Menu

Mode Gelap
Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

SENI BUDAYA

HPN 2026, Halimah Munawir: Puisi Adalah Nafas Jaman

badge-check


 HPN 2026, Halimah Munawir: Puisi Adalah Nafas Jaman Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Peringatan Hari Puisi Nasional (HPN) kembali menjadi momentum penting bagi para pegiat sastra di Indonesia untuk merefleksikan peran puisi sebagai medium ekspresi, kritik sosial, sekaligus ruang kontemplasi batin. Di tengah arus deras digitalisasi dan perubahan sosial yang cepat, puisi dinilai tetap memiliki tempat yang khas dan tak tergantikan.

Sastrawan Halimah Munawir menegaskan bahwa puisi bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan cermin dari dinamika zaman yang terus bergerak. Menurutnya, puisi memiliki kemampuan untuk menangkap hal-hal yang sering luput dari perhatian publik.

“Puisi itu bukan hanya tentang estetika, tapi juga tentang kejujuran rasa. Ia bisa menjadi suara bagi yang tak terdengar, bahkan menjadi pengingat di tengah kebisingan dunia,” ujar Halimah dalam keterangannya memperingati HPN 2026.

Ia juga menyoroti bahwa generasi muda kini memiliki peluang besar untuk menghidupkan kembali tradisi berpuisi melalui berbagai platform digital. Media sosial, menurutnya, bukan ancaman, melainkan ruang baru yang bisa dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan karya sastra.

“Yang terpenting bukan medianya, tapi kedalaman pesan. Puisi yang kuat akan tetap menemukan pembacanya, di mana pun ia dipublikasikan,” tambahnya.

Peringatan HPN setiap 28 April sendiri menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tradisi literasi sekaligus mendorong lahirnya karya-karya baru yang relevan dengan konteks kekinian. Di berbagai daerah, kegiatan seperti pembacaan puisi, diskusi sastra, hingga lokakarya kreatif turut meramaikan peringatan tahun ini.

Di tengah berbagai peristiwa sosial yang terjadi belakangan ini, Halimah mengajak para penyair untuk tetap peka dan berani menyuarakan realitas melalui karya.

“Puisi tidak boleh kehilangan keberpihakannya. Ia harus tetap hidup, menyentuh, dan bermakna bagi masyarakat,” tutupnya.

Hari Puisi Nasional 2026 pun kembali menegaskan bahwa di balik kesederhanaan larik-lariknya, puisi menyimpan kekuatan besar—menggerakkan, menyadarkan, dan menghidupkan nurani bangsa.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

25 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Sandrinna Michelle Ungkap Serunya Bangun Chemistry di Sinetron *Seindah Masa Remaja

24 Agustus 2026 - 10:55 WIB

FIFGROUP Salurkan 1.200 Paket Sembako bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Guruh Sukarno Putra Galang Dana untuk Anak Penyintas Kanker Lewat “Untuk Indonesia”

22 Agustus 2026 - 08:36 WIB

Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah

21 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Bumi Atsanti, Ruang Harmoni dan Kearifan Lokal Tumbuh di Tengah Sawah Borobudur

21 Agustus 2026 - 21:27 WIB

Ketua BFLF Dampingi Putri Pariwisata Aceh 2026 Raih Dukungan Forkopimda Lhokseumawe

21 Agustus 2026 - 16:02 WIB

SBY Art Community Menggelar Pameran Lukisan, Dibuka Gubernur Pramono Anung

20 Agustus 2026 - 07:25 WIB

Perayaan Hari Didong Didorong Miliki Landasan Perda

19 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Maknai Kemerdekaan RI, InJourney Group Hadirkan Kesenian Rakyat

18 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Trending di EKOBIS