Wartatrans.com, JAKARTA — Diskusi NGOBRAS (Ngobrol Santai Bareng Kartini Film, Musik, dan Seni) 2026 tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga panggung apresiasi bagi lahirnya generasi baru di dunia musik. Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia menghadirkan nuansa berbeda dengan memberi kesempatan tampil kepada kelompok musik muda, Kartini Bukan Kartono Band (KBK).
Langkah ini menjadi penanda bahwa regenerasi di industri musik tidak bisa ditunda. Di tengah dominasi nama-nama besar, kehadiran talenta muda justru membawa energi segar. KBK, yang merupakan binaan sekolah musik Chic’s Musik, tampil membawakan lagu Ibu Kita Kartini dengan aransemen modern yang mampu menjangkau selera generasi kini tanpa meninggalkan ruh aslinya.

Ketua Umum FORWAN, Sutrisno Buyil, menilai keberanian memberi ruang kepada musisi muda merupakan bagian dari tanggung jawab ekosistem hiburan. Menurut dia, panggung tidak semestinya eksklusif hanya bagi mereka yang telah mapan.
Respons positif datang dari berbagai kalangan yang hadir. Produser musik Seno M Hardjo melihat potensi besar dalam diri para personel KBK. Ia menilai, meski usia mereka masih muda, kemampuan bermain musik yang ditunjukkan sudah terbilang rapi dan menjanjikan.
Hal senada disampaikan pengamat musik Budi Ace Nurdin. Ia menyoroti kepercayaan diri para personel KBK yang tetap terjaga meski tampil di panggung besar untuk pertama kalinya. Baginya, hal itu menjadi indikator penting dalam proses menuju profesionalitas.
Apresiasi juga datang dari pedangdut senior Nana Mardiana yang menilai penampilan KBK tidak hanya teknis, tetapi juga mampu menghadirkan hiburan yang ringan dan jujur. Ia menekankan bahwa sikap tampil tanpa beban menjadi kekuatan tersendiri bagi musisi muda.
Bagi para personelnya, pengalaman tampil di NGOBRAS menjadi momentum penting. Rasa gugup yang sempat muncul sebelum naik panggung perlahan sirna ketika musik mulai dimainkan. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga dalam perjalanan mereka ke depan.
Lebih dari sekadar penampilan, kehadiran KBK di NGOBRAS 2026 memperlihatkan pentingnya ruang inklusif dalam dunia seni. Di sanalah bibit-bibit baru menemukan tempat untuk tumbuh, sekaligus mengingatkan bahwa masa depan musik Indonesia bergantung pada keberanian memberi kesempatan kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, NGOBRAS tidak hanya berbicara tentang Kartini dalam perspektif sejarah dan budaya, tetapi juga menghadirkan semangat emansipasi dalam bentuk nyata—memberi ruang bagi suara-suara baru untuk didengar.*** (SBY)




























