Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Suasana hangat dan penuh keakraban terasa sejak pagi ketika para relawan dari berbagai latar belakang berkumpul dalam kegiatan pelatihan kemanusiaan yang digelar pada 22–23 April 2026 di Aceh Tengah. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang peningkatan kapasitas, tetapi juga ruang berbagi, belajar, dan memulihkan energi bagi para relawan yang selama ini berada di garis depan penanganan persoalan sosial dan kebencanaan.
Pelatihan secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Aceh Tengah, Drs. Windi Darsa, SH., MM. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya penguatan kapasitas relawan, khususnya dalam memberikan layanan dukungan psikososial kepada masyarakat terdampak.

Mengusung tema “Penguatan Petugas dan Mekanisme Rujukan Layanan Dukungan Psikososial”, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Indonesia Humanitarian Coordination Platform (IHCP), Dompet Dhuafa, Kidzsmile Foundation, serta Sahabat Safar.
Peserta yang hadir berasal dari beragam unsur, di antaranya UPTD PPA Bener Meriah, Dinas Sosial Bener Meriah, PMI, Dinas Kesehatan Aceh Tengah, MDMC Aceh Tengah, Tagana, PSM (Pekerja Sosial Masyarakat), seniman, serta berbagai komunitas sosial lainnya. Mereka datang dengan tujuan yang sama, yakni memperkuat kapasitas diri agar mampu memberikan layanan yang lebih optimal bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan ini menghadirkan fasilitator berpengalaman, antara lain Idzma Mahayattika, S.E., M.Pd dari Kidzsmile Foundation, Wahyu Sugeng Triadi dari IHCP, Ismi Niara Bina, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari UPTD PPA Bener Meriah, serta Harmala atau Kresna dari HIMPSI.
Berbeda dari pelatihan formal pada umumnya, sesi-sesi dalam kegiatan ini dikemas secara interaktif dan menyentuh sisi emosional peserta. Salah satu materi yang paling berkesan adalah teknik stabilisasi emosi. Melalui metode sederhana namun efektif, peserta diajak untuk mengenali, menerima, dan mengelola emosi mereka.
Tak sedikit peserta yang larut dalam suasana pelatihan. Tawa, keharuan, hingga rasa lega menyatu dalam proses yang menjadikan ruangan sebagai ruang aman—tempat setiap individu dapat mengekspresikan diri tanpa rasa takut dihakimi.
“Materi yang disampaikan bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi penguat bagi kami secara pribadi,” ujar salah satu peserta.
Para fasilitator dinilai mampu membangun kedekatan dengan peserta melalui pendekatan yang hangat, komunikatif, dan penuh empati. Materi yang disampaikan pun tidak hanya bersifat teoritis, melainkan berbasis pengalaman nyata yang relevan dengan kondisi di lapangan.
Pelatihan ini tidak hanya menekankan pentingnya membantu orang lain, tetapi juga mengingatkan relawan akan urgensi merawat kesehatan mental diri sendiri. Relawan yang kuat secara psikologis dinilai akan lebih mampu memberikan dukungan yang berkualitas kepada para penyintas.
Selain itu, kegiatan ini turut memperkuat jejaring antar lembaga dan komunitas. Mekanisme koordinasi dan rujukan layanan yang sebelumnya berjalan secara terpisah, mulai diarahkan menjadi lebih terstruktur dan terintegrasi.
Di tengah berbagai tantangan sosial dan kebencanaan di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, pelatihan ini menjadi langkah penting dalam membangun ketahanan relawan sekaligus menumbuhkan harapan.*** (Kamaruzzaman)
Harapan bahwa di balik setiap luka, selalu ada ruang untuk pulih. Dan di balik setiap relawan, ada semangat yang terus tumbuh untuk menguatkan—bukan hanya orang lain, tetapi juga dirinya sendiri.

























