Menu

Mode Gelap
Saidy Poe, Sastrawan Rendah Hati dengan 12 Buku Puisi dan Segudang Karya Pastikan Layanan Aman saat Lebaran, KAI Lakukan Inspeksi Jalur Selatan dengan Kereta Luar Biasa Dukung Puskesmas Pesisir, Terminal Teluk Lamong Salurkan Bantuan Alat Kesehatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis dan Pembagian Sembako Warnai Program Bulan K3 Nasional 2026 di Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Dukung Stimulus Pemerintah 30 Persen, KAI Siapkan Lebih dari 1,2 Juta Tempat Duduk selama Angkutan Lebaran Sambut Angkutan Lebaran 2026, KAI Daop 6 Yogya Gencarkan Sosialisasi Keselamatan di Perlintasan Sebidang

Uncategorized

Saidy Poe, Sastrawan Rendah Hati dengan 12 Buku Puisi dan Segudang Karya

badge-check


 Saidy Poe, Sastrawan Rendah Hati dengan 12 Buku Puisi dan Segudang Karya Perbesar

Wartatrans. Lcom, JAKARTA — Tanpa banyak bicara, apalagi gemar mengklaim diri sebagai seniman atau budayawan, Saidy Poe justru membuktikan eksistensinya lewat karya. Dengan langkah senyap, ia telah melahirkan 12 buku puisi—sebuah capaian yang jauh dari kata sederhana di dunia sastra Indonesia.

Kerendahan hati menjadi ciri khas penyair yang juga dikenal sebagai desainer grafis dan pencipta lagu ini. Saat dihubungi awak media melalui sambungan telepon, Saidy Poe memilih merendah dan menjauh dari pujian.

“Aku tuh isone nggawe puisi, ngamen, nggawe lagu, sama desain proposal dan karya cetak lainnya. Apa yang mau dibanggakan,” ujar Saidy singkat.

Buku puisi terbarunya yang ke-12 berjudul Puisiku Isinya Bernyanyi, dengan subjudul Serupa, Dua Sisi di Satu Ruang, dijadwalkan rilis pada 21 April 2026. Menariknya, peluncuran buku tersebut akan digelar berbarengan dengan peringatan Ulang Tahun ke-12 Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia.

Pada momentum tersebut, FORWAN juga akan menggelar kegiatan bakti sosial bertajuk #FORWANPeduli, dengan berbagi kepada 1.200 anak yatim piatu, dhuafa, dan anak terlantar di 12 panti asuhan wilayah Jabodetabek.

“Saya numpang rilis buku puisi ke-12 bareng FORWAN, organisasi yang menaungi saya sebagai wartawan. Kebetulan FORWAN juga menggelar baksos dalam rangka ulang tahunnya yang ke-12,” ungkap Saidy Poe.

Ketua Umum FORWAN Indonesia, Sutrisno Buyil, mengaku terkejut mengetahui bahwa sosok Saidy Poe yang selama ini dikenal sederhana dan kerap dimintai bantuan membuat desain proposal kegiatan FORWAN, ternyata merupakan sastrawan produktif dengan karya yang luar biasa.

“Mas Saidy itu orangnya humble, nggak nyeniman seperti kebanyakan sastrawan. Ini seniman sesungguhnya. Tidak berkoar-koar mengaku seniman dan budayawan, tapi karyanya nyata. Menerbitkan 12 buku puisi bukan perkara gampang, dan Mas Saidy sudah membuktikannya,” ujar Buyil dengan nada kagum.

Kekaguman Buyil bertambah ketika mengetahui Saidy Poe juga seorang pencipta lagu. Bahkan, lagu terbarunya berjudul

“Anugerah Kartini” lahir atas permintaan langsung Buyil untuk FORWAN.

“Kalau saya tanya kenapa proposal telat, alasannya selalu lagi ngamen, buat dapur dan biaya sekolah anaknya. Dari situ saya iseng ngetes, saya minta Mas Saidy bikin hymne Anugerah Kartini Musik dan Film milik FORWAN,” tutur Buyil.

Setelah permintaan tersebut disampaikan, Saidy Poe sempat ‘menghilang’ hampir lebih dari sebulan. Namun kejutan datang tanpa banyak janji.

“Suatu pagi saya bangun, buka handphone, tiba-tiba ada kiriman syair Anugerah Kartini lengkap dengan musiknya. Surprise. Mas Saidy itu bukan tipe banyak janji, tapi selalu memberikan bukti. Orangnya sangat komitmen,” pungkas Buyil.

Rekam Jejak Panjang di Dunia Sastra dan Budaya

Jauh sebelum dikenal sebagai penyair produktif, pada 2004 Saidy Poe telah ikut mendirikan gerakan budaya Budaya Qta bersama inisiatornya, Brigjen Pol (Purn) Said Junus RM, SH, MBA. Gerakan ini berfokus pada pengembangan jiwa seni, kreativitas, dan karakter generasi muda.

Tonggak penting perjalanan Saidy Poe terjadi pada 2014. Melalui Budaya Qta, ia memprakarsai Rekor Dunia Buku Kumpulan Puisi Tertebal, setebal 99 sentimeter, yang ditulis oleh 16.180 siswa se-Kota Bogor. Rekor tersebut hingga kini belum terpecahkan dan menjadi titik balik perjalanan kepenyairannya.

Pengalaman memrakarsai berbagai Rekor Dunia menuntut Saidy Poe menguasai banyak keterampilan, mulai dari desain grafis, video editing, penciptaan lagu, pembuatan website, hingga membangun kerja tim dalam berbagai event seni dan budaya.

Perjumpaannya dengan penyair senior Uda Iwan Soekri Munaf saat mempuisikan lukisan karya pelukis Kota Bogor menjadi babak penting lainnya. Ia kemudian dipercaya menjadi admin grup WhatsApp Penyair Indonesia, yang menguatkan tekadnya berkarya secara disiplin dengan prinsip Satu Hari Satu Karya.

Disiplin tersebut membuahkan hasil. Hingga kini, lebih dari seribu judul puisi telah ia hasilkan dan dibukukan dalam 12 kumpulan puisi, di antaranya Lukisan-Lukisan Berpuisi, e Penyair, THELS, Wagita, dan Ruang Terbuang. Sejumlah karyanya juga terpublikasi rutin di media siber Trenz Indonesia dan Sumatera Daily. Ia pun dipercaya mengelola program Poemsdaily, yang memberi ruang bagi penyair muda berbakat tampil di media siber di luar media sosial.

Tak berhenti di puisi, Saidy Poe terus berinovasi dalam musikalisasi puisi Nusantara. Ia bahkan turun langsung ke jalan sebagai pengamen—bukan sekadar untuk bertahan hidup, melainkan sebagai sarana menghafal lagu-lagu ciptaannya dan mengasah mental. Dari aktivitas ini, ia mencatatkan dua Rekor Dunia Mengamen Terlama, yakni 120 jam dan 179 jam non-stop, yang hingga kini belum terpecahkan.

Saidy Poe lahir di Pasuruan pada 8 Februari 1971, bertepatan dengan hari jadi kota kelahirannya. Ia menempuh pendidikan tinggi di Malang (1990–2000) dan pernah menjadi asisten dosen di bidang matematika ekonomi, ekonomi makro, komputer, serta manajemen proyek mikro. Ia juga aktif berorganisasi di HMI, IMM, dan FDME, serta berpengalaman di dunia marketing dan LSM.

Memasuki 2026, Saidy Poe bersiap memprakarsai proyek baru: buku puisi daerah bertajuk Bhinneka Tunggal Ika, yang diharapkan menjadi hadiah istimewa bagi bangsa Indonesia pada peringatan Hari Kemerdekaan RI 2026.

Dengan karya sastra, musik, dan dedikasi yang dijalani tanpa hingar-bingar, Saidy Poe membuktikan bahwa seniman sejati tak perlu berisik—cukup berkarya, dan sejarah yang akan berbicara. (Tebe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Relawan Satria Kencana Nusantara Distribusikan 100 Ton Air Bersih untuk Korban Bencana di Lereng Gunung Slamet

10 Februari 2026 - 20:20 WIB

PT PHE Salurkan Bantuan Kebersihan dan Perlengkapan Memasak untuk Warga Desa Lubok Pusaka

10 Februari 2026 - 19:40 WIB

Regenerasi Tim Marketing, Lembaga Psikologi Libatkan Mahasiswa Jabodetabek

10 Februari 2026 - 15:53 WIB

Bupati Bogor Tetapkan Desa Gunung Putri sebagai Prototipe Desa Percontohan 2026

9 Februari 2026 - 22:19 WIB

Pameran Tunggal Sonny Eska Angkat Makna “Atas Nama” dalam Perspektif Seni

8 Februari 2026 - 23:51 WIB

Trending di RAGAM