Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

RAGAM

Kolaborasi Bahasa di Serambi Mekkah

badge-check


 Kolaborasi Bahasa di Serambi Mekkah Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH — Upaya merawat bahasa dan sastra kembali menemukan momentumnya di Aceh. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, memilih jalur kolaborasi lintas sektor: kampus, pemerintah daerah, hingga komunitas literasi. Tujuannya jelas—memperkuat literasi sekaligus menjaga keberlanjutan bahasa, baik nasional maupun daerah.

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menempatkan perguruan tinggi sebagai simpul penting dalam ekosistem ini. Kampus, menurutnya, bukan sekadar ruang akademik, melainkan pusat produksi pengetahuan dan inovasi kebahasaan. Dalam rangkaian kegiatan di Banda Aceh pertengahan April lalu, ia menekankan perlunya perluasan kerja sama agar program kebahasaan tak berhenti pada tataran seremonial.

Empat fokus menjadi penanda arah kebijakan: peningkatan literasi, penguatan kedaulatan bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, dan internasionalisasi bahasa Indonesia. Di titik kedua, Hafidz menggarisbawahi persoalan klasik yang belum juga tuntas—penggunaan bahasa Indonesia yang belum tertib di ruang publik dan dalam tata naskah dinas. “Ini bukan sekadar soal kaidah, melainkan cermin kedisiplinan berbahasa,” ujarnya.

Di Aceh, isu bahasa daerah memiliki lapisan urgensi tersendiri. Bahasa Aceh, seperti banyak bahasa lokal lain di Indonesia, menghadapi tekanan zaman. Generasi muda kian akrab dengan bahasa global, sementara bahasa ibu perlahan terdesak. Badan Bahasa mendorong revitalisasi sebagai jalan tengah—menghidupkan kembali bahasa daerah melalui pendidikan dan ruang-ruang publik yang relevan bagi anak muda.

Langkah konkret terlihat dalam penandatanganan nota kesepahaman dengan tiga kampus: IAIN Takengon, UIN Ar-Raniry, dan Universitas Syiah Kuala. Kerja sama ini mencakup penguatan tridarma perguruan tinggi, riset kebahasaan dan kesastraan, hingga pengembangan bahan ajar. Mahasiswa dan dosen didorong terlibat langsung dalam program kebahasaan, dari pelatihan hingga revitalisasi bahasa daerah.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, menyebut kolaborasi ini sebagai kelanjutan dari upaya yang telah dirintis sebelumnya. Ia menekankan pentingnya dukungan para pemangku kepentingan untuk menjaga kesinambungan program. “Sinergi adalah kunci,” katanya singkat.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Banda Aceh menunjukkan respons yang tak kalah antusias. Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal menegaskan komitmennya memperkuat penggunaan bahasa Indonesia sekaligus melestarikan bahasa Aceh. Program pelestarian bahasa daerah yang telah berjalan di tingkat SD dan SMP menjadi pijakan awal.

Namun, ada ambisi yang lebih jauh. Badan Bahasa menantang Banda Aceh melaksanakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) secara massal. Jika terealisasi, bukan hanya meningkatkan kesadaran berbahasa, tetapi juga berpotensi mencatatkan rekor nasional. Sebuah gagasan yang memadukan simbolisme dan gerakan nyata.

Di tengah arus globalisasi, bahasa sering kali menjadi medan tarik-menarik antara identitas dan pragmatisme. Apa yang dilakukan di Aceh memperlihatkan satu hal: pelestarian bahasa tak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan kerja bersama—antara negara, kampus, sekolah, dan masyarakat.

Banda Aceh, setidaknya untuk saat ini, memberi contoh bahwa kolaborasi bukan sekadar jargon. Ia bisa menjelma menjadi gerakan kebudayaan yang hidup—di ruang kelas, di kantor pemerintahan, hingga dalam percakapan sehari-hari. Sebab pada akhirnya, bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan rumah bagi ingatan dan jati diri.*** (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

3 Juli 2026 - 02:26 WIB

BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan

2 Juli 2026 - 22:05 WIB

Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan

2 Juli 2026 - 21:58 WIB

Tangis Haru Iringi Peresmian Akses Enang-Enang, Gotong Royong Akhiri Keterisolasian Warga

2 Juli 2026 - 16:23 WIB

Kepala BNN RI Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Sambut Hari Bhayangkara ke-80

2 Juli 2026 - 13:08 WIB

Gelar RUPS Tahunan, PT Pelindo Solusi Maritim Catat Pertumbuhan Kinerja Positif pada 2025

2 Juli 2026 - 13:06 WIB

Yayasan HAkA Dampingi Perempuan Beutong Bersatu Bangun Kemandirian Ekonomi

2 Juli 2026 - 11:24 WIB

Pemko Subulussalam Dikritik: Ikut Kegiatan APEKSI di Medan di Tengah Keterbatasan Anggaran

2 Juli 2026 - 11:20 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Trending di SENI BUDAYA