Wartatrans.com, JAKARTA — Peringatan Hari Puisi Nasional tahun 2026 mencapai puncaknya pada Kamis (30/4) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Acara yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 22.30 WIB ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya, menghadirkan beragam kegiatan sastra yang menyasar berbagai kalangan, terutama generasi muda.
Peringatan Hari Puisi Nasional setiap 28 April merupakan bentuk penghormatan atas wafatnya penyair legendaris Indonesia, Chairil Anwar, yang karya-karyanya terus hidup dan memengaruhi perkembangan sastra Tanah Air.

Ketua Panitia HPN 2026, Mustafa Ismail, bersama Sekretaris Kurnia Effendi, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan tahun ini dirancang tidak sekadar sebagai perayaan, tetapi juga sebagai upaya memperluas apresiasi publik terhadap puisi.
“Kami menyajikan rangkaian acara yang tidak hanya merayakan puisi sebagai ekspresi kebudayaan, tetapi juga memperluas jangkauan apresiasi publik terhadap sastra, khususnya di kalangan generasi muda,” ujar Mustafa.
Rangkaian acara puncak dibagi dalam empat sesi utama, yakni workshop menulis puisi, forum sastra MPA 21, panggung ekspresi komunitas, serta malam puisi nasional. Sejumlah sastrawan dan seniman dari berbagai daerah turut ambil bagian dalam setiap sesi, memperkaya warna perayaan.
Menurut Kurnia Effendi, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar merawat dan mengembangkan kehidupan sastra Indonesia. Selain itu, momentum ini juga memperkuat posisi Jakarta sebagai Kota Sastra Dunia (City of Literature) yang telah ditetapkan UNESCO pada 2021.
“Ini juga menjadi bagian dari pemanasan menuju peringatan 500 tahun Jakarta pada Juni 2027,” katanya.
Puncak acara akan dimeriahkan dengan penampilan musikalisasi puisi dari kelompok Baraluka dari Sanggar Seni Gong Merah Putih serta Mantra Samsara dari Depok. Kehadiran mereka diharapkan mampu menghadirkan pengalaman puitik yang lebih dekat dan hidup bagi para penonton.
Melalui perayaan ini, publik diajak tidak hanya menikmati puisi, tetapi juga meresapi kembali semangat dan keberanian ekspresi yang diwariskan Chairil Anwar—sebuah semangat yang terus relevan lintas zaman.*** (Septi)




























