisial SBR (32) menuturkan bahwa sejak tsunami dahsyat melanda Aceh pada Desember 2004, keberadaan suku mata biru nyaris tak pernah terlihat lagi.
“Yang bermata cokelat masih ada, tapi jumlahnya jauh berkurang. Banyak yang menikah dengan pendatang dan memilih meninggalkan Lamno,” ujar SBR.

Menariknya, kisah ini kerap bersinggungan dengan memori personal. Cerita tentang nenek moyang bermata biru, larangan menyanyikan lagu “Isabella”, hingga senyum penuh makna ketika membahas kemungkinan darah Eropa dalam silsilah keluarga, menjadi pengingat bahwa sejarah tak selalu hidup di buku—tetapi juga di ingatan keluarga.

Sebagian warga bahkan meyakini bahwa keturunan Eropa di Aceh bukan hanya berasal dari Portugis, melainkan juga dari kaum Muslim Andalusia yang melarikan diri dari tragedi Reconquista di Semenanjung Iberia, ketika Ratu Isabella dan Raja Ferdinand menaklukkan Granada pada akhir abad ke-15.

Di kawasan Daya, Lamno—yang pernah menjadi pusat Kerajaan Daya, cikal bakal Kesultanan Aceh Darussalam—jejak itu masih samar terlihat. Ziarah ke makam Po Teumeureuhom menjadi pengingat bahwa wilayah ini pernah menjadi simpul penting peradaban dan pertemuan lintas bangsa.

Kini, Dara Portugis mungkin lebih banyak hidup dalam cerita, kenangan, dan legenda. Namun kisah tentang perjumpaan Aceh dengan dunia—tentang laut, pelarian, penaklukan, dan percampuran budaya—tetap menjadi bagian penting dari identitas sejarah Aceh.*** (BS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rayakan Liburan dengan Perjalanan Hemat, DAMRI Hadirkan Promo “Twin Date 4.4

2 April 2026 - 23:40 WIB

Kelola 196 Ribu Penumpang, Pelindo Regional 2 Pastikan Kelancaran Arus Lebaran 2026

2 April 2026 - 23:02 WIB

Dukung Persiapan Konsumsi Jemaah Haji, Garuda Terbangkan 15 Ton Makanan Siap Saji ke Jeddah

2 April 2026 - 19:36 WIB

Cerita dari Bukit Sinyonya: FIFGROUP Wujudkan Desa Sejahtera dan Sekolah yang Lebih Layak 

2 April 2026 - 18:29 WIB

Advokad Wahyudi Perkuat Lini Hukum Wartatrans.com, Respons Meningkatnya Risiko Sengketa Media Digital

2 April 2026 - 16:48 WIB

Pengaturan Gate Pass Terkoordinasi dan Terukur, Arus Barang di Pelabuhan Tanjung Priok Tetap Lancar

2 April 2026 - 16:45 WIB

Advokat Nourman, SH Gabung Di Wartatrans.com sebagai Kuasa Hukum, Perkuat Profesionalisme Media

2 April 2026 - 16:32 WIB

Sumur Bor untuk Warga Terdampak Bencana di Aceh Utara Rampung, Aktivis: Ini Awal Pemulihan

2 April 2026 - 15:49 WIB

Pengukuhan Imuem Syiek Abu Indrapuri Picu Polemik, Kuasa Hukum BKM Minta Polda Periksa Bupati Aceh Besar

2 April 2026 - 14:56 WIB

Gempa Berpotensi Tsunami Sulut dan Mulut Bisa Picu ke Aceh? Ini Kata BMKG

2 April 2026 - 10:06 WIB

Trending di PERISTIWA