Wartatrans.com, BOGOR — Sanggar Seni Surawisesa bersama para pemerhati sejarah menggelar diskusi tentang nasab dan silsilah leluhur di Sekretariat Sanggar Seni Surawisesa, Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (1/1/2026).
Diskusi yang berlangsung santai tersebut menjadi agenda pembuka awal tahun 2026, sekaligus upaya melihat progres dan arah kegiatan sanggar ke depan dengan menelusuri kembali akar sejarah para leluhur.

“Mengawali awal tahun ini, kami ingin melihat progres giat ke depan. Salah satunya dengan mengadakan diskusi santai terkait silsilah atau nasab para leluhur kita,” ungkap Ketua Yayasan Seni Budaya Surawisesa, Rd. Dadang Supadma.
Dadang menjelaskan, wilayah Karadenan dan sekitarnya diyakini memiliki keterkaitan erat dengan masa kekuasaan Prabu Surawisesa. Hal tersebut menjadi alasan mengapa di daerah itu banyak masyarakat yang menyandang gelar Raden.
Menurutnya, penggunaan gelar tersebut tidak dimaknai sebagai simbol status sosial, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian sejarah leluhur.
“Gelar Raden hanya sebagai bentuk penghargaan kita kepada leluhur yang telah mewariskan silsilah tersebut. Tidak ada maksud lain, kecuali sebagai upaya pelestarian,” jelasnya.
Meski kejayaan masa silam telah berlalu, Dadang menyebut sejumlah jejak sejarah masih dapat dijumpai di kawasan tersebut. Di antaranya museum keris dan pusaka peninggalan era kerajaan, serta sebuah masjid yang diyakini sebagai masjid tertua di wilayah Bogor.
“Karena itulah kita berkumpul hari ini, untuk menemukan benang merah dan kejujuran silsilah dari berbagai daerah yang masih sejalur dengan sejarah Muara Beres dan Prabu Siliwangi,” ujarnya.
Diskusi ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman sejarah lokal, sekaligus memperkuat kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga dan merawat warisan budaya serta nilai-nilai leluhur.*** (Septi)










