Wartatrans.com, BOGOR — Di Muara Beres, Cibinong, sejarah kerap hadir dalam bentuk yang sederhana. Ia tidak selalu tercatat rapi dalam arsip atau buku pelajaran, tetapi hidup dalam nama, tempat, dan ingatan masyarakat. Salah satu jejak itu adalah nama Syafei yang melekat pada Masjid Al-Atiqiyah—sebuah penanda sunyi tentang seorang tokoh Islam awal bernama Raden Syafei.
Masjid Al-Atiqiyah dikenal sebagai salah satu masjid tua di kawasan Cibinong. Bagi warga setempat, masjid ini bukan hanya pusat ibadah, melainkan juga ruang ingatan. Nama Syafei yang terpatri di dalamnya dipercaya merujuk pada Raden Syafei, sosok yang berperan penting dalam perkembangan Islam di Muara Beres pada masa awal.

Raden Syafei disebut dalam tradisi sejarah lokal sebagai ulama sekaligus bangsawan Sunda, dengan garis keturunan yang terhubung dengan Kerajaan Sunda Pajajaran. Ia hidup pada masa peralihan penting, ketika pengaruh lama perlahan bergeser dan Islam mulai mengakar di Tatar Sunda. Dalam posisi sosial yang strategis itu, Raden Syafei menjadi jembatan antara tradisi dan keyakinan baru.
Islam yang berkembang di Muara Beres bukanlah Islam yang datang dengan penolakan terhadap masa lalu. Melalui tokoh-tokoh seperti Raden Syafei, ajaran Islam disampaikan secara bertahap, menyatu dengan budaya dan adat setempat. Dakwah dilakukan melalui keteladanan dan pengaruh sosial, bukan dengan paksaan. Pola inilah yang membuat Islam diterima dan bertahan kuat hingga kini.
Jejak Raden Syafei memang tidak banyak ditemukan dalam bentuk naskah tertulis. Namun, sejarah lokal kerap bertahan melalui simbol dan ingatan kolektif. Masjid Al-Atiqiyah menjadi salah satu simbol itu—sebuah ruang yang merekam peran tokoh yang bekerja dalam senyap, tetapi meninggalkan dampak panjang bagi kehidupan keagamaan masyarakat.
Hari ini, Cibinong dikenal sebagai wilayah dengan kehidupan Islam yang kuat dan dinamis. Masjid-masjid tumbuh, tradisi keagamaan terawat, dan praktik Islam menyatu dengan budaya lokal. Semua itu merupakan hasil dari proses panjang yang dirintis oleh para tokoh masa lalu, termasuk Raden Syafei.
Menulis kembali kisah Raden Syafei bukan sekadar upaya mengenang sejarah. Ia adalah cara untuk memahami akar, agar masyarakat tidak tercerabut dari perjalanan panjang yang membentuknya. Dalam konteks ini, sejarah lokal menjadi penting—bukan sebagai pelengkap sejarah besar, melainkan sebagai fondasi identitas.
Raden Syafei mungkin tidak dikenal luas di luar Muara Beres. Namun, melalui masjid, tradisi, dan ingatan warga, namanya tetap hidup. Ia menjadi pengingat bahwa sejarah sering kali dibangun oleh tokoh-tokoh yang tidak banyak disebut, tetapi jasanya terus dirasakan lintas generasi.*** (PG)









