Menu

Mode Gelap
Daimler Truck Operasikan Pusat Suku Cadang Global di Jerman, Pasokan Mercedes-Benz Indonesia Dipastikan Makin Cepat Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang Paradoks Lansia Indonesia: Menua dalam Jeratan Sektor Informal Terminal Teluk Lamong Raih Digital PR Award 2026 Berkat Strategi Komunikasi Digital yang Inovatif Semester I 2026, Penumpang KAI Divre III Palembang Tembus 603.967 Orang, Naik 11 Persen Kepala Dinas Keuangan Subulussalam Belum Dilantik Meski Lelang Jabatan Selesai, Publik Pertanyakan Alasannya

Uncategorized

Mural Terban Madani 2025 Hadirkan Kaledioskop Budaya Jogja di Bantaran Kali Code

badge-check


 Mural Terban Madani 2025 Hadirkan Kaledioskop Budaya Jogja di Bantaran Kali Code Perbesar

Wartatrans.com, YOGYAKARTA — Gelaran Mural Terban Madani 2025 kembali menjadi panggung kreativitas para muralis nusantara. Bukan sekadar menorehkan garis dan warna, perhelatan ini menguji ketahanan fisik sekaligus ketajaman artistik para peserta. Lokasinya berada di dinding talud pondasi bantaran Kali Code, yang terbagi dalam tiga trap terasiring. Dengan ketinggian bidang mencapai lima meter dan hanya tersisa selasar selebar satu meter untuk pergerakan, para muralis harus bekerja dalam konsentrasi penuh selama tiga hari, dibalut rintik hujan tanpa perlindungan atap sedikit pun.

Mural Terban Madani menjadi catatan epilog seni di bulan November—sebuah perayaan apresiasi khas Jogja yang selama ini dikenal sebagai barometer seni, edukasi, dan moral. Para seniman diundang untuk mengolah cerita, warna, dan harmoni menjadi sebuah kaledioskop keragaman budaya Yogyakarta: dari wisata, kuliner, tarian tradisi, adat, religi, hingga artefak yang mengusung mitos serta nilai transendental kearifan lokal.

Tiga Nominasi, Satu Juara dari Magelang

Dari puluhan peserta, panitia menyeleksi tiga karya terbaik. Salah satu yang paling menonjol adalah karya Subkhi, muralis asal Magelang, alumni SMSR kelahiran Agustus 1975. Dengan segala keterbatasan teknis—hanya bermodalkan tangga railing besi dan tanpa peralatan keselamatan lengkap—ia berhasil meraih juara pertama melalui karya yang dinilai total, matang secara konsep, dan kuat secara simbolik.

Bagi Subkhi, proses berkarya bukan sekadar menggambar, tetapi memahami “medan tempur”: berdamai dengan tembok kasar, medan ekstrem, dan dialog batin yang melibatkan ketenangan mental. Kekayaan referensi budaya Jogja ia rangkai menjadi satu bingkai mural yang sarat makna, simbol, dan filsafat.

Semar Menggendong Tugu: Pesan Moral dari Tanah Jawa

Pada karyanya, Subkhi menempatkan sosok Ki Lurah Bladranaya/Ismaya (Semar) sebagai point of interest. Tokoh ini dipilih sebagai simbol pamomong—pemimpin yang bukan sekadar mengurus administrasi pemerintahan, tetapi juga menjaga akar tradisi dan kearifan lokal.

Semar digambarkan menggendong Tugu Pal Putih, monumen yang memiliki nilai historis perjuangan rakyat Yogyakarta melawan kapitalisme penjajah. Tugu yang dahulu bernama Golang Gilig itu dibangun pada 1775 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai simbol persatuan antara raja dan rakyat menghadapi kolonialisme.

Selendang gendongan yang dikenakan Semar membawa pesan moral kuat: “Wong Jogja ojo ilang Jogjane”—sebuah pengingat agar masyarakat tetap menjaga falsafah Jawa yang njawani, tidak tercerabut oleh derasnya arus modernitas.

Kaledioskop Aktivitas Jogja dalam Latar Mural

Di luar objek utama, pengisian latar mural Subkhi juga sangat beragam. Ia menampilkan potret kehidupan masyarakat Jogja masa kini, seperti:

Pelestarian wayang kulit bagi generasi muda, Kepedulian terhadap maraknya kejahatan jalanan (klitih) yang dapat mengganggu pariwisata. Adab sopan santun anak muda yang memberi hormat saat berpapasan dengan orang tua. Semua elemen itu menjadi refleksi dinamika budaya yang mulai memudar, namun kembali ditegaskan melalui medium mural yang memiliki kekuatan propaganda visual.

Mural sebagai Pengingat dan Penggerak

Bagi penyelenggara, Mural Terban Madani bukan hanya ajang kompetisi seni, melainkan sarana edukasi publik—mengajak masyarakat lebih peduli terhadap budaya, moralitas, dan kehidupan sosial melalui bahasa gambar. Dengan pendekatan artistik berkualitas dan kaidah estetika yang diperhitungkan matang, mural di bantaran Kali Code kembali menjadi ruang inspiratif yang menghidupkan denyut budaya Jogja.

Perhelatan tahun ini menegaskan: seni bukan hanya estetika, tetapi juga pesan, perlawanan, dan pengingat bahwa Jogja memiliki jiwa yang harus dijaga bersama.*** (Priyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Paradoks Lansia Indonesia: Menua dalam Jeratan Sektor Informal

1 Juli 2026 - 17:50 WIB

Terminal Teluk Lamong Raih Digital PR Award 2026 Berkat Strategi Komunikasi Digital yang Inovatif

1 Juli 2026 - 17:36 WIB

Catatan Halimah Munawir: Kebahagiaan Seorang Ibu adalah Hadir di Setiap Langkah Anak

1 Juli 2026 - 14:25 WIB

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pelindo Regional 2 Tanjung Priok dan Pemkot Jakarta Utara Tanam 665 Pohon

1 Juli 2026 - 13:11 WIB

Catatan Iwan Piliang: Saatnya Pengusaha Indonesia Berhenti Bergantung pada Proyek Pemerintah

1 Juli 2026 - 12:45 WIB

Kota Subulussalam Dilanda Defisit Anggaran, Kinerja Pemko dan DPRK Dipertanyakan

1 Juli 2026 - 12:14 WIB

Rentenir Berkedok Koperasi Disebut Kembali Marak di Kota Langsa, Warga Minta Penindakan

1 Juli 2026 - 12:02 WIB

Miris, Dua Perangkat Desa Sungai Pauh Firdaus Tanpa Alasan Jelas dan Tanpa SP 1 & 2 Diberhentikan

1 Juli 2026 - 11:15 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Trending di SENI BUDAYA