Wartatrans.com, JAKARTA – Qantas Group mengajukan tambahan kapasitas 4.539 kursi per minggu untuk setiap arah pada rute Australia-Indonesia kepada International Air Services Commission (IASC).
Dalam dokumen Jumat (2/10/2026), permohonan tersebut berstatus ongoing dan diajukan untuk periode lima tahun sejak keputusan regulator diterbitkan.
Kapasitas tambahan itu akan digunakan Qantas dan anak usahanya, Jetstar, untuk layanan baru maupun peningkatan frekuensi mulai Desember 2026.
Rencananya mencakup penerbangan harian Perth-Jakarta mulai 14 Desember 2026, Western Sydney-Denpasar setiap hari mulai 15 Maret 2027, serta pengoperasian kembali Brisbane-Denpasar pada 1 Agustus 2027.
Qantas juga merencanakan penerbangan Melbourne-Jakarta empat kali sepekan mulai 28 Maret 2027 menggunakan Airbus A330-200, sebelum meningkat menjadi layanan harian dengan Airbus A321XLR mulai 31 Oktober 2027.
IASC mencatat kapasitas yang diajukan ditargetkan digunakan penuh paling lambat 1 November 2027.
Ekspansi tersebut berlangsung setelah Australia dan Indonesia memperbarui pengaturan layanan udara bilateral. Menteri Infrastruktur, Transportasi dan Pembangunan Regional Australia Catherine King pada Sabtu (19/9/2026) mengatakan, pengaturan baru itu menambah kapasitas hingga 5.000 kursi per minggu bagi maskapai kedua negara serta membuka akses ke sejumlah destinasi Indonesia di luar Jakarta dan Denpasar.
“Jakarta dan Denpasar sudah menjadi tujuan liburan yang populer bagi warga Australia, sehingga peningkatan kapasitas dan pembukaan destinasi baru di seluruh Indonesia akan menjadi kabar baik bagi semua pihak,” kata King.
Pengaturan tersebut juga membuka akses penerbangan menuju dan dari Western Sydney International.
Dari sisi pasar, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini pada Sabtu (15/8/2026) menyebut Australia sebagai salah satu pasar utama pariwisata Indonesia.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman wisata yang lebih beragam dan berkualitas sehingga wisatawan Australia mengeksplorasi lebih banyak destinasi di Indonesia, tidak hanya Bali dan Jakarta,” ujar Made.
Data BPS yang dikutip Kementerian Pariwisata mencatat kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia mencapai 1.754.791 pada 2025 dan menempatkan Australia sebagai pasar wisman terbesar kedua.
Hingga Juni 2026, jumlahnya mencapai 864.750 kunjungan, naik 6,29 persen secara tahunan, dengan target 2,23 juta kunjungan sepanjang 2026.
Sebelumnya, KBRI Canberra dan KJRI Perth pada Selasa (16/6/2026) menggelar diskusi mengenai konektivitas udara langsung antara Perth dan destinasi wisata Indonesia.
Pertemuan tersebut menyoroti potensi pasar Western Australia yang belum dimanfaatkan optimal dan pentingnya konektivitas langsung untuk mendorong kunjungan ke destinasi di luar Bali.
Pasar Qantas di Indonesia sendiri telah memiliki basis kapasitas yang cukup besar. Dalam keputusan IASC pada 2023, Qantas memeroleh alokasi 14.468 kursi per minggu untuk hak trafik ketiga dan keempat pada rute Indonesia.
Selain itu, Qantas mendapat 2.148 kursi per minggu untuk beyond traffic rights dengan 12 frekuensi per minggu. Keputusan tersebut berlaku lima tahun sejak 25 Oktober 2023 dan kapasitas dapat digunakan Qantas maupun Jetstar.
Secara jaringan, Qantas saat ini melayani penerbangan langsung Jakarta-Sydney, Jakarta-Melbourne, Denpasar-Sydney, dan Denpasar-Melbourne. Qantas juga menyebut lebih dari 1,5 juta warga Australia berkunjung ke Bali setiap tahun, tetapi angka tersebut merupakan ukuran pasar wisatawan Australia ke Bali, bukan jumlah penumpang Qantas.
Bila permohonan 4.539 kursi per minggu disetujui, kapasitas tersebut akan menambah basis Qantas Group di pasar Indonesia sekaligus memperluas jaringan ke Perth, Western Sydney, Brisbane, dan Jakarta.
Namun, angka 4.539 kursi masih berupa permohonan, karena IASC masih membuka pengajuan dari maskapai lain, hingga 19 Oktober 2026. (Artha Tidar)




























