Wartatrans.com, JAKARTA — Penerbit Padasan menegaskan kembali pentingnya penerbitan dan penyebarluasan buku-buku bertema sejarah dan budaya bangsa Tionghoa di Batavia dan Nusantara. Langkah ini dianggap krusial untuk memperkuat pemahaman publik terhadap jejak panjang akulturasi budaya Tionghoa yang telah menjadi bagian integral dari sejarah Indonesia.
Dalam rilisnya, pendiri Penerbit Padasan, Chairil Gibran Ramadhan (CGR), menyampaikan bahwa masyarakat Tionghoa memiliki sejarah interaksi yang sangat panjang dengan Nusantara. Jejak ini terekam dalam tradisi, seni, kuliner, bahasa, dan perkembangan kebudayaan lokal. Penegasan tersebut sejalan dengan narasi Museum Nasional dalam pameran “Kongsi: Akulturasi Tionghoa di Indonesia” tahun 2025, yang menyebut bahwa hubungan tersebut telah berlangsung selama ribuan tahun dan ikut membentuk identitas bangsa.


Beberapa buku yang akan diterbitkan Penerbit Padasan.
Penerbit Padasan menaruh perhatian khusus pada tema ini sejak merilis buku perdananya pada 2011 berjudul “Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya”. Dari sepuluh penulis yang terlibat, tiga di antaranya adalah tokoh keturunan Cina Betawi, yakni Kwee Kek Beng, Tio Ie Soei, dan Oom Piet. Sejak itu, penerbit tersebut merancang sejumlah buku ber-ISBN bertema sejarah-budaya Tionghoa, namun rencana penerbitan terhambat kendala pendanaan.
CGR menyampaikan ironi bahwa banyak lembaga yang dianggap memiliki kedekatan budaya justru tidak menunjukkan minat untuk mendukung kerja intelektual tersebut. “Banyak pihak dengan kemampuan ekonomi besar lebih memilih menghabiskan dana untuk kegiatan seremonial jangka pendek, sementara buku—yang menjadi jejak abadi—sering kali tidak mendapat tempat,” ujarnya.
Untuk menjembatani kesenjangan itu, Penerbit Padasan mengusulkan model penyebaran berupa peluncuran buku, talkshow, serta pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh seni, budaya, sejarah, politik, dan komunitas Tionghoa. Langkah tersebut diyakini dapat menjadi momentum membangkitkan kesadaran generasi muda Tionghoa tentang identitas dan akar sejarah mereka.
Selain menyasar pembaca umum, CGR menilai buku-buku bertema sejarah-budaya Tionghoa sangat berpotensi masuk dalam koleksi kampus internasional seperti Leiden University, Erasmus University, Utrecht University, University of Amsterdam, dan Hamburg University. Kampus dalam negeri seperti UI, UNJ, UHAMKA, UIN Syarif Hidayatullah, dan Universitas Islam As-Syafiiyah juga dipandang sebagai institusi yang dapat memanfaatkan buku tersebut sebagai referensi akademik.
Dengan penerbitan yang berkelanjutan, Padasan berharap literatur mengenai sejarah dan budaya Tionghoa di Indonesia tidak lagi menjadi wacana pinggiran, tetapi dapat memainkan peran penting dalam memperkaya khazanah pengetahuan dan memperkuat jati diri komunitas Tionghoa di Nusantara.*** (Fahmi)










