Menu ✖

Mode Gelap
Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara Maulid Nabi di YPL Al-Hidayah, Siswa Diajak Meneladani Empat Sifat Rasulullah Menara Astra Terapkan AI, Konsumsi Energi HVAC Ditargetkan Turun 10%-20% Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL

Uncategorized

Mural Terban Madani 2025 Hadirkan Kaledioskop Budaya Jogja di Bantaran Kali Code

badge-check


 Mural Terban Madani 2025 Hadirkan Kaledioskop Budaya Jogja di Bantaran Kali Code Perbesar

Wartatrans.com, YOGYAKARTA — Gelaran Mural Terban Madani 2025 kembali menjadi panggung kreativitas para muralis nusantara. Bukan sekadar menorehkan garis dan warna, perhelatan ini menguji ketahanan fisik sekaligus ketajaman artistik para peserta. Lokasinya berada di dinding talud pondasi bantaran Kali Code, yang terbagi dalam tiga trap terasiring. Dengan ketinggian bidang mencapai lima meter dan hanya tersisa selasar selebar satu meter untuk pergerakan, para muralis harus bekerja dalam konsentrasi penuh selama tiga hari, dibalut rintik hujan tanpa perlindungan atap sedikit pun.

Mural Terban Madani menjadi catatan epilog seni di bulan November—sebuah perayaan apresiasi khas Jogja yang selama ini dikenal sebagai barometer seni, edukasi, dan moral. Para seniman diundang untuk mengolah cerita, warna, dan harmoni menjadi sebuah kaledioskop keragaman budaya Yogyakarta: dari wisata, kuliner, tarian tradisi, adat, religi, hingga artefak yang mengusung mitos serta nilai transendental kearifan lokal.

Tiga Nominasi, Satu Juara dari Magelang

Dari puluhan peserta, panitia menyeleksi tiga karya terbaik. Salah satu yang paling menonjol adalah karya Subkhi, muralis asal Magelang, alumni SMSR kelahiran Agustus 1975. Dengan segala keterbatasan teknis—hanya bermodalkan tangga railing besi dan tanpa peralatan keselamatan lengkap—ia berhasil meraih juara pertama melalui karya yang dinilai total, matang secara konsep, dan kuat secara simbolik.

Bagi Subkhi, proses berkarya bukan sekadar menggambar, tetapi memahami “medan tempur”: berdamai dengan tembok kasar, medan ekstrem, dan dialog batin yang melibatkan ketenangan mental. Kekayaan referensi budaya Jogja ia rangkai menjadi satu bingkai mural yang sarat makna, simbol, dan filsafat.

Semar Menggendong Tugu: Pesan Moral dari Tanah Jawa

Pada karyanya, Subkhi menempatkan sosok Ki Lurah Bladranaya/Ismaya (Semar) sebagai point of interest. Tokoh ini dipilih sebagai simbol pamomong—pemimpin yang bukan sekadar mengurus administrasi pemerintahan, tetapi juga menjaga akar tradisi dan kearifan lokal.

Semar digambarkan menggendong Tugu Pal Putih, monumen yang memiliki nilai historis perjuangan rakyat Yogyakarta melawan kapitalisme penjajah. Tugu yang dahulu bernama Golang Gilig itu dibangun pada 1775 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai simbol persatuan antara raja dan rakyat menghadapi kolonialisme.

Selendang gendongan yang dikenakan Semar membawa pesan moral kuat: “Wong Jogja ojo ilang Jogjane”—sebuah pengingat agar masyarakat tetap menjaga falsafah Jawa yang njawani, tidak tercerabut oleh derasnya arus modernitas.

Kaledioskop Aktivitas Jogja dalam Latar Mural

Di luar objek utama, pengisian latar mural Subkhi juga sangat beragam. Ia menampilkan potret kehidupan masyarakat Jogja masa kini, seperti:

Pelestarian wayang kulit bagi generasi muda, Kepedulian terhadap maraknya kejahatan jalanan (klitih) yang dapat mengganggu pariwisata. Adab sopan santun anak muda yang memberi hormat saat berpapasan dengan orang tua. Semua elemen itu menjadi refleksi dinamika budaya yang mulai memudar, namun kembali ditegaskan melalui medium mural yang memiliki kekuatan propaganda visual.

Mural sebagai Pengingat dan Penggerak

Bagi penyelenggara, Mural Terban Madani bukan hanya ajang kompetisi seni, melainkan sarana edukasi publik—mengajak masyarakat lebih peduli terhadap budaya, moralitas, dan kehidupan sosial melalui bahasa gambar. Dengan pendekatan artistik berkualitas dan kaidah estetika yang diperhitungkan matang, mural di bantaran Kali Code kembali menjadi ruang inspiratif yang menghidupkan denyut budaya Jogja.

Perhelatan tahun ini menegaskan: seni bukan hanya estetika, tetapi juga pesan, perlawanan, dan pengingat bahwa Jogja memiliki jiwa yang harus dijaga bersama.*** (Priyo)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara

1 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎

1 Oktober 2026 - 03:08 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Dukung Program Presiden Prabowo, KKP Siapkan Produk Perikanan untuk Menu MBG

30 September 2026 - 18:39 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

KPU Fakfak Tetapkan Data Pemilih Triwulan III 2026, Naik 808 Jiwa

30 September 2026 - 13:41 WIB

Yanuar Cecar Eks Kalapas Cibinong: Sofa hingga AC Hilang, Siapa yang Perintah?

30 September 2026 - 12:34 WIB

Dari 10 Jamaah Menjadi 651, Majelis Taklim Ar Rahmah Rangkul Jemaah Syiar Islam Bersama

30 September 2026 - 12:19 WIB

Trending di RAGAM