Menu

Mode Gelap
Perpustakaan Sekolah di Banda Aceh Bergeliat, Buku Bermutu Diserbu Murid KAI Refund Penuh Tiket Terdampak Kecelakaan Bekasi Timur, 27 Perjalanan KA Direkayasa Kolaborasi Bahasa di Serambi Mekkah Kinerja Awal Tahun Menguat, Arus Peti Kemas Teluk Bayur Naik 5,3% KSOP Cirebon Kerja Sama dengan 2 SMK, Tingkatkan Kualitas SDM Pelayaran 14 Penumpang Meninggal dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, KAI Buka Posko Informasi 14 Hari

RAGAM

Kolaborasi Bahasa di Serambi Mekkah

badge-check


 Kolaborasi Bahasa di Serambi Mekkah Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH — Upaya merawat bahasa dan sastra kembali menemukan momentumnya di Aceh. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, memilih jalur kolaborasi lintas sektor: kampus, pemerintah daerah, hingga komunitas literasi. Tujuannya jelas—memperkuat literasi sekaligus menjaga keberlanjutan bahasa, baik nasional maupun daerah.

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menempatkan perguruan tinggi sebagai simpul penting dalam ekosistem ini. Kampus, menurutnya, bukan sekadar ruang akademik, melainkan pusat produksi pengetahuan dan inovasi kebahasaan. Dalam rangkaian kegiatan di Banda Aceh pertengahan April lalu, ia menekankan perlunya perluasan kerja sama agar program kebahasaan tak berhenti pada tataran seremonial.

Empat fokus menjadi penanda arah kebijakan: peningkatan literasi, penguatan kedaulatan bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, dan internasionalisasi bahasa Indonesia. Di titik kedua, Hafidz menggarisbawahi persoalan klasik yang belum juga tuntas—penggunaan bahasa Indonesia yang belum tertib di ruang publik dan dalam tata naskah dinas. “Ini bukan sekadar soal kaidah, melainkan cermin kedisiplinan berbahasa,” ujarnya.

Di Aceh, isu bahasa daerah memiliki lapisan urgensi tersendiri. Bahasa Aceh, seperti banyak bahasa lokal lain di Indonesia, menghadapi tekanan zaman. Generasi muda kian akrab dengan bahasa global, sementara bahasa ibu perlahan terdesak. Badan Bahasa mendorong revitalisasi sebagai jalan tengah—menghidupkan kembali bahasa daerah melalui pendidikan dan ruang-ruang publik yang relevan bagi anak muda.

Langkah konkret terlihat dalam penandatanganan nota kesepahaman dengan tiga kampus: IAIN Takengon, UIN Ar-Raniry, dan Universitas Syiah Kuala. Kerja sama ini mencakup penguatan tridarma perguruan tinggi, riset kebahasaan dan kesastraan, hingga pengembangan bahan ajar. Mahasiswa dan dosen didorong terlibat langsung dalam program kebahasaan, dari pelatihan hingga revitalisasi bahasa daerah.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, menyebut kolaborasi ini sebagai kelanjutan dari upaya yang telah dirintis sebelumnya. Ia menekankan pentingnya dukungan para pemangku kepentingan untuk menjaga kesinambungan program. “Sinergi adalah kunci,” katanya singkat.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Banda Aceh menunjukkan respons yang tak kalah antusias. Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal menegaskan komitmennya memperkuat penggunaan bahasa Indonesia sekaligus melestarikan bahasa Aceh. Program pelestarian bahasa daerah yang telah berjalan di tingkat SD dan SMP menjadi pijakan awal.

Namun, ada ambisi yang lebih jauh. Badan Bahasa menantang Banda Aceh melaksanakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) secara massal. Jika terealisasi, bukan hanya meningkatkan kesadaran berbahasa, tetapi juga berpotensi mencatatkan rekor nasional. Sebuah gagasan yang memadukan simbolisme dan gerakan nyata.

Di tengah arus globalisasi, bahasa sering kali menjadi medan tarik-menarik antara identitas dan pragmatisme. Apa yang dilakukan di Aceh memperlihatkan satu hal: pelestarian bahasa tak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan kerja bersama—antara negara, kampus, sekolah, dan masyarakat.

Banda Aceh, setidaknya untuk saat ini, memberi contoh bahwa kolaborasi bukan sekadar jargon. Ia bisa menjelma menjadi gerakan kebudayaan yang hidup—di ruang kelas, di kantor pemerintahan, hingga dalam percakapan sehari-hari. Sebab pada akhirnya, bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan rumah bagi ingatan dan jati diri.*** (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perpustakaan Sekolah di Banda Aceh Bergeliat, Buku Bermutu Diserbu Murid

28 April 2026 - 14:28 WIB

14 Penumpang Meninggal dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, KAI Buka Posko Informasi 14 Hari

28 April 2026 - 11:44 WIB

Presiden Prabowo dan Menhub Dudy Jenguk Korban Kecelakaan Kereta di RSUD Kota Bekasi

28 April 2026 - 11:28 WIB

Pinisepuh Sunda Halimah Munawir Sampaikan Ucapan Selamat atas Penugasan Negara Dewan Pakar MMS

28 April 2026 - 08:09 WIB

IKATISA31 Gelar Halal Bihalal di Artotel Curated Jakarta, Pererat Silaturahmi Alumni

28 April 2026 - 01:09 WIB

Persami SIBS–ICM Gunung Geulis Tanamkan Karakter “HEBAT” pada Siswa

28 April 2026 - 00:13 WIB

KRL dan Kereta Jarak Jauh Tabrakan di Stasiun Bekasi Timur, Evakuasi Penumpang Berlangsung

27 April 2026 - 22:13 WIB

Kereta Api Menggerakkan Mobilitas Rendah Emisi dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

27 April 2026 - 20:50 WIB

Fundamental Solid, IPCM Catat Kinerja Positif di Laporan Keuangan Q1 2026

27 April 2026 - 19:39 WIB

Tangguh Di Tengah Tekanan Global, IPCC Catat Kinerja Keuangan Positif pada Q1 2026

27 April 2026 - 18:48 WIB

Trending di ANJUNGAN