Menu

Mode Gelap
Sastra Semesta #16 Rayakan 7 Tahun, Komunitas Seni Didorong Jadi Penggerak Pemajuan Kebudayaan BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin KAI Percepat Peningkatan Keselamatan Perlintasan Sebidang, 145 Titik Sudah Terealisasi Stasiun Karet dan BNI City Mulai Diintegrasikan, Layanan Penumpang KRL Dialihkan Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports Kapal PELNI Angkut 300 Ton Bantuan ke NTT

RAGAM

Rompi, Relawan, dan Pelajaran Kemanusiaan dari Tanoh Gayo

badge-check


 Rompi, Relawan, dan Pelajaran Kemanusiaan dari Tanoh Gayo Perbesar

Oleh: Termulo Zinger Merala

Ketua Umum PD Pemuda Muhammadiyah Aceh Tengah

_______

Wartatrans.com, KOLOM — Musibah banjir dan longsor yang melanda Tanoh Gayo pada akhir 2025 bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah ujian kemanusiaan—tentang bagaimana negara hadir, bagaimana masyarakat saling menopang, dan bagaimana gerakan solidaritas bekerja di tengah keterbatasan.

Di tengah kerusakan infrastruktur, terputusnya akses jalan, dan kepanikan warga, muncul pula beragam inisiatif relawan. Sebagian terorganisir, sebagian spontan. Dari pengalaman langsung di lapangan, saya belajar bahwa dalam situasi darurat, niat baik saja tidak cukup. Kemanusiaan membutuhkan ketepatan, kolaborasi, dan keberanian untuk bekerja secara sunyi.

Dari Jalur Kritis ke Gerakan Kemanusiaan

Pada 5 Desember 2025, saya bersama rekan-rekan lintas lembaga turun langsung meninjau kondisi jalur KKA—akses vital bagi mobilitas masyarakat Aceh Tengah pascabencana. Kehadiran kami saat itu juga membawa misi advokasi: memastikan percepatan pembukaan jalur benar-benar menjadi prioritas pemerintah daerah.

Hari itu, saya mengenakan rompi Sahabat Safar—rompi sederhana yang awalnya hanya disiapkan untuk kegiatan internal. Tanpa direncanakan, rompi dan kehadiran itu justru menjadi pintu masuk bagi lahirnya gerakan kemanusiaan yang lebih luas. Hingga 12 Desember 2025, kami tergabung dalam Posko Kemanusiaan Kolaborasi Relawan Gayo (PKKRG), sebuah ikhtiar bersama lintas komunitas dan lembaga.

Dari sanalah Sahabat Safar mulai bergerak: membuka donasi, mengajak relawan, dan terlibat langsung dalam penyaluran bantuan serta dukungan psikososial bagi penyintas.

Menghindari “FOMO Relawan”

Salah satu tantangan besar dalam situasi bencana hari ini adalah fenomena yang oleh generasi muda disebut “FOMO relawan”—hadir karena dorongan ikut-ikutan, bukan karena kesiapan dan pemahaman lapangan. Padahal, dalam kondisi krisis, keramaian tidak selalu berbanding lurus dengan kebermanfaatan.

Bersama PKKRG, Sahabat Safar memilih bekerja berbasis asesmen dan data. Pendekatan ini penting untuk mencegah tumpang tindih bantuan, memastikan distribusi tepat sasaran, dan menghindari beban baru bagi penyintas yang justru kerap terjadi akibat relawan yang tidak terkoordinasi.

Dalam kondisi darurat, empati harus berjalan beriringan dengan disiplin. Kemanusiaan yang efektif tidak lahir dari sensasi, melainkan dari ketepatan.

Dari Lingkar Terdekat ke Wilayah Terpencil

Tahap awal bantuan kami salurkan kepada kelompok paling rentan di lingkar terdekat: lansia, keluarga kehilangan mata pencaharian, serta warga terdampak secara ekonomi. Bagi kami, kecepatan adalah kunci—dan sering kali, mereka yang paling dekat justru paling cepat terlewat.

Seiring terkumpulnya donasi, pergerakan diperluas ke berbagai kecamatan terdampak: Ketol, Rusip, Celala, Bintang, Lut Tawar, Linge, hingga Kemukiman Jamat. Kami menyusuri kampung-kampung, tidak hanya membawa logistik, tetapi juga ruang untuk mendengar.

Di banyak titik, kami menyadari satu hal: mendengarkan cerita korban sering kali sama pentingnya dengan bantuan materi. Kehilangan rumah, lahan, dan anggota keluarga meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat nyata.

Belajar dari Bencana ke Bencana

Pengalaman sebagai relawan sejak erupsi Merapi 2010, Gempa Ketol 2013, hingga Gempa Pidie, mengajarkan saya bahwa keterbatasan adalah keniscayaan. Tak ada relawan yang benar-benar siap menghadapi skala penderitaan di lapangan.

Namun justru di situlah nilai kemanusiaan diuji: apakah kita tetap hadir meski sadar bantuan kita kecil? Apakah kita tetap bergerak meski tahu tidak semua bisa diselesaikan?

Saya percaya, bantuan kecil yang tepat sasaran selalu bermakna.

Penutup: Kemanusiaan yang Bertumbuh

Musibah Tanoh Gayo mengajarkan bahwa gerakan kemanusiaan tidak selalu lahir dari rencana besar atau struktur megah. Kadang ia tumbuh dari hal-hal sederhana: sebuah rompi, niat tulus, dan keberanian untuk turun langsung ke lapangan.

Ke depan, kita membutuhkan lebih banyak kolaborasi berbasis data, relawan yang berempati sekaligus disiplin, serta negara yang responsif terhadap suara dari lapangan. Sebab bencana bukan hanya soal alam yang murka, tetapi tentang bagaimana kita, sebagai sesama manusia, memilih untuk saling menguatkan.

Tanoh Gayo telah memberi kita pelajaran penting: kemanusiaan bukan soal siapa yang paling terlihat, melainkan siapa yang paling tepat hadir.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin

29 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports

29 Agustus 2026 - 16:33 WIB

Sumber Air Baku IPA Kudu Menurun, Pelanggan PDAM di Semarang Diminta Siaga

29 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Dua Dekade Menghidupkan Kembali Suara Radio Rimba Raya

29 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Radio Rimba Raya Resmi Ditetapkan Sebagai Situs Cagar Budaya

28 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Kunjungi Green Port Terminal Teluk Lamong, Kemenhub Apresiasi Komitmen TTL Wujudkan Net Zero Emission 2060

28 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Dinsos Tolak Ajuan Keringanan Pasien Miskin Non BPJS di RS dr. Slamet Garut 

28 Agustus 2026 - 18:36 WIB

Ketua DEN Minta Perbaikan Program MBG Lewat Digitalisasi

28 Agustus 2026 - 14:26 WIB

Pemerintah Dorong Industri Baterai Nikel, MOLINAS Masuk Rantai Hilirisasi

28 Agustus 2026 - 13:16 WIB

KIP Dorong Keterbukaan Informasi Tak Sekadar Predikat Informatif

28 Agustus 2026 - 08:49 WIB

Trending di RAGAM