Menu ✖

Mode Gelap
Tarif Terjangkau, 14,16 Juta Pelanggan Manfaatkan KA PSO KAI hingga September 2026 Trafik Kargo IPCC Melonjak 19,57% hingga Kuartal III 2026 ASDP: Kebakaran KMP Batumandi di Sekitar Pulau Merak Besar, Penumpang Selamat ACCADEMI dan Kemenko Polkam Samakan Perspektif Komunikasi Publik di Era Tsunami Informasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Capai Rp3.923 Triliun dan Serap 5,48 Juta Tenaga Kerja KAI Divre III Palembang Amankan 52 Barang Tertinggal, Nilainya Tembus Rp133 Juta

SENI BUDAYA

Menyusuri Jejak Chairil di HPN 2026 Kota Depok

badge-check


 Menyusuri Jejak Chairil di HPN 2026 Kota Depok Perbesar

Wartatrans.com, DEPOK — Hari Puisi Nasional (HPN) yang diperingati setiap 28 April bukan sekadar penanda kalender kebudayaan. Tanggal itu dipilih untuk mengenang wafatnya Chairil Anwar pada 28 April 1949—seorang penyair yang hingga kini tetap hidup melalui kata-katanya. Ia bukan hanya dikenang, tetapi terus dibaca, diperdebatkan, dan dirayakan.

Lalu, apa yang membuat Chairil menjadi ikon? Hal itulah yang dijelaskan Putra Gara dalam bincang-bincang santainya.

“Chairil hadir di masa ketika bahasa masih mencari bentuknya yang modern. Ia datang dengan gebrakan: kata-kata yang lugas, berani, dan personal,” ungkap Gara.

Lebih jauh sastrawan yang juga pelukis dan jurnalis itu menambahkan, bahwa puisi Chairil tidak tunduk pada pakem lama. Ia menulis dengan napas individualisme yang kuat—“Aku” bukan sekadar kata ganti, melainkan pernyataan sikap. Dari sanalah lahir suara baru dalam sastra Indonesia: suara yang bebas, gelisah, dan jujur.

“Karya-karyanya seperti “Aku”, “Karawang-Bekasi”, hingga “Derai-derai Cemara” menunjukkan keberanian menghadapi hidup, kematian, dan makna eksistensi. Chairil tidak bersembunyi di balik metafora yang rumit, tetapi justru menelanjangi perasaan manusia dengan cara yang langsung menghantam. Ia menjadikan puisi sebagai ruang pergulatan batin, bukan sekadar hiasan bahasa,” terang Gara panjang lebar.

Menurut Gara, itulah yang kemudian membuat Chairil menjadi ikon: bukan hanya karena puisinya, tetapi karena sikapnya terhadap puisi. Ia mengubah cara orang memandang sastra—dari yang semula kaku menjadi lebih hidup, lebih dekat dengan realitas, dan lebih personal.

Semangat itulah yang terasa dalam peringatan Hari Puisi Nasional 2026 di Depok, yang digelar oleh Sanggar Seni Gong Merah Putih di Markas Seni Margo 331. Dalam rangkaian acara yang menghadirkan baca puisi, pentas musik, dan bincang sastra, nama Chairil kembali menjadi pusat perbincangan.

Dalam sesi bincang sastra, Mustafa Ismail menyebutnya sebagai “orasi budaya”—sebuah ajakan untuk tidak sekadar mengenang Chairil, tetapi memahami jejaknya dalam membentuk wajah sastra Indonesia hari ini. Diskusi yang dipandu oleh Tora Kundera itu pun mengalir santai, namun sarat makna.

Di tengah acara, Putra Gara mendapat kesempatan untuk “cuap-cuap” tentang Chairil. Bukan sebagai ceramah kaku, melainkan refleksi: bagaimana seorang penyair muda di masa lalu bisa mengguncang zamannya, dan mengapa gaungnya masih terasa hingga kini.

Pada akhirnya, HPN bukan sekadar mengenang tanggal wafat. Ia adalah upaya merawat api yang pernah dinyalakan Chairil—api keberanian untuk bersuara, untuk jujur, dan untuk menjadikan puisi sebagai cermin kehidupan.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

ISI Padangpanjang Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Seniman Lima Negara Ramaikan FKI XIII

19 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Brotherhood of SANFFEST, Sineas Mancanegara Berbagi Ilmu Film di Sejumlah Daerah

19 Oktober 2026 - 12:52 WIB

15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital

18 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Seluruh Academia Sabet Tiga Standing Ovation, Persaingan Top 12 D’Academy 8 Kian Ketat

17 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Dwiki Dharmawan: Indonesia Tidak Kekurangan Talenta Musik

16 Oktober 2026 - 00:06 WIB

Sineas Palestina Ameen Nayfeh Tiba di Jakarta, Disambut Panitia SANFFEST 2026

15 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Karena Dianggap Cacat Hukum, Yon Bayu Wahyono Desak Pemilihan Ulang DKJ, DPRD Jakarta Siap Panggil Pihak Terkait

15 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Trending di PERISTIWA