Menu

Mode Gelap
Rayakan Liburan dengan Perjalanan Hemat, DAMRI Hadirkan Promo “Twin Date 4.4 Kelola 196 Ribu Penumpang, Pelindo Regional 2 Pastikan Kelancaran Arus Lebaran 2026 KAI Daop 7 Madiun Layani 492 Ribu Pelanggan Selama Angkutan Lebaran 2026 Awal Libur Panjang Paskah, Volume Penumpang Kereta Api Tembus 183 Ribu KCIC Imbau Masyarakat Pesan Tiket Whoosh Lebih Awal Jelang Libur Panjang Paskah Dukung Persiapan Konsumsi Jemaah Haji, Garuda Terbangkan 15 Ton Makanan Siap Saji ke Jeddah

RAGAM

Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ

badge-check


 Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ Perbesar

Oleh: Yusrizal Ibrahim Lamno

_________

Wartatrans.com, BANDA ACEH — Hujan lebat tak menyurutkan langkah ratusan warga yang memadati halaman Rumah Sakit Jiwa Aceh, Senin malam. Sekitar 500 kursi disiapkan panitia, namun jumlah penonton melebihi perkiraan. Sebagian penonton bahkan rela duduk di atas terpal yang dibentangkan di atas konblok basah demi menyaksikan pemutaran film NOEH (Pasung), sebuah film edukatif yang mengangkat isu kemanusiaan dan upaya penghapusan stigma terhadap Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ).

Film yang disutradarai Davi Abdullah tersebut mengisahkan Ishak, seorang lelaki dengan gangguan jiwa yang dipasung oleh orang-orang terdekatnya. Tokoh Ishak diperankan oleh Djamal Sharief. Praktik pasung dalam film digambarkan sebagai tindakan yang kerap dianggap wajar oleh lingkungan sekitar—sebuah kewajaran semu yang lahir dari ketakutan, prasangka, dan keterbatasan pemahaman.

Tokoh Zulfan tampil sebagai penggerak nurani. Ia mempertanyakan pasung bukan melalui konflik fisik, melainkan melalui perlawanan gagasan. Perjuangannya memperlihatkan benturan antara tradisi yang membeku dan empati yang berusaha bergerak maju. Penolakan keluarga, kecurigaan warga, hingga cara pandang lama yang menempatkan ODGJ sebagai ancaman menjadi rintangan utama dalam narasi film tersebut.

Secara dramatik, NOEH (Pasung) disajikan dengan alur yang tenang dan cenderung linear. Pendekatan ini memperlihatkan latar belakang sang sutradara yang kuat dalam film dokumenter. Kamera tidak mengeksploitasi penderitaan, melainkan menempatkan ODGJ sebagai subjek yang bermartabat. Film ini lebih memilih jalur edukasi ketimbang sensasionalisme.

Keistimewaan lain dari film ini adalah keterlibatan pasien dan petugas RSJ Aceh sebagai bagian dari pemeran. Sejumlah nama seperti Zefa, Kuratu, R. Aulia, Isma Bahari, dan Muna tampil dengan akting yang natural. Keterlibatan mereka menghadirkan nuansa autentik, menipiskan jarak antara fiksi dan realitas yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

Peristiwa pemutaran film itu sendiri menjadi bagian penting dari pesan yang disampaikan. Hujan deras tidak membubarkan penonton—sebuah “hujan tak bubar” yang mematahkan anggapan bahwa cuaca akan memutus perhatian publik. Sekat tempat duduk yang lazim pun melebur secara alami tanpa menimbulkan kegaduhan. Solidaritas sosial justru menguat di tengah keterbatasan.

Film ini menegaskan bahwa pasung bukanlah solusi medis, melainkan ironi sosial yang lahir dari ketakutan dan minimnya akses layanan kesehatan jiwa. Dalam konteks Aceh, pesan tersebut menjadi sangat relevan, mengingat praktik pasung masih kerap dijumpai di sejumlah wilayah.

Jika ruang-ruang publik dan institusi terus membuka diri bagi pemutaran film edukatif semacam ini, bukan tidak mungkin industri kreatif lokal Aceh menemukan momentumnya sebagai sarana advokasi sosial. NOEH (Pasung) mungkin bukan film dengan pencapaian teknis yang spektakuler, namun ia menjadi penanda penting bahwa sinema dapat menjadi jembatan antara rumah sakit dan masyarakat, antara stigma dan pemahaman.

Pemutaran film tersebut ditutup dengan tepuk tangan panjang dari para penonton. Di bawah hujan lebat yang tak menyurutkan langkah, rantai—setidaknya di layar—akhirnya terlepas.***

____________

Keterangan Penulis:

Yusrizal Ibrahim Lamno adalah warga Banda Aceh, pemerhati sosial, seni, budaya, dan politik, yang peduli pada kemaslahatan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rayakan Liburan dengan Perjalanan Hemat, DAMRI Hadirkan Promo “Twin Date 4.4

2 April 2026 - 23:40 WIB

Kelola 196 Ribu Penumpang, Pelindo Regional 2 Pastikan Kelancaran Arus Lebaran 2026

2 April 2026 - 23:02 WIB

Dukung Persiapan Konsumsi Jemaah Haji, Garuda Terbangkan 15 Ton Makanan Siap Saji ke Jeddah

2 April 2026 - 19:36 WIB

Cerita dari Bukit Sinyonya: FIFGROUP Wujudkan Desa Sejahtera dan Sekolah yang Lebih Layak 

2 April 2026 - 18:29 WIB

Advokad Wahyudi Perkuat Lini Hukum Wartatrans.com, Respons Meningkatnya Risiko Sengketa Media Digital

2 April 2026 - 16:48 WIB

Pengaturan Gate Pass Terkoordinasi dan Terukur, Arus Barang di Pelabuhan Tanjung Priok Tetap Lancar

2 April 2026 - 16:45 WIB

Advokat Nourman, SH Gabung Di Wartatrans.com sebagai Kuasa Hukum, Perkuat Profesionalisme Media

2 April 2026 - 16:32 WIB

Sumur Bor untuk Warga Terdampak Bencana di Aceh Utara Rampung, Aktivis: Ini Awal Pemulihan

2 April 2026 - 15:49 WIB

Pengukuhan Imuem Syiek Abu Indrapuri Picu Polemik, Kuasa Hukum BKM Minta Polda Periksa Bupati Aceh Besar

2 April 2026 - 14:56 WIB

Di Galery Ruang Darmin, Yahya TS Tegaskan Identitas Betawi Lewat Pameran “Betawie Punye Yahye”

2 April 2026 - 09:20 WIB

Trending di RAGAM