Oleh: Termulo Zinger Merala
Ketua Umum PD Pemuda Muhammadiyah Aceh Tengah

_______
Wartatrans.com, KOLOM — Musibah banjir dan longsor yang melanda Tanoh Gayo pada akhir 2025 bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah ujian kemanusiaan—tentang bagaimana negara hadir, bagaimana masyarakat saling menopang, dan bagaimana gerakan solidaritas bekerja di tengah keterbatasan.
Di tengah kerusakan infrastruktur, terputusnya akses jalan, dan kepanikan warga, muncul pula beragam inisiatif relawan. Sebagian terorganisir, sebagian spontan. Dari pengalaman langsung di lapangan, saya belajar bahwa dalam situasi darurat, niat baik saja tidak cukup. Kemanusiaan membutuhkan ketepatan, kolaborasi, dan keberanian untuk bekerja secara sunyi.
Dari Jalur Kritis ke Gerakan Kemanusiaan
Pada 5 Desember 2025, saya bersama rekan-rekan lintas lembaga turun langsung meninjau kondisi jalur KKA—akses vital bagi mobilitas masyarakat Aceh Tengah pascabencana. Kehadiran kami saat itu juga membawa misi advokasi: memastikan percepatan pembukaan jalur benar-benar menjadi prioritas pemerintah daerah.
Hari itu, saya mengenakan rompi Sahabat Safar—rompi sederhana yang awalnya hanya disiapkan untuk kegiatan internal. Tanpa direncanakan, rompi dan kehadiran itu justru menjadi pintu masuk bagi lahirnya gerakan kemanusiaan yang lebih luas. Hingga 12 Desember 2025, kami tergabung dalam Posko Kemanusiaan Kolaborasi Relawan Gayo (PKKRG), sebuah ikhtiar bersama lintas komunitas dan lembaga.
Dari sanalah Sahabat Safar mulai bergerak: membuka donasi, mengajak relawan, dan terlibat langsung dalam penyaluran bantuan serta dukungan psikososial bagi penyintas.
Menghindari “FOMO Relawan”
Salah satu tantangan besar dalam situasi bencana hari ini adalah fenomena yang oleh generasi muda disebut “FOMO relawan”—hadir karena dorongan ikut-ikutan, bukan karena kesiapan dan pemahaman lapangan. Padahal, dalam kondisi krisis, keramaian tidak selalu berbanding lurus dengan kebermanfaatan.

Bersama PKKRG, Sahabat Safar memilih bekerja berbasis asesmen dan data. Pendekatan ini penting untuk mencegah tumpang tindih bantuan, memastikan distribusi tepat sasaran, dan menghindari beban baru bagi penyintas yang justru kerap terjadi akibat relawan yang tidak terkoordinasi.
Dalam kondisi darurat, empati harus berjalan beriringan dengan disiplin. Kemanusiaan yang efektif tidak lahir dari sensasi, melainkan dari ketepatan.
Dari Lingkar Terdekat ke Wilayah Terpencil
Tahap awal bantuan kami salurkan kepada kelompok paling rentan di lingkar terdekat: lansia, keluarga kehilangan mata pencaharian, serta warga terdampak secara ekonomi. Bagi kami, kecepatan adalah kunci—dan sering kali, mereka yang paling dekat justru paling cepat terlewat.
Seiring terkumpulnya donasi, pergerakan diperluas ke berbagai kecamatan terdampak: Ketol, Rusip, Celala, Bintang, Lut Tawar, Linge, hingga Kemukiman Jamat. Kami menyusuri kampung-kampung, tidak hanya membawa logistik, tetapi juga ruang untuk mendengar.
Di banyak titik, kami menyadari satu hal: mendengarkan cerita korban sering kali sama pentingnya dengan bantuan materi. Kehilangan rumah, lahan, dan anggota keluarga meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat nyata.
Belajar dari Bencana ke Bencana
Pengalaman sebagai relawan sejak erupsi Merapi 2010, Gempa Ketol 2013, hingga Gempa Pidie, mengajarkan saya bahwa keterbatasan adalah keniscayaan. Tak ada relawan yang benar-benar siap menghadapi skala penderitaan di lapangan.
Namun justru di situlah nilai kemanusiaan diuji: apakah kita tetap hadir meski sadar bantuan kita kecil? Apakah kita tetap bergerak meski tahu tidak semua bisa diselesaikan?
Saya percaya, bantuan kecil yang tepat sasaran selalu bermakna.
Penutup: Kemanusiaan yang Bertumbuh
Musibah Tanoh Gayo mengajarkan bahwa gerakan kemanusiaan tidak selalu lahir dari rencana besar atau struktur megah. Kadang ia tumbuh dari hal-hal sederhana: sebuah rompi, niat tulus, dan keberanian untuk turun langsung ke lapangan.
Ke depan, kita membutuhkan lebih banyak kolaborasi berbasis data, relawan yang berempati sekaligus disiplin, serta negara yang responsif terhadap suara dari lapangan. Sebab bencana bukan hanya soal alam yang murka, tetapi tentang bagaimana kita, sebagai sesama manusia, memilih untuk saling menguatkan.
Tanoh Gayo telah memberi kita pelajaran penting: kemanusiaan bukan soal siapa yang paling terlihat, melainkan siapa yang paling tepat hadir.***




















