Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

SENI BUDAYA

Menyusuri Jejak Chairil di HPN 2026 Kota Depok

badge-check


 Menyusuri Jejak Chairil di HPN 2026 Kota Depok Perbesar

Wartatrans.com, DEPOK — Hari Puisi Nasional (HPN) yang diperingati setiap 28 April bukan sekadar penanda kalender kebudayaan. Tanggal itu dipilih untuk mengenang wafatnya Chairil Anwar pada 28 April 1949—seorang penyair yang hingga kini tetap hidup melalui kata-katanya. Ia bukan hanya dikenang, tetapi terus dibaca, diperdebatkan, dan dirayakan.

Lalu, apa yang membuat Chairil menjadi ikon? Hal itulah yang dijelaskan Putra Gara dalam bincang-bincang santainya.

“Chairil hadir di masa ketika bahasa masih mencari bentuknya yang modern. Ia datang dengan gebrakan: kata-kata yang lugas, berani, dan personal,” ungkap Gara.

Lebih jauh sastrawan yang juga pelukis dan jurnalis itu menambahkan, bahwa puisi Chairil tidak tunduk pada pakem lama. Ia menulis dengan napas individualisme yang kuat—“Aku” bukan sekadar kata ganti, melainkan pernyataan sikap. Dari sanalah lahir suara baru dalam sastra Indonesia: suara yang bebas, gelisah, dan jujur.

“Karya-karyanya seperti “Aku”, “Karawang-Bekasi”, hingga “Derai-derai Cemara” menunjukkan keberanian menghadapi hidup, kematian, dan makna eksistensi. Chairil tidak bersembunyi di balik metafora yang rumit, tetapi justru menelanjangi perasaan manusia dengan cara yang langsung menghantam. Ia menjadikan puisi sebagai ruang pergulatan batin, bukan sekadar hiasan bahasa,” terang Gara panjang lebar.

Menurut Gara, itulah yang kemudian membuat Chairil menjadi ikon: bukan hanya karena puisinya, tetapi karena sikapnya terhadap puisi. Ia mengubah cara orang memandang sastra—dari yang semula kaku menjadi lebih hidup, lebih dekat dengan realitas, dan lebih personal.

Semangat itulah yang terasa dalam peringatan Hari Puisi Nasional 2026 di Depok, yang digelar oleh Sanggar Seni Gong Merah Putih di Markas Seni Margo 331. Dalam rangkaian acara yang menghadirkan baca puisi, pentas musik, dan bincang sastra, nama Chairil kembali menjadi pusat perbincangan.

Dalam sesi bincang sastra, Mustafa Ismail menyebutnya sebagai “orasi budaya”—sebuah ajakan untuk tidak sekadar mengenang Chairil, tetapi memahami jejaknya dalam membentuk wajah sastra Indonesia hari ini. Diskusi yang dipandu oleh Tora Kundera itu pun mengalir santai, namun sarat makna.

Di tengah acara, Putra Gara mendapat kesempatan untuk “cuap-cuap” tentang Chairil. Bukan sebagai ceramah kaku, melainkan refleksi: bagaimana seorang penyair muda di masa lalu bisa mengguncang zamannya, dan mengapa gaungnya masih terasa hingga kini.

Pada akhirnya, HPN bukan sekadar mengenang tanggal wafat. Ia adalah upaya merawat api yang pernah dinyalakan Chairil—api keberanian untuk bersuara, untuk jujur, dan untuk menjadikan puisi sebagai cermin kehidupan.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Yatti Surachman Tagih Janji Pembeli Rumah, Sisa Pelunasan Rp45 Juta Belum Dibayar

28 Juni 2026 - 14:29 WIB

Trending di SENI BUDAYA