Wartatrans.com, YOGYAKARTA — Gelaran Mural Terban Madani 2025 kembali menjadi panggung kreativitas para muralis nusantara. Bukan sekadar menorehkan garis dan warna, perhelatan ini menguji ketahanan fisik sekaligus ketajaman artistik para peserta. Lokasinya berada di dinding talud pondasi bantaran Kali Code, yang terbagi dalam tiga trap terasiring. Dengan ketinggian bidang mencapai lima meter dan hanya tersisa selasar selebar satu meter untuk pergerakan, para muralis harus bekerja dalam konsentrasi penuh selama tiga hari, dibalut rintik hujan tanpa perlindungan atap sedikit pun.
Mural Terban Madani menjadi catatan epilog seni di bulan November—sebuah perayaan apresiasi khas Jogja yang selama ini dikenal sebagai barometer seni, edukasi, dan moral. Para seniman diundang untuk mengolah cerita, warna, dan harmoni menjadi sebuah kaledioskop keragaman budaya Yogyakarta: dari wisata, kuliner, tarian tradisi, adat, religi, hingga artefak yang mengusung mitos serta nilai transendental kearifan lokal.

Tiga Nominasi, Satu Juara dari Magelang
Dari puluhan peserta, panitia menyeleksi tiga karya terbaik. Salah satu yang paling menonjol adalah karya Subkhi, muralis asal Magelang, alumni SMSR kelahiran Agustus 1975. Dengan segala keterbatasan teknis—hanya bermodalkan tangga railing besi dan tanpa peralatan keselamatan lengkap—ia berhasil meraih juara pertama melalui karya yang dinilai total, matang secara konsep, dan kuat secara simbolik.
Bagi Subkhi, proses berkarya bukan sekadar menggambar, tetapi memahami “medan tempur”: berdamai dengan tembok kasar, medan ekstrem, dan dialog batin yang melibatkan ketenangan mental. Kekayaan referensi budaya Jogja ia rangkai menjadi satu bingkai mural yang sarat makna, simbol, dan filsafat.
Semar Menggendong Tugu: Pesan Moral dari Tanah Jawa
Pada karyanya, Subkhi menempatkan sosok Ki Lurah Bladranaya/Ismaya (Semar) sebagai point of interest. Tokoh ini dipilih sebagai simbol pamomong—pemimpin yang bukan sekadar mengurus administrasi pemerintahan, tetapi juga menjaga akar tradisi dan kearifan lokal.

Semar digambarkan menggendong Tugu Pal Putih, monumen yang memiliki nilai historis perjuangan rakyat Yogyakarta melawan kapitalisme penjajah. Tugu yang dahulu bernama Golang Gilig itu dibangun pada 1775 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai simbol persatuan antara raja dan rakyat menghadapi kolonialisme.
Selendang gendongan yang dikenakan Semar membawa pesan moral kuat: “Wong Jogja ojo ilang Jogjane”—sebuah pengingat agar masyarakat tetap menjaga falsafah Jawa yang njawani, tidak tercerabut oleh derasnya arus modernitas.
Kaledioskop Aktivitas Jogja dalam Latar Mural
Di luar objek utama, pengisian latar mural Subkhi juga sangat beragam. Ia menampilkan potret kehidupan masyarakat Jogja masa kini, seperti:
Pelestarian wayang kulit bagi generasi muda, Kepedulian terhadap maraknya kejahatan jalanan (klitih) yang dapat mengganggu pariwisata. Adab sopan santun anak muda yang memberi hormat saat berpapasan dengan orang tua. Semua elemen itu menjadi refleksi dinamika budaya yang mulai memudar, namun kembali ditegaskan melalui medium mural yang memiliki kekuatan propaganda visual.
Mural sebagai Pengingat dan Penggerak
Bagi penyelenggara, Mural Terban Madani bukan hanya ajang kompetisi seni, melainkan sarana edukasi publik—mengajak masyarakat lebih peduli terhadap budaya, moralitas, dan kehidupan sosial melalui bahasa gambar. Dengan pendekatan artistik berkualitas dan kaidah estetika yang diperhitungkan matang, mural di bantaran Kali Code kembali menjadi ruang inspiratif yang menghidupkan denyut budaya Jogja.
Perhelatan tahun ini menegaskan: seni bukan hanya estetika, tetapi juga pesan, perlawanan, dan pengingat bahwa Jogja memiliki jiwa yang harus dijaga bersama.*** (Priyo)









