Wartatrans.com, BANDA ACEH — Semangat literasi tampak hidup di lingkungan sekolah dasar. Kehadiran buku-buku bacaan bermutu mampu menghidupkan kembali perpustakaan sekolah, bahkan menjadi magnet bagi para murid. Fenomena ini terlihat di SDN 54 Banda Aceh saat mendapat kunjungan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, meninjau langsung pemanfaatan bantuan buku bacaan bermutu yang telah disalurkan ke sekolah tersebut. Didampingi Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh periode 2023–2026, Umar Solikhan, kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memastikan program literasi berjalan optimal dan berdampak nyata.

Program bantuan buku bacaan bermutu merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperluas akses literasi bagi peserta didik. Dengan mendekatkan anak pada buku, diharapkan tumbuh kebiasaan membaca sebagai fondasi pembelajaran sepanjang hayat.
Dalam kunjungan tersebut, Hafidz mengapresiasi pengelolaan perpustakaan sekolah yang dinilai berhasil menumbuhkan minat baca murid. Ia menilai, meningkatnya antusiasme siswa merupakan cerminan dari tumbuhnya budaya belajar, sejalan dengan nilai-nilai dalam tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
“Buku bacaan bermutu memiliki peran penting dalam menumbuhkan minat baca serta meningkatkan kemampuan literasi anak sejak dini,” ujar Hafidz.
Tak hanya melakukan peninjauan, Badan Bahasa juga menyerahkan tambahan koleksi buku untuk Perpustakaan Cerdas Ceria milik SDN 54 Banda Aceh. Penambahan ini diharapkan memperkaya ragam bacaan sekaligus memperkuat fungsi perpustakaan sebagai ruang belajar yang menyenangkan.
Suasana haru dan antusias menyelimuti perpustakaan saat buku-buku baru tiba. Para murid tampak berkerumun di sekitar rak, membuka lembar demi lembar dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Bagi mereka, buku-buku tersebut tidak sekadar bacaan, tetapi jendela imajinasi—penuh warna, cerita, dan pengalaman baru.
Sejumlah murid mengaku senang karena buku yang tersedia menarik dan sesuai dengan usia mereka. Respons spontan ini menunjukkan bahwa bahan bacaan yang tepat mampu menumbuhkan kecintaan membaca secara alami.
Umar Solikhan menilai, SDN 54 Banda Aceh telah menunjukkan praktik baik dalam mengintegrasikan buku bacaan ke dalam pembelajaran maupun aktivitas literasi harian. Ia berharap model ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain di Aceh dan wilayah Indonesia lainnya.
Kepala SDN 54 Banda Aceh, Teuku Muthalla, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah. Ia mengungkapkan bahwa bantuan buku yang diberikan sebelumnya telah berdampak signifikan terhadap meningkatnya kunjungan murid ke perpustakaan.
“Anak-anak kini semakin senang datang dan membaca. Kami berharap program ini terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah,” ujarnya.
Lebih dari sekadar program bantuan, kehadiran buku bermutu menjadi penggerak budaya. Di tangan guru, dukungan orang tua, dan lingkungan sekolah yang kondusif, perpustakaan tidak lagi sekadar ruang sunyi, melainkan ruang hidup yang menumbuhkan generasi pembelajar.
Di Banda Aceh, geliat kecil itu kini mulai terasa—dari rak-rak buku yang ramai disentuh, hingga mata-mata muda yang berbinar menemukan dunia baru lewat halaman-halaman bacaan. Sebuah tanda bahwa literasi, perlahan namun pasti, tengah menemukan jalannya.*** (Jasa)
























