Menu

Mode Gelap
Diduga Kuat Truk Colt diesel Tanpa Nopol Mengangkut Minyak Mentah Ilegal Melintas dijalan Lintas Medan-Sumut Pejuang Agraria Desak Penyelesaian Konflik Hak Adat atas Tanah di Aceh Timur IPC TPK Peringati HUT ke-13 dengan Donor Darah, 128 Kantong Darah Terkumpul KA Lokal Kian Diminati, KAI Layani 4,6 Juta Pelanggan pada Semester I 2026 PTDI Relokasi ke Kertajati, Pemerintah Bidik Pasar Aviasi Rp2.200 Triliun Hari Keterampilan Pemuda Sedunia, KAI Perkuat Talenta Adaptif untuk Masa Depan Perkeretaapian

Uncategorized

Mural Terban Madani 2025 Hadirkan Kaledioskop Budaya Jogja di Bantaran Kali Code

badge-check


 Mural Terban Madani 2025 Hadirkan Kaledioskop Budaya Jogja di Bantaran Kali Code Perbesar

Wartatrans.com, YOGYAKARTA — Gelaran Mural Terban Madani 2025 kembali menjadi panggung kreativitas para muralis nusantara. Bukan sekadar menorehkan garis dan warna, perhelatan ini menguji ketahanan fisik sekaligus ketajaman artistik para peserta. Lokasinya berada di dinding talud pondasi bantaran Kali Code, yang terbagi dalam tiga trap terasiring. Dengan ketinggian bidang mencapai lima meter dan hanya tersisa selasar selebar satu meter untuk pergerakan, para muralis harus bekerja dalam konsentrasi penuh selama tiga hari, dibalut rintik hujan tanpa perlindungan atap sedikit pun.

Mural Terban Madani menjadi catatan epilog seni di bulan November—sebuah perayaan apresiasi khas Jogja yang selama ini dikenal sebagai barometer seni, edukasi, dan moral. Para seniman diundang untuk mengolah cerita, warna, dan harmoni menjadi sebuah kaledioskop keragaman budaya Yogyakarta: dari wisata, kuliner, tarian tradisi, adat, religi, hingga artefak yang mengusung mitos serta nilai transendental kearifan lokal.

Tiga Nominasi, Satu Juara dari Magelang

Dari puluhan peserta, panitia menyeleksi tiga karya terbaik. Salah satu yang paling menonjol adalah karya Subkhi, muralis asal Magelang, alumni SMSR kelahiran Agustus 1975. Dengan segala keterbatasan teknis—hanya bermodalkan tangga railing besi dan tanpa peralatan keselamatan lengkap—ia berhasil meraih juara pertama melalui karya yang dinilai total, matang secara konsep, dan kuat secara simbolik.

Bagi Subkhi, proses berkarya bukan sekadar menggambar, tetapi memahami “medan tempur”: berdamai dengan tembok kasar, medan ekstrem, dan dialog batin yang melibatkan ketenangan mental. Kekayaan referensi budaya Jogja ia rangkai menjadi satu bingkai mural yang sarat makna, simbol, dan filsafat.

Semar Menggendong Tugu: Pesan Moral dari Tanah Jawa

Pada karyanya, Subkhi menempatkan sosok Ki Lurah Bladranaya/Ismaya (Semar) sebagai point of interest. Tokoh ini dipilih sebagai simbol pamomong—pemimpin yang bukan sekadar mengurus administrasi pemerintahan, tetapi juga menjaga akar tradisi dan kearifan lokal.

Semar digambarkan menggendong Tugu Pal Putih, monumen yang memiliki nilai historis perjuangan rakyat Yogyakarta melawan kapitalisme penjajah. Tugu yang dahulu bernama Golang Gilig itu dibangun pada 1775 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai simbol persatuan antara raja dan rakyat menghadapi kolonialisme.

Selendang gendongan yang dikenakan Semar membawa pesan moral kuat: “Wong Jogja ojo ilang Jogjane”—sebuah pengingat agar masyarakat tetap menjaga falsafah Jawa yang njawani, tidak tercerabut oleh derasnya arus modernitas.

Kaledioskop Aktivitas Jogja dalam Latar Mural

Di luar objek utama, pengisian latar mural Subkhi juga sangat beragam. Ia menampilkan potret kehidupan masyarakat Jogja masa kini, seperti:

Pelestarian wayang kulit bagi generasi muda, Kepedulian terhadap maraknya kejahatan jalanan (klitih) yang dapat mengganggu pariwisata. Adab sopan santun anak muda yang memberi hormat saat berpapasan dengan orang tua. Semua elemen itu menjadi refleksi dinamika budaya yang mulai memudar, namun kembali ditegaskan melalui medium mural yang memiliki kekuatan propaganda visual.

Mural sebagai Pengingat dan Penggerak

Bagi penyelenggara, Mural Terban Madani bukan hanya ajang kompetisi seni, melainkan sarana edukasi publik—mengajak masyarakat lebih peduli terhadap budaya, moralitas, dan kehidupan sosial melalui bahasa gambar. Dengan pendekatan artistik berkualitas dan kaidah estetika yang diperhitungkan matang, mural di bantaran Kali Code kembali menjadi ruang inspiratif yang menghidupkan denyut budaya Jogja.

Perhelatan tahun ini menegaskan: seni bukan hanya estetika, tetapi juga pesan, perlawanan, dan pengingat bahwa Jogja memiliki jiwa yang harus dijaga bersama.*** (Priyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diduga Kuat Truk Colt diesel Tanpa Nopol Mengangkut Minyak Mentah Ilegal Melintas dijalan Lintas Medan-Sumut

15 Juli 2026 - 21:35 WIB

Pejuang Agraria Desak Penyelesaian Konflik Hak Adat atas Tanah di Aceh Timur

15 Juli 2026 - 21:18 WIB

IPC TPK Peringati HUT ke-13 dengan Donor Darah, 128 Kantong Darah Terkumpul

15 Juli 2026 - 21:09 WIB

Siswa SLB Gianyar Tolak Narkoba

15 Juli 2026 - 13:48 WIB

200 Juta e-KTP di Indonesia, Balik Nama Kendaraan Tetap Kalah Praktis dari Malaysia

15 Juli 2026 - 12:11 WIB

Ada Agenda Besar, Kemenhub-Korlantas Polri Perkuat Sinergi dan Kolaborasi

15 Juli 2026 - 09:47 WIB

1 Juta Sertifikat Gratis MBR, Target Ambisius Hadapi Ujian Sulit Agraria 

15 Juli 2026 - 05:34 WIB

Pelindo Sambut Menteri Transportasi Arab Saudi, Bahas Potensi Kerja Sama Kepelabuhanan dan Logistik

14 Juli 2026 - 21:46 WIB

IDSurvey dan Danantara Investment Management Jalin Kerja Sama Strategis Dukung Pengembangan Sistem Pengolahan Sampah Terintegrasi

14 Juli 2026 - 20:49 WIB

Terminal Teluk Lamong Gandeng BRIN Petakan Biota Laut, Perkuat Komitmen Pelestarian Lingkungan

14 Juli 2026 - 20:39 WIB

Trending di ANJUNGAN