Menu ✖

Mode Gelap
Suyudi Ario Seto Disetujui DPR Jadi Kapolri, Gantikan Listyo Sigit Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik Tanam 10 Pala Tomandin di SMA Don Bosco Fakfak, Siswa Belajar Ketangguhan di Tengah El Nino KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer KKP Percepat Sertifikasi Awak Kapal Perikanan melalui Modernisasi Pelatihan

PERISTIWA

Menyelusuri Jejak “Dara Portugis” di Pesisir Barat Aceh

badge-check


 Menyelusuri Jejak “Dara Portugis” di Pesisir Barat Aceh Perbesar

Wartatrans.com, LAMNO — Jejak sejarah Portugis di Aceh kerap hadir di antara fakta dan legenda. Salah satu kisah yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat pesisir Barat Aceh adalah tentang keberadaan keturunan Portugis yang dikenal dengan sebutan “Dara Portugis”—perempuan bermata terang, berkulit cerah, namun berbahasa dan berbudaya Aceh.

Kisah ini bermula pada awal abad ke-16, tepatnya tahun 1511 M, ketika armada Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque bergerak untuk menaklukkan Malaka. Dalam catatan lisan masyarakat Aceh, Raja Portugis kala itu mengirimkan pasukan bantuan tambahan. Namun, rombongan tersebut tidak pernah sampai ke Malaka. Kapal mereka terdampar di pesisir Barat Sumatra, tepatnya di kawasan Lamno, Aceh.

Pasukan Portugis itu kemudian ditawan oleh penguasa Aceh saat itu, Sultan Ali Mughayat Syah. Alih-alih dimusnahkan, para tawanan justru dimanfaatkan keahliannya untuk memperkuat armada militer Kesultanan Aceh. Mereka disebut-sebut berperan dalam pengembangan teknologi persenjataan, mulai dari pembuatan meriam, kapal perang, hingga mesiu. Kontribusi ini diyakini menjadi salah satu faktor penting yang menguatkan posisi Aceh hingga mampu melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Pedir yang bercorak Hindu.

Meski kisah tersebut tidak tercatat secara resmi dalam arsip sejarah tertulis, narasi ini terus diwariskan secara turun-temurun dan hidup sebagai legenda lokal yang dipercaya sebagian masyarakat.

Bule Lamno dan “Suku Mata Biru”
Dari percampuran itulah muncul istilah “Bule Lamno”, sebutan bagi keturunan Portugis yang menikah dengan penduduk lokal. Mereka umumnya memiliki ciri fisik khas Eropa—mata cokelat terang hingga biru—namun fasih berbahasa Aceh dan menjalani kehidupan seperti masyarakat setempat.
Selain itu, masyarakat juga mengenal keberadaan kelompok kecil yang disebut “suku mata biru”. Konon, kelompok ini merupakan keturunan Eropa yang memilih hidup eksklusif dan tidak melakukan perkawinan campur. Namun jumlah mereka sangat sedikit dan keberadaannya kini semakin sulit dilacak.

Tak heran jika kawasan pesisir Barat Aceh, khususnya Lamno, kerap disebut-sebut sebagai “daerah tujuan” para pemuda dari dalam maupun luar Aceh yang penasaran—siapa tahu berjodoh dengan sang Dara Portugis.

Namun, jejak fisik keturunan Portugis ini kian memudar. Seorang warga Lamno berinisial SBR (32) menuturkan bahwa sejak tsunami dahsyat melanda Aceh pada Desember 2004, keberadaan suku mata biru nyaris tak pernah terlihat lagi.
“Yang bermata cokelat masih ada, tapi jumlahnya jauh berkurang. Banyak yang menikah dengan pendatang dan memilih meninggalkan Lamno,” ujar SBR.

Menariknya, kisah ini kerap bersinggungan dengan memori personal. Cerita tentang nenek moyang bermata biru, larangan menyanyikan lagu “Isabella”, hingga senyum penuh makna ketika membahas kemungkinan darah Eropa dalam silsilah keluarga, menjadi pengingat bahwa sejarah tak selalu hidup di buku—tetapi juga di ingatan keluarga.

Sebagian warga bahkan meyakini bahwa keturunan Eropa di Aceh bukan hanya berasal dari Portugis, melainkan juga dari kaum Muslim Andalusia yang melarikan diri dari tragedi Reconquista di Semenanjung Iberia, ketika Ratu Isabella dan Raja Ferdinand menaklukkan Granada pada akhir abad ke-15.

Di kawasan Daya, Lamno—yang pernah menjadi pusat Kerajaan Daya, cikal bakal Kesultanan Aceh Darussalam—jejak itu masih samar terlihat. Ziarah ke makam Po Teumeureuhom menjadi pengingat bahwa wilayah ini pernah menjadi simpul penting peradaban dan pertemuan lintas bangsa.

Kini, Dara Portugis mungkin lebih banyak hidup dalam cerita, kenangan, dan legenda. Namun kisah tentang perjumpaan Aceh dengan dunia—tentang laut, pelarian, penaklukan, dan percampuran budaya—tetap menjadi bagian penting dari identitas sejarah Aceh.*** (BS)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik

1 Oktober 2026 - 10:43 WIB

KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer

1 Oktober 2026 - 09:56 WIB

Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara

1 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎

1 Oktober 2026 - 03:08 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Dukung Program Presiden Prabowo, KKP Siapkan Produk Perikanan untuk Menu MBG

30 September 2026 - 18:39 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

KPU Fakfak Tetapkan Data Pemilih Triwulan III 2026, Naik 808 Jiwa

30 September 2026 - 13:41 WIB

Yanuar Cecar Eks Kalapas Cibinong: Sofa hingga AC Hilang, Siapa yang Perintah?

30 September 2026 - 12:34 WIB

Dari 10 Jamaah Menjadi 651, Majelis Taklim Ar Rahmah Rangkul Jemaah Syiar Islam Bersama

30 September 2026 - 12:19 WIB

Trending di RAGAM