Wartatrans.com, BANDA ACEH — Akhirnya, sampai juga kita pada satu masa yang tak terelakkan: ketika para seniman tua mulai merapikan tasnya, beranjak dari persinggahan panjang dalam menjaga ruang ideal yang kini terasa makin tidak realistis.
Zaman telah berubah. Pertarungan dalam dunia seni bukan lagi sekadar soal gagasan dan karya, tetapi juga tentang perhatian, nilai, dan relevansi di tengah masyarakat yang kini lebih rasional dalam menakar masa depan. Patron lama mulai berdebu, dan penghormatan berbasis relasi perlahan kehilangan daya tawarnya.

Hari ini, seniman tidak lagi bisa bertumpu pada “salam hormat” dan “salam tempel”. Ini adalah era karya—di mana yang berbicara bukan lagi nama, tetapi hasil.
Ironisnya, dalam perubahan besar ini, posisi seniman Indonesia justru tampak melemah. Mereka tidak lagi berdiri sebagai agen perubahan dalam lanskap pemikiran bangsa, negara, dan kebudayaan. Seniman seakan berada dalam fase gamang: sayang untuk ditinggalkan, namun juga kehilangan daya untuk memimpin arah.
Di banyak komunitas, senioritas tak lagi cukup. Generasi Z dan milenial mulai jenuh dengan narasi “zaman saya dulu”. Mereka menuntut bukti, bukan cerita. Mereka mencari relevansi, bukan nostalgia.
Di tengah situasi ini, kecerdasan buatan (AI) hadir sebagai fenomena baru. Sayangnya, bagi sebagian seniman, AI bukan dimanfaatkan sebagai alat eksplorasi, melainkan dijadikan pelarian.
Ia menjadi resep instan, bahkan pembelaan diri atas ketertinggalan. Lebih memprihatinkan lagi, ketika teknologi ini justru digunakan untuk meloloskan karya-karya yang miskin kedalaman.
Peran kritikus pun tak luput dari krisis. Mereka tak lagi cukup hanya berbekal teori dan posisi. Kritikus dituntut memahami dunia digital, membaca perubahan perilaku manusia, serta mampu bergerak lincah dalam lanskap teknologi. Tanpa itu, kritik hanya akan menjadi gema kosong—atau lebih buruk, sekadar alat kepentingan kelompok.
Dalam konteks inilah muncul apa yang bisa disebut sebagai “seniman bonsai”. Mereka adalah seniman yang hidup, tetapi tidak tumbuh. Dirawat secukupnya, dipoles secukupnya, diberi ruang yang terbatas agar tetap tampak ada—namun tanpa daya ekspansi.
Kreativitasnya dipangkas, keberaniannya dibatasi, dan akhirnya hanya menjadi ornamen dalam ekosistem yang stagnan.
Lebih jauh, praktik daur ulang karya menjadi gejala yang kian lumrah. Karya lama dipoles, diganti judul, lalu dipasarkan kembali sebagai sesuatu yang baru.
Ini bukan sekadar kemalasan kreatif, tetapi juga bentuk pengabaian terhadap kejujuran artistik. Di era keterbukaan informasi, publik tidak lagi mudah dibohongi.
Relasi antara seniman dan masyarakat pun mengalami erosi. Karya sering kali lebih ditentukan oleh “siapa mendukung siapa” dibandingkan dengan nilai yang dibawanya. Dalam kondisi ini, seniman kehilangan perannya sebagai suara terakhir yang jernih—yang seharusnya mampu menyampaikan nilai kemanusiaan dan mengoreksi kekuasaan.
Tak jarang pula, seniman terjebak dalam permainan harga—bahkan merendahkan nilai dirinya sendiri demi bertahan dalam sistem proyek dan bantuan. Tradisi ini terus berulang, tanpa pernah benar-benar dipertanyakan asal-usul dan dampaknya.
Akhirnya, proses pun tidak lagi menjadi hal utama. Selama hasil bisa didapat secara instan—sim salabim—maka proses dianggap tidak penting.
Di sinilah kita berdiri hari ini: di antara kebutuhan akan pembaruan dan kebiasaan lama yang sulit ditinggalkan.
Pertanyaannya sederhana, namun mendasar—apakah kita ingin menjadi seniman yang tumbuh, atau sekadar bertahan seperti bonsai?***
— Muhrain,
Banda aceh.1.Mei.2026

























