Wartatrans.com, BANDA ACEH — Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mendorong agar potensi gas dari Blok Andaman tidak berhenti pada kegiatan eksplorasi dan produksi, tetapi dikembangkan menjadi industri hilir yang mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian Aceh.
Dorongan tersebut disampaikan Mualem kepada Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Perubahan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, dalam pertemuan di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Pertemuan itu membahas peluang investasi dan pengembangan hilirisasi energi di Aceh, termasuk potensi gas dari Blok Andaman yang salah satunya dikelola Mubadala Energy.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengatakan Mualem secara khusus meminta perhatian terhadap pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe agar dapat menjadi salah satu pusat pengolahan dan pengembangan industri berbasis energi.
“Mualem menekankan pentingnya pengembangan industri hilir atas sumber daya gas yang dihasilkan dari Blok Andaman, termasuk yang dikelola oleh Mubadala Energy,” kata Nurlis di Banda Aceh, Kamis (30/7).
Menurut Nurlis, Pemerintah Aceh menghormati kebijakan Pemerintah Pusat terkait pengelolaan sumber daya alam. Namun, sebagai daerah penghasil, Aceh berharap pengelolaan sumber daya tersebut juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di daerah.
Karena itu, hilirisasi dinilai menjadi salah satu jalan untuk memastikan sumber daya energi tidak hanya menghasilkan pendapatan dari sisi produksi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan mendorong tumbuhnya industri baru di Aceh.
“Hilirisasi merupakan langkah strategis untuk menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, mendorong tumbuhnya industri berbasis gas, serta meningkatkan daya saing perekonomian Aceh secara berkelanjutan,” ujar Nurlis.
Mualem juga menekankan pentingnya menciptakan pola investasi yang memberikan manfaat bagi seluruh pihak. Dengan adanya industri hilir, perusahaan memperoleh keuntungan, pemerintah pusat mendapatkan penerimaan, sementara Aceh memperoleh manfaat ekonomi melalui investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan sektor-sektor pendukung.
“Prinsipnya sama-sama senang. Perusahaan dapat laba, pemerintah pusat ada pemasukan, pemerintah Aceh dapat untung, dan terjadi dampak pada semua sektor ekonomi yang mendorong kesejahteraan masyarakat Aceh,” kata Nurlis.
Pertemuan dengan Hashim tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat dalam mengoptimalkan potensi energi Aceh.
Keduanya sepakat memperkuat sinergi untuk mendorong investasi berkelanjutan, hilirisasi industri, serta pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah Aceh, kata Nurlis, juga menyatakan komitmennya menciptakan iklim investasi yang kondusif. Dengan dukungan kebijakan dan investasi yang tepat, KEK Arun Lhokseumawe diharapkan dapat kembali memainkan peran strategis sebagai kawasan industri berbasis energi sekaligus menjadi penggerak ekonomi Aceh.*** (Jasa)






























