Wartatrans.com, BEKASI — Pagi itu, gema takbir belum sepenuhnya reda ketika ratusan jamaah telah memadati pelataran Masjid An-Nur Vila Besakih, Puri Gading. Saf-saf rapat, wajah-wajah lega. Idul Fitri 1447 H datang sebagai penutup, sekaligus pengingat: Ramadhan telah lewat, tetapi takwa tak boleh ikut surut.
Di balik kekhusyukan sholat yang dipimpin Ustadz Sofyan At-Tsauri, ada satu hal yang tak kalah penting: akuntabilitas. Ketua Panitia Ramadhan, Muhammad Kemal Pasha, membacakan laporan. Angka-angka disusun rapi—pemasukan Rp116.649.000, dengan saldo akhir Rp7.119.000. Bukan sekadar laporan keuangan, melainkan cermin dari kepercayaan jamaah yang dititipkan sepanjang sebulan.

Namun, denyut utama Ramadhan di masjid ini bukan hanya pada angka pemasukan, melainkan pada distribusi. Zakat fitrah terkumpul Rp21.400.000—setara 1.260 kilogram beras—ditambah 352 kilogram titipan langsung. Totalnya, 1.712,5 kilogram beras mengalir ke mereka yang berhak.
Zakat mal menyentuh angka Rp25.450.000, sementara infak dan sedekah mencapai Rp3.250.000. Jika ditarik ke lapangan, angka-angka itu menjelma menjadi bantuan nyata: 131 mustahik dari kalangan pekerja informal—dari asisten rumah tangga hingga petugas keamanan—menerima manfaat langsung. Distribusi meluas ke empat titik wilayah lain, serta 22 proposal eksternal yang menjangkau 210 mustahik tambahan.
Di mimbar khutbah, Ustadz Muhammad Taufik Hudaya tidak berbicara tentang kemenangan dalam arti yang sederhana. Ia mengutip Sayyidina Ali bin Abi Thalib: takwa bukan sekadar rasa takut, tetapi juga disiplin menjalankan Al-Qur’an, kemampuan menahan diri, dan kesiapan menghadapi akhir.
“Takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya,” ujarnya, singkat, nyaris tanpa jeda.
Di sinilah Idul Fitri menemukan maknanya yang lebih sunyi. Bukan pada gema takbir atau hidangan yang tersaji, melainkan pada satu hal yang lebih dalam: apakah Ramadhan benar-benar meninggalkan bekas?
Menariknya, seluruh rangkaian kegiatan Ramadhan di Masjid An-Nur Vila Besakih tahun ini digerakkan oleh tangan-tangan muda. Komunitas remaja “Numazteen” mengambil peran sebagai panitia. Dari Tarhib hingga Iktikaf, dari Tahsin hingga kajian Riyadus Shalihin, mereka menjadi motor penggerak—membuktikan bahwa regenerasi bukan sekadar wacana.
Selepas doa penutup, jamaah saling bersalaman. Halal bihalal berlangsung hangat, penuh senyum yang mungkin lebih jujur daripada kata-kata. Di titik ini, Ramadhan benar-benar usai.
Yang tersisa tinggal satu pertanyaan sederhana: apakah nilai-nilai yang dibangun selama sebulan itu akan bertahan, atau perlahan menguap bersama waktu? Semoga kita bisa berjumpa kembali du Ramadhan mendatang.*** (Daus)

























