Wartatrans.com, JAKARTA — Sebuah peristiwa bersejarah dalam dunia seni dan budaya Islam akan segera hadir di Jakarta. Dua organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, resmi berkolaborasi dalam aktivitas seni budaya sebagai medium syiar Islam melalui pementasan teater kebangsaan.
Kolaborasi ini diwujudkan dalam pementasan Sandiwara Kebangsaan berjudul “PUTRA SANG PENCERAH (Episode Soekarno)”, sebuah karya monumental yang mengangkat sosok Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dari perspektif kebangsaan dan nilai-nilai Islam.


Imam Sulewardho, sang sutradara pementasan.
Pementasan ini merupakan karya ke-119 dari seniman dan budayawan Imam Sulewardho, yang direncanakan tampil pada bulan Juni mendatang. Lokasi pementasan direncanakan berlangsung di panggung prestisius seperti Istora Senayan atau Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.
Kerja besar ini digagas melalui sinergi Jakarta Islamic Center (JIC) dan Lembaga Seni Budaya (LSB) Muhammadiyah, yang bergandeng tangan untuk menghadirkan dakwah Islam yang sejuk, inklusif, dan membumi melalui medium seni pertunjukan.
Adapun proses latihan akan dimulai pada akhir April 2026, bertempat di Gedung Ir. Juanda lantai 5, PWM DKI Jakarta, Jalan Kramat Raya No. 49, Jakarta Pusat.
Pementasan ini disutradarai oleh Imam Sulewardho, dengan pendekatan artistik yang menggabungkan nilai sejarah, spiritualitas, dan kebangsaan dalam satu panggung kolaboratif lintas organisasi.
Panitia membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin mendukung dan terlibat dalam pementasan ini. Ajakan terbuka disampaikan kepada seluruh elemen masyarakat—seniman, relawan, maupun pecinta seni budaya—untuk turut menyukseskan pementasan tersebut.
“Monggo sederek sedoyo, cing, cang, mpok, abang, nyak, babe, gabung yuk untuk menyukseskan pementasan Putra Sang Pencerah (Episode Soekarno),” demikian ajakan dari penggagas kegiatan.
Kolaborasi NU dan Muhammadiyah dalam ranah seni budaya ini diharapkan menjadi tonggak baru persatuan umat serta bukti bahwa seni dapat menjadi jembatan dakwah dan kebangsaan yang kuat di tengah keberagaman Indonesia.*** (PG)
























