Menu

Mode Gelap
Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

SENI BUDAYA

Menyusuri Jejak Chairil di HPN 2026 Kota Depok

badge-check


 Menyusuri Jejak Chairil di HPN 2026 Kota Depok Perbesar

Wartatrans.com, DEPOK — Hari Puisi Nasional (HPN) yang diperingati setiap 28 April bukan sekadar penanda kalender kebudayaan. Tanggal itu dipilih untuk mengenang wafatnya Chairil Anwar pada 28 April 1949—seorang penyair yang hingga kini tetap hidup melalui kata-katanya. Ia bukan hanya dikenang, tetapi terus dibaca, diperdebatkan, dan dirayakan.

Lalu, apa yang membuat Chairil menjadi ikon? Hal itulah yang dijelaskan Putra Gara dalam bincang-bincang santainya.

“Chairil hadir di masa ketika bahasa masih mencari bentuknya yang modern. Ia datang dengan gebrakan: kata-kata yang lugas, berani, dan personal,” ungkap Gara.

Lebih jauh sastrawan yang juga pelukis dan jurnalis itu menambahkan, bahwa puisi Chairil tidak tunduk pada pakem lama. Ia menulis dengan napas individualisme yang kuat—“Aku” bukan sekadar kata ganti, melainkan pernyataan sikap. Dari sanalah lahir suara baru dalam sastra Indonesia: suara yang bebas, gelisah, dan jujur.

“Karya-karyanya seperti “Aku”, “Karawang-Bekasi”, hingga “Derai-derai Cemara” menunjukkan keberanian menghadapi hidup, kematian, dan makna eksistensi. Chairil tidak bersembunyi di balik metafora yang rumit, tetapi justru menelanjangi perasaan manusia dengan cara yang langsung menghantam. Ia menjadikan puisi sebagai ruang pergulatan batin, bukan sekadar hiasan bahasa,” terang Gara panjang lebar.

Menurut Gara, itulah yang kemudian membuat Chairil menjadi ikon: bukan hanya karena puisinya, tetapi karena sikapnya terhadap puisi. Ia mengubah cara orang memandang sastra—dari yang semula kaku menjadi lebih hidup, lebih dekat dengan realitas, dan lebih personal.

Semangat itulah yang terasa dalam peringatan Hari Puisi Nasional 2026 di Depok, yang digelar oleh Sanggar Seni Gong Merah Putih di Markas Seni Margo 331. Dalam rangkaian acara yang menghadirkan baca puisi, pentas musik, dan bincang sastra, nama Chairil kembali menjadi pusat perbincangan.

Dalam sesi bincang sastra, Mustafa Ismail menyebutnya sebagai “orasi budaya”—sebuah ajakan untuk tidak sekadar mengenang Chairil, tetapi memahami jejaknya dalam membentuk wajah sastra Indonesia hari ini. Diskusi yang dipandu oleh Tora Kundera itu pun mengalir santai, namun sarat makna.

Di tengah acara, Putra Gara mendapat kesempatan untuk “cuap-cuap” tentang Chairil. Bukan sebagai ceramah kaku, melainkan refleksi: bagaimana seorang penyair muda di masa lalu bisa mengguncang zamannya, dan mengapa gaungnya masih terasa hingga kini.

Pada akhirnya, HPN bukan sekadar mengenang tanggal wafat. Ia adalah upaya merawat api yang pernah dinyalakan Chairil—api keberanian untuk bersuara, untuk jujur, dan untuk menjadikan puisi sebagai cermin kehidupan.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

25 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Sandrinna Michelle Ungkap Serunya Bangun Chemistry di Sinetron *Seindah Masa Remaja

24 Agustus 2026 - 10:55 WIB

FIFGROUP Salurkan 1.200 Paket Sembako bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Guruh Sukarno Putra Galang Dana untuk Anak Penyintas Kanker Lewat “Untuk Indonesia”

22 Agustus 2026 - 08:36 WIB

Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah

21 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Bumi Atsanti, Ruang Harmoni dan Kearifan Lokal Tumbuh di Tengah Sawah Borobudur

21 Agustus 2026 - 21:27 WIB

Ketua BFLF Dampingi Putri Pariwisata Aceh 2026 Raih Dukungan Forkopimda Lhokseumawe

21 Agustus 2026 - 16:02 WIB

SBY Art Community Menggelar Pameran Lukisan, Dibuka Gubernur Pramono Anung

20 Agustus 2026 - 07:25 WIB

Perayaan Hari Didong Didorong Miliki Landasan Perda

19 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Maknai Kemerdekaan RI, InJourney Group Hadirkan Kesenian Rakyat

18 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Trending di EKOBIS