Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

SENI BUDAYA

HPN 2026, Halimah Munawir: Puisi Adalah Nafas Jaman

badge-check


 HPN 2026, Halimah Munawir: Puisi Adalah Nafas Jaman Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Peringatan Hari Puisi Nasional (HPN) kembali menjadi momentum penting bagi para pegiat sastra di Indonesia untuk merefleksikan peran puisi sebagai medium ekspresi, kritik sosial, sekaligus ruang kontemplasi batin. Di tengah arus deras digitalisasi dan perubahan sosial yang cepat, puisi dinilai tetap memiliki tempat yang khas dan tak tergantikan.

Sastrawan Halimah Munawir menegaskan bahwa puisi bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan cermin dari dinamika zaman yang terus bergerak. Menurutnya, puisi memiliki kemampuan untuk menangkap hal-hal yang sering luput dari perhatian publik.

“Puisi itu bukan hanya tentang estetika, tapi juga tentang kejujuran rasa. Ia bisa menjadi suara bagi yang tak terdengar, bahkan menjadi pengingat di tengah kebisingan dunia,” ujar Halimah dalam keterangannya memperingati HPN 2026.

Ia juga menyoroti bahwa generasi muda kini memiliki peluang besar untuk menghidupkan kembali tradisi berpuisi melalui berbagai platform digital. Media sosial, menurutnya, bukan ancaman, melainkan ruang baru yang bisa dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan karya sastra.

“Yang terpenting bukan medianya, tapi kedalaman pesan. Puisi yang kuat akan tetap menemukan pembacanya, di mana pun ia dipublikasikan,” tambahnya.

Peringatan HPN setiap 28 April sendiri menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tradisi literasi sekaligus mendorong lahirnya karya-karya baru yang relevan dengan konteks kekinian. Di berbagai daerah, kegiatan seperti pembacaan puisi, diskusi sastra, hingga lokakarya kreatif turut meramaikan peringatan tahun ini.

Di tengah berbagai peristiwa sosial yang terjadi belakangan ini, Halimah mengajak para penyair untuk tetap peka dan berani menyuarakan realitas melalui karya.

“Puisi tidak boleh kehilangan keberpihakannya. Ia harus tetap hidup, menyentuh, dan bermakna bagi masyarakat,” tutupnya.

Hari Puisi Nasional 2026 pun kembali menegaskan bahwa di balik kesederhanaan larik-lariknya, puisi menyimpan kekuatan besar—menggerakkan, menyadarkan, dan menghidupkan nurani bangsa.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Yatti Surachman Tagih Janji Pembeli Rumah, Sisa Pelunasan Rp45 Juta Belum Dibayar

28 Juni 2026 - 14:29 WIB

Trending di SENI BUDAYA