Menu

Mode Gelap
FLS3N SMA Kota Depok 2026: Panggung Ekspresi 500 Pelajar, Merawat Kreativitas dan Jejak Budaya Subkhi “Smart” Muralis Magelang Borong Prestasi April, Karya Dipuji Namun Tetap Dikritisi Chic’s Musik Luncurkan The Morbius, Harapan Baru Kebangkitan Grup Band Anak Muda KAI Catat Lonjakan Penumpang di Stasiun Rogojampi, Mobilitas Warga Kian Tinggi Hajatan FIFGROUP Hadir Meriah di Bekasi, Dirangkai Peresmian Gedung Baru dan Solar Panel Kick-Off KLIC FEST 2026 di Bundaran HI Meriah, Klaten Siap Jadi Pusat Festival Sepeda Dunia

PERON

KAI Catat Lonjakan Penumpang di Stasiun Rogojampi, Mobilitas Warga Kian Tinggi

badge-check


 KAI Catat Lonjakan Penumpang di Stasiun Rogojampi, Mobilitas Warga Kian Tinggi Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Di tengah padatnya aktivitas Pasar Rogojampi, Stasiun Rogojampi menjadi ruang yang mempertemukan berbagai kepentingan dalam satu titik. Sejak pagi hingga sore, pergerakan masyarakat terus berlangsung.

Ada yang berangkat bekerja, berdagang, menempuh pendidikan, hingga menjangkau layanan kesehatan. Perjalanan yang tersambung melalui rel ini ikut menjaga ritme kehidupan tetap berjalan.

Peran tersebut berangkat dari sejarah panjang yang telah terbentuk sejak awal abad ke-20. Stasiun Rogojampi diresmikan pada tahun 1903 oleh Staatsspoorwegen sebagai bagian dari jalur Mrawan–Rogojampi–Banyuwangi sepanjang 58 kilometer. Pada masanya, jalur ini memperlancar distribusi hasil perkebunan menuju pelabuhan. Seiring waktu, fungsi tersebut berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis, dari distribusi komoditas menjadi penggerak mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Perkembangan ini semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Rogojampi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyuwangi tahun 2024 sebagai rilis resmi terbaru, Kecamatan Rogojampi dihuni lebih dari 90 ribu jiwa dengan tingkat kepadatan yang tinggi. Secara geografis, wilayah ini berada di koridor penghubung antara pusat Kota Banyuwangi di sisi timur dengan kawasan Genteng dan Benculuk di sisi barat. Letak tersebut menjadikan Rogojampi sebagai simpul pergerakan yang aktif, dengan arus masyarakat dan barang yang terus berlangsung sepanjang hari.

Kondisi tersebut tergambar langsung pada aktivitas ekonomi di sekitar stasiun. Pasar Rogojampi yang berada tidak jauh dari area peron menjadi pusat perdagangan yang hidup setiap hari. Pedagang, petani, hingga pelaku usaha kecil memanfaatkan kemudahan akses kereta api untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Perjalanan menjadi lebih terukur, distribusi barang lebih lancar, dan biaya logistik dapat ditekan sehingga usaha masyarakat tetap berkembang.

Kedekatan Stasiun Rogojampi dengan Bandara Internasional Banyuwangi yang berjarak sekitar 8 kilometer semakin memperluas ruang gerak masyarakat. Perjalanan dari kereta api menuju transportasi udara dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Bagi wisatawan, kemudahan ini memberi akses yang lebih praktis untuk menjangkau Banyuwangi dari berbagai daerah. Bagi masyarakat lokal, pilihan perjalanan menjadi lebih beragam dan fleksibel.

Dari sisi sosial, akses transportasi yang terjaga membantu masyarakat menjangkau berbagai kebutuhan dengan lebih mudah. Perjalanan menuju pusat pendidikan, layanan kesehatan, hingga kegiatan sosial dapat dilakukan dengan waktu yang lebih pasti. Mobilitas yang lancar juga mempertemukan masyarakat dari berbagai wilayah, sehingga interaksi sosial tetap terjalin dan memperkuat hubungan antarwilayah.

Di tengah pergerakan tersebut, identitas budaya Rogojampi tetap terasa kuat. Bahasa Osing masih digunakan dalam percakapan sehari-hari di sekitar stasiun. Tradisi seperti Kebo-keboan di Desa Aliyan terus berlangsung dan menarik perhatian banyak orang. Akses transportasi yang mudah membantu masyarakat luar datang dan mengenal budaya tersebut secara langsung, sehingga tradisi tetap terjaga dan terus dikenal.

Konektivitas ini juga membuka peluang besar bagi sektor pariwisata. Dari Stasiun Rogojampi, pelanggan dapat melanjutkan perjalanan menuju berbagai destinasi unggulan Banyuwangi seperti Taman Nasional Alas Purwo, kawasan hutan Trembesi De Djawatan, hingga pesisir Pulau Merah dan Pantai Mustika. Perjalanan yang lebih praktis membantu wisatawan mengatur waktu kunjungan dengan lebih nyaman dan terencana.

Pengalaman perjalanan semakin lengkap dengan kehadiran kuliner khas di sekitar stasiun. Sego Cawuk, Rujak Soto, dan Pecel Pitik menjadi bagian dari cerita yang dibawa pulang oleh setiap pelanggan. Aktivitas ini memberi dampak langsung bagi pelaku usaha lokal, mulai dari pedagang makanan hingga penyedia jasa transportasi lanjutan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa kedekatan akses transportasi memberi manfaat luas bagi masyarakat.

“Perjalanan yang semakin mudah membantu masyarakat menjalankan aktivitas dengan lebih efisien. Akses yang dekat antara stasiun dan bandara membuka peluang usaha, memperkuat pergerakan ekonomi, serta mendukung pengembangan pariwisata dan budaya daerah,” jelas Anne.

Seluruh perjalanan kereta api dari dan menuju Banyuwangi saat ini berhenti di Stasiun Rogojampi. Layanan KA lokal seperti Probowangi mendukung mobilitas harian masyarakat, sementara KA jarak jauh seperti Wijayakusuma dan Blambangan Ekspres menghubungkan Banyuwangi dengan berbagai kota besar. Penambahan layanan KA Sangkuriang relasi Bandung–Banyuwangi (PP) semakin memperluas jangkauan perjalanan.

Pertumbuhan tersebut terlihat dari meningkatnya kepercayaan masyarakat. Pada Triwulan I 2026, pelanggan naik tercatat 67.212 pelanggan, tumbuh sekitar 19,9% dibandingkan Triwulan I 2025 sebanyak 56.056 pelanggan. Sementara itu, pelanggan turun mencapai 67.109 pelanggan, meningkat 12,2% dibandingkan 59.794 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka ini menunjukkan bahwa Stasiun Rogojampi semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Perjalanan yang lebih pasti membantu masyarakat mengatur waktu, menjaga produktivitas, serta membuka peluang baru di berbagai sektor. Aktivitas ekonomi bergerak, interaksi sosial terjaga, budaya tetap hidup, dan pariwisata terus berkembang dalam satu jaringan perjalanan yang saling terhubung.

“Kepercayaan masyarakat menjadi dorongan bagi KAI untuk terus menjaga kualitas layanan. Setiap perjalanan diharapkan memberi kemudahan, rasa aman, serta manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” tutup Anne.(fahmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kick-Off KLIC FEST 2026 di Bundaran HI Meriah, Klaten Siap Jadi Pusat Festival Sepeda Dunia

26 April 2026 - 09:28 WIB

Ijen Ekspres Dorong Perjalanan Wisata Jawa Timur, Sajikan Lanskap Timur yang Terhubung dalam Satu Perjalanan

26 April 2026 - 06:48 WIB

Stasiun Gundih Jadi Penghubung Warga, Mobilitas di Grobogan Terus Meningkat

25 April 2026 - 17:46 WIB

KAI Services Ingatkan Penumpang KRL Jaga Ketertiban Selama Perjalanan

25 April 2026 - 17:26 WIB

Weekend Naik Kereta Api: Duduk Santai, Ngobrol Bareng, Nikmati Pemandangan Sepanjang Perjalanan

25 April 2026 - 16:57 WIB

Ada Parade Drumband, KAI Imbau Penumpang Datang Lebih Awal ke Stasiun Tulungagung

25 April 2026 - 08:51 WIB

KAI Gelar Seremoni Penanaman 4.500 Pohon di Subang, Perkuat Komitmen Lingkungan Berkelanjutan

24 April 2026 - 20:21 WIB

KAI Daop 7 Madiun Rutin Lakukan Pengecekan Sarana dan Prasarana melalui Lori Dresin Demi Keandalan Perjalanan KA

24 April 2026 - 18:55 WIB

Mobilitas Perkotaan Yogyakarta–Solo hingga Madiun Tumbuh, Kereta Api Perkuat Konektivitas dan Buka Akses Aktivitas Masyarakat

24 April 2026 - 18:42 WIB

Rel Perkotaan Jabodetabek: Infrastruktur yang Perlahan Membentuk Arah Peradaban Masyarakat

24 April 2026 - 13:02 WIB

Trending di PERON