Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

SENI BUDAYA

Subkhi “Smart” Muralis Magelang Borong Prestasi April, Karya Dipuji Namun Tetap Dikritisi

badge-check


 Subkhi “Smart” Muralis Magelang Borong Prestasi April, Karya Dipuji Namun Tetap Dikritisi Perbesar

Wartatrans.com, MAGELANG — Rangkaian kegiatan mural sepanjang April menghadirkan persaingan ketat antar seniman dari berbagai daerah. Dari puluhan peserta yang ambil bagian, panitia akhirnya menyeleksi tiga karya terbaik. Salah satu yang paling menonjol datang dari Subkhi, muralis asal Magelang yang dikenal dengan nama “Subkhi Smart”.

Alumni SMSR kelahiran Agustus 1975 ini tampil mencuri perhatian bukan hanya karena kualitas karyanya, tetapi juga karena perjuangannya yang tidak biasa. Dalam sejumlah kompetisi, Subkhi memilih tampil sebagai single fighter painting—melukis seorang diri—di tengah dominasi peserta lain yang bekerja dalam tim beranggotakan dua hingga lima orang.

Perjalanan Subkhi dalam sepekan terakhir April terbilang impresif. Ia harus menempuh jarak antar kota bahkan antar provinsi dengan sepeda motor seorang diri demi mengikuti berbagai ajang mural. Kerja keras tersebut berbuah hasil dengan raihan prestasi beruntun di tiga wilayah berbeda.

Pada ajang mural di Kopassus Cijantung, Jakarta, yang bertepatan dengan peringatan hari jadi ke-74 Jakarta, Subkhi berhasil meraih juara ketiga. Sepekan berselang, ia naik podium sebagai juara kedua dalam event mural Pasar Modern (Pasmod) BSD City, Tangerang, Banten. Tidak berhenti di situ, pada pekan berikutnya ia justru mencapai puncak prestasi dengan menyabet penghargaan The Best Art atau juara pertama dalam ajang “Mural Pejagalan Reborn” yang digelar dalam rangka HUT ke-120 Kota Pekalongan.

Kemampuan Subkhi dalam membaca tema menjadi salah satu keunggulan utama. Karyanya dinilai matang secara konsep, kuat secara simbolik, serta memiliki penyajian visual yang total. Komposisi objek, alur cerita visual, hingga keberanian eksplorasi warna menjadi nilai lebih yang membedakannya dari peserta lain.

Meski demikian, keberhasilan tersebut tidak lepas dari catatan kritis. Dalam dunia mural yang terus berkembang, sebuah karya yang terlihat “megah” di ruang publik tetap perlu dievaluasi. Pengamat menilai bahwa aspek narasi visual, keseimbangan komposisi, hingga keselarasan warna masih menjadi ruang diskusi yang perlu terus dikembangkan.

“Visual yang kuat memang penting, tetapi pesan yang disampaikan harus benar-benar sampai kepada publik. Jangan sampai justru membingungkan,” menjadi salah satu catatan yang mengemuka dalam evaluasi karya mural.

Kritik ini bukan untuk mereduksi capaian, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran bersama. Dalam konteks seni mural—baik sebagai media ekspresi, propaganda, maupun kompetisi—tujuan utamanya bukan sekadar meraih piala, tetapi membangun peradaban visual yang bisa dinikmati masyarakat luas.

Sebuah mural, pada akhirnya, bukan hanya hiasan dinding. Ia adalah representasi zaman yang berbicara melalui cerita, komposisi, tata ruang, dan harmoni warna. Karena itu, setiap capaian perlu diiringi refleksi agar kualitas karya ke depan semakin matang, tidak hanya indah secara visual tetapi juga kuat secara gagasan.

Keberhasilan Subkhi menjadi bukti bahwa kerja keras, konsistensi, dan idealisme masih menjadi fondasi utama dalam berkarya. Namun lebih dari itu, catatan kritis yang menyertainya menjadi pengingat bahwa seni adalah ruang belajar yang tidak pernah selesai.*** (Priyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Warga Griya Alam Sentul Keberatan Rencana Pembangunan KDMP di Lahan Fasos/Fasum

30 Juni 2026 - 12:37 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Truk Tabrak Sejumlah Motor di Simpang Unisma Bekasi, Satu Orang Tewas

29 Juni 2026 - 14:41 WIB

Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Tengah Tolak Judul Film “Malahayati: Pasukan 1000 Janda”

29 Juni 2026 - 11:47 WIB

Festival Santri Meuseuraya II Tahun 2026 Resmi Ditutup

29 Juni 2026 - 07:16 WIB

Trending di PERISTIWA