Menu

Mode Gelap
Menahun Bertahan Dengan Jalan Rusak, Warga Pakansari Desak Pemkab Bogor Segera Lakukan Perbaikan DAMRI dan BPTD Kelas II Makassar Teken Kontrak Angkutan Perintis Tahun 2026 KKP dan TNI AL Lakukan Survei Hidro-Oseanografi Dukung Pembangunan Tanggul Laut KAI Daop 7 Madiun Dorong Pariwisata Daerah Lewat Program Rail Tour Jawa Timur Jelang Libur Panjang Isra Miraj, Arus Kedatangan Penumpang di Daop 6 Yogyakarta Naik 41 Persen Libur Panjang Isra Mikraj, KAI Catat Lonjakan Perjalanan Penumpang Kereta Api

RAGAM

Raden Syafei, Jejak Sunyi Islam di Muara Beres

badge-check


					Raden Syafei, Jejak Sunyi Islam di Muara Beres Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Di Muara Beres, Cibinong, sejarah kerap hadir dalam bentuk yang sederhana. Ia tidak selalu tercatat rapi dalam arsip atau buku pelajaran, tetapi hidup dalam nama, tempat, dan ingatan masyarakat. Salah satu jejak itu adalah nama Syafei yang melekat pada Masjid Al-Atiqiyah—sebuah penanda sunyi tentang seorang tokoh Islam awal bernama Raden Syafei.

Masjid Al-Atiqiyah dikenal sebagai salah satu masjid tua di kawasan Cibinong. Bagi warga setempat, masjid ini bukan hanya pusat ibadah, melainkan juga ruang ingatan. Nama Syafei yang terpatri di dalamnya dipercaya merujuk pada Raden Syafei, sosok yang berperan penting dalam perkembangan Islam di Muara Beres pada masa awal.

Raden Syafei disebut dalam tradisi sejarah lokal sebagai ulama sekaligus bangsawan Sunda, dengan garis keturunan yang terhubung dengan Kerajaan Sunda Pajajaran. Ia hidup pada masa peralihan penting, ketika pengaruh lama perlahan bergeser dan Islam mulai mengakar di Tatar Sunda. Dalam posisi sosial yang strategis itu, Raden Syafei menjadi jembatan antara tradisi dan keyakinan baru.

Islam yang berkembang di Muara Beres bukanlah Islam yang datang dengan penolakan terhadap masa lalu. Melalui tokoh-tokoh seperti Raden Syafei, ajaran Islam disampaikan secara bertahap, menyatu dengan budaya dan adat setempat. Dakwah dilakukan melalui keteladanan dan pengaruh sosial, bukan dengan paksaan. Pola inilah yang membuat Islam diterima dan bertahan kuat hingga kini.

Jejak Raden Syafei memang tidak banyak ditemukan dalam bentuk naskah tertulis. Namun, sejarah lokal kerap bertahan melalui simbol dan ingatan kolektif. Masjid Al-Atiqiyah menjadi salah satu simbol itu—sebuah ruang yang merekam peran tokoh yang bekerja dalam senyap, tetapi meninggalkan dampak panjang bagi kehidupan keagamaan masyarakat.

Hari ini, Cibinong dikenal sebagai wilayah dengan kehidupan Islam yang kuat dan dinamis. Masjid-masjid tumbuh, tradisi keagamaan terawat, dan praktik Islam menyatu dengan budaya lokal. Semua itu merupakan hasil dari proses panjang yang dirintis oleh para tokoh masa lalu, termasuk Raden Syafei.

Menulis kembali kisah Raden Syafei bukan sekadar upaya mengenang sejarah. Ia adalah cara untuk memahami akar, agar masyarakat tidak tercerabut dari perjalanan panjang yang membentuknya. Dalam konteks ini, sejarah lokal menjadi penting—bukan sebagai pelengkap sejarah besar, melainkan sebagai fondasi identitas.

Raden Syafei mungkin tidak dikenal luas di luar Muara Beres. Namun, melalui masjid, tradisi, dan ingatan warga, namanya tetap hidup. Ia menjadi pengingat bahwa sejarah sering kali dibangun oleh tokoh-tokoh yang tidak banyak disebut, tetapi jasanya terus dirasakan lintas generasi.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menahun Bertahan Dengan Jalan Rusak, Warga Pakansari Desak Pemkab Bogor Segera Lakukan Perbaikan

15 Januari 2026 - 22:09 WIB

DAMRI dan BPTD Kelas II Makassar Teken Kontrak Angkutan Perintis Tahun 2026

15 Januari 2026 - 22:03 WIB

Warga Desa Atu Payung Diusulkan Direlokasi, Ancaman Longsor dari Gunung Kera Kian Mengkhawatirkan

15 Januari 2026 - 19:39 WIB

Akses Jalan Belum Terbuka, 50 Hari Pascabencana Karang Ampar Masih Terisolasi

15 Januari 2026 - 19:32 WIB

Anggota DPR Kesal Menteri KP Tak Beri Tahu Kunjungan ke Aceh Tamiang

15 Januari 2026 - 17:04 WIB

Trending di PERISTIWA