Oleh: Putra Gara
___________

Wartatrans.com, OPINI — Wacana Aceh Leuser Antara (ALA) bukan sekadar soal pemekaran wilayah, melainkan ikhtiar panjang masyarakat dataran tinggi Gayo untuk memperoleh keadilan pembangunan, representasi, dan pengakuan martabat. Dalam konteks ini, kehadiran pemimpin ALA menjadi kebutuhan strategis bagi masa depan Aceh secara keseluruhan, bukan ancaman bagi persatuannya.
ALA lahir dari ruang sosial yang ditempa oleh adat, sejarah, dan daya tahan. Tanah Gayo mengajarkan kepemimpinan yang tidak tergesa-gesa, tetapi pasti; tidak keras dalam kata, namun tegas dalam sikap. Nilai-nilai seperti setie, semayang-gemasih, genap-mupakat, dan amanah menjadi fondasi yang membentuk karakter pemimpin yang mampu memimpin dengan nurani.
Aceh sebagai daerah istimewa membutuhkan pemimpin yang memahami keragaman wilayah dan karakter masyarakatnya. ALA hadir dengan perspektif pedalaman—memahami keterbatasan akses, kesenjangan layanan publik, serta pentingnya pemerataan. Dengan demikian, ia tidak hanya membawa aspirasi Gayo, tetapi juga menawarkan sudut pandang alternatif dalam tata kelola Aceh yang lebih adil dan berimbang.
Isu ALA kerap disalahpahami sebagai gerakan memecah Aceh. Padahal, esensi ALA adalah memperkuat Aceh melalui pemerintahan yang lebih dekat dengan rakyat. Pemimpin ALA Gayo yang matang secara politik dan adat akan mampu merawat dialog, menurunkan ketegangan, dan menjelaskan bahwa perjuangan ini berakar pada konstitusi dan semangat kesejahteraan, bukan perlawanan.
Dalam sejarah Aceh, kekuatan selalu lahir dari kemampuan merangkul perbedaan. Dari pesisir hingga pedalaman, dari adat Aceh hingga adat Gayo, semuanya adalah bagian dari rumah besar Aceh. Pemimpin ALA Gayo berpotensi menjadi jembatan kultural dan politik, menghubungkan aspirasi dataran tinggi dengan kebijakan di tingkat provinsi.
Aceh hari ini memerlukan pemimpin yang berani menyuarakan kebenaran tanpa memecah persaudaraan. Pemimpin ALA Gayo yang ideal adalah sosok yang berakar pada adat, teguh pada konstitusi, dan setia pada Aceh. Ia berdiri bukan untuk meniadakan yang lain, melainkan untuk memastikan tak ada wilayah yang tertinggal.
Dengan kepemimpinan ALA Gayo yang inklusif dan beretika, Aceh dapat melangkah ke depan sebagai daerah yang kuat dalam persatuan, adil dalam pembangunan, dan bermartabat dalam keberagaman. Dari Tanah Gayo, harapan itu terus hidup—untuk Aceh yang utuh, sejahtera, dan berkeadilan.***
– Penulis adalah Pemerhati Sosial dan pelaku budaya.




















