Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

SENI BUDAYA

Halimah Munawir: Buruh, Pengusaha, dan Budaya – Tiga Sisi Mata Uang yang Tak Terpisahkan

badge-check


 Halimah Munawir: Buruh, Pengusaha, dan Budaya – Tiga Sisi Mata Uang yang Tak Terpisahkan Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Relasi antara buruh, pengusaha, dan budaya dinilai sebagai tiga sisi dari mata uang yang sama dalam perjalanan sejarah industri di Indonesia. Dinamika hubungan ini telah mengalami pasang surut sejak masa kolonial hingga era reformasi, hal itu diungkapkan Halimah Munawir di Hari Buruh – 1 Mei, 2026.

Lebih jauh Halimah mengungkapkan, sejarah mencatat, embrio “budaya buruh” mulai tumbuh ketika pemerintah kolonial Belanda mengembangkan sektor perkebunan, pertambangan, dan industri pabrik. Sistem kerja berat dengan upah rendah memicu keresahan di kalangan pekerja. Kondisi tersebut mendorong lahirnya kesadaran kolektif buruh, yang kemudian diperkuat oleh pengaruh ideologi sosialisme serta gerakan buruh internasional. Dari sinilah cikal bakal serikat buruh mulai terbentuk.

“Memasuki era Orde Lama, pergerakan buruh Indonesia mengalami kebangkitan signifikan. Peringatan Hari Buruh pada 1 Mei pertama kali digaungkan secara terbuka di Yogyakarta, dengan pidato berapi-api Presiden Soekarno yang membakar semangat kaum pekerja. Dalam periode ini, buruh tidak hanya menjadi kekuatan ekonomi, tetapi juga menjelma sebagai kekuatan politik yang diperhitungkan. Pemerintah dan kalangan pengusaha pun memberikan ruang lebih luas bagi eksistensi buruh,” ungkap Halimah Munawir.

Namun situasi berubah drastis pada masa Orde Baru. Pemerintah saat itu memandang gerakan buruh sebagai potensi ancaman, sehingga berbagai aktivitas serikat pekerja dibatasi bahkan dibungkam. Kebebasan berekspresi buruh mengalami penyempitan, dan peran mereka dalam ruang publik pun meredup.

Kebangkitan kembali gerakan buruh terjadi pada era reformasi. Seiring terbukanya ruang demokrasi, buruh kembali memperoleh hak untuk berserikat dan menyuarakan aspirasi. Hari Buruh pun kembali diperingati secara luas sebagai simbol perjuangan dan solidaritas pekerja.

‘Kini, hubungan antara buruh, pengusaha, dan budaya kerja menjadi refleksi penting dalam membangun ekosistem industri yang adil dan berkelanjutan. Momentum Hari Buruh setiap 1 Mei menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara ketiganya adalah kunci bagi kemajuan bersama,” tutup Halimah. *** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

3 Juli 2026 - 02:26 WIB

BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan

2 Juli 2026 - 22:05 WIB

Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan

2 Juli 2026 - 21:58 WIB

Tangis Haru Iringi Peresmian Akses Enang-Enang, Gotong Royong Akhiri Keterisolasian Warga

2 Juli 2026 - 16:23 WIB

Kepala BNN RI Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Sambut Hari Bhayangkara ke-80

2 Juli 2026 - 13:08 WIB

Gelar RUPS Tahunan, PT Pelindo Solusi Maritim Catat Pertumbuhan Kinerja Positif pada 2025

2 Juli 2026 - 13:06 WIB

Yayasan HAkA Dampingi Perempuan Beutong Bersatu Bangun Kemandirian Ekonomi

2 Juli 2026 - 11:24 WIB

Pemko Subulussalam Dikritik: Ikut Kegiatan APEKSI di Medan di Tengah Keterbatasan Anggaran

2 Juli 2026 - 11:20 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Trending di SENI BUDAYA