Menu

Mode Gelap
Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen Ramainya WNA Naik Whoosh Sepanjang 2026, Malaysia Jadi Penumpang Terbanyak HUT ke-23, KAI Services Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan dan Keamanan Pangan Lewat Sertifikasi ISO 22000 Pegawai KSOP Utama Tanjung Priok Raih Medali Emas ISKA, Harumkan Nama Kemenhub Perkuat Kualitas Layanan Navigasi AirNav Indonesia-ASA Gelar Program ITSAP KAI Sulap Stasiun Gambir Jadi Modern Station & Lifestyle Hub, Siap Jadi Ruang Publik dan Pusat Aktivitas Baru di Jakarta

PERON

KAI Catat Lonjakan Penumpang di Stasiun Rogojampi, Mobilitas Warga Kian Tinggi

badge-check


 KAI Catat Lonjakan Penumpang di Stasiun Rogojampi, Mobilitas Warga Kian Tinggi Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Di tengah padatnya aktivitas Pasar Rogojampi, Stasiun Rogojampi menjadi ruang yang mempertemukan berbagai kepentingan dalam satu titik. Sejak pagi hingga sore, pergerakan masyarakat terus berlangsung.

Ada yang berangkat bekerja, berdagang, menempuh pendidikan, hingga menjangkau layanan kesehatan. Perjalanan yang tersambung melalui rel ini ikut menjaga ritme kehidupan tetap berjalan.

Peran tersebut berangkat dari sejarah panjang yang telah terbentuk sejak awal abad ke-20. Stasiun Rogojampi diresmikan pada tahun 1903 oleh Staatsspoorwegen sebagai bagian dari jalur Mrawan–Rogojampi–Banyuwangi sepanjang 58 kilometer. Pada masanya, jalur ini memperlancar distribusi hasil perkebunan menuju pelabuhan. Seiring waktu, fungsi tersebut berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis, dari distribusi komoditas menjadi penggerak mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Perkembangan ini semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Rogojampi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyuwangi tahun 2024 sebagai rilis resmi terbaru, Kecamatan Rogojampi dihuni lebih dari 90 ribu jiwa dengan tingkat kepadatan yang tinggi. Secara geografis, wilayah ini berada di koridor penghubung antara pusat Kota Banyuwangi di sisi timur dengan kawasan Genteng dan Benculuk di sisi barat. Letak tersebut menjadikan Rogojampi sebagai simpul pergerakan yang aktif, dengan arus masyarakat dan barang yang terus berlangsung sepanjang hari.

Kondisi tersebut tergambar langsung pada aktivitas ekonomi di sekitar stasiun. Pasar Rogojampi yang berada tidak jauh dari area peron menjadi pusat perdagangan yang hidup setiap hari. Pedagang, petani, hingga pelaku usaha kecil memanfaatkan kemudahan akses kereta api untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Perjalanan menjadi lebih terukur, distribusi barang lebih lancar, dan biaya logistik dapat ditekan sehingga usaha masyarakat tetap berkembang.

Kedekatan Stasiun Rogojampi dengan Bandara Internasional Banyuwangi yang berjarak sekitar 8 kilometer semakin memperluas ruang gerak masyarakat. Perjalanan dari kereta api menuju transportasi udara dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Bagi wisatawan, kemudahan ini memberi akses yang lebih praktis untuk menjangkau Banyuwangi dari berbagai daerah. Bagi masyarakat lokal, pilihan perjalanan menjadi lebih beragam dan fleksibel.

Dari sisi sosial, akses transportasi yang terjaga membantu masyarakat menjangkau berbagai kebutuhan dengan lebih mudah. Perjalanan menuju pusat pendidikan, layanan kesehatan, hingga kegiatan sosial dapat dilakukan dengan waktu yang lebih pasti. Mobilitas yang lancar juga mempertemukan masyarakat dari berbagai wilayah, sehingga interaksi sosial tetap terjalin dan memperkuat hubungan antarwilayah.

Di tengah pergerakan tersebut, identitas budaya Rogojampi tetap terasa kuat. Bahasa Osing masih digunakan dalam percakapan sehari-hari di sekitar stasiun. Tradisi seperti Kebo-keboan di Desa Aliyan terus berlangsung dan menarik perhatian banyak orang. Akses transportasi yang mudah membantu masyarakat luar datang dan mengenal budaya tersebut secara langsung, sehingga tradisi tetap terjaga dan terus dikenal.

Konektivitas ini juga membuka peluang besar bagi sektor pariwisata. Dari Stasiun Rogojampi, pelanggan dapat melanjutkan perjalanan menuju berbagai destinasi unggulan Banyuwangi seperti Taman Nasional Alas Purwo, kawasan hutan Trembesi De Djawatan, hingga pesisir Pulau Merah dan Pantai Mustika. Perjalanan yang lebih praktis membantu wisatawan mengatur waktu kunjungan dengan lebih nyaman dan terencana.

Pengalaman perjalanan semakin lengkap dengan kehadiran kuliner khas di sekitar stasiun. Sego Cawuk, Rujak Soto, dan Pecel Pitik menjadi bagian dari cerita yang dibawa pulang oleh setiap pelanggan. Aktivitas ini memberi dampak langsung bagi pelaku usaha lokal, mulai dari pedagang makanan hingga penyedia jasa transportasi lanjutan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa kedekatan akses transportasi memberi manfaat luas bagi masyarakat.

“Perjalanan yang semakin mudah membantu masyarakat menjalankan aktivitas dengan lebih efisien. Akses yang dekat antara stasiun dan bandara membuka peluang usaha, memperkuat pergerakan ekonomi, serta mendukung pengembangan pariwisata dan budaya daerah,” jelas Anne.

Seluruh perjalanan kereta api dari dan menuju Banyuwangi saat ini berhenti di Stasiun Rogojampi. Layanan KA lokal seperti Probowangi mendukung mobilitas harian masyarakat, sementara KA jarak jauh seperti Wijayakusuma dan Blambangan Ekspres menghubungkan Banyuwangi dengan berbagai kota besar. Penambahan layanan KA Sangkuriang relasi Bandung–Banyuwangi (PP) semakin memperluas jangkauan perjalanan.

Pertumbuhan tersebut terlihat dari meningkatnya kepercayaan masyarakat. Pada Triwulan I 2026, pelanggan naik tercatat 67.212 pelanggan, tumbuh sekitar 19,9% dibandingkan Triwulan I 2025 sebanyak 56.056 pelanggan. Sementara itu, pelanggan turun mencapai 67.109 pelanggan, meningkat 12,2% dibandingkan 59.794 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka ini menunjukkan bahwa Stasiun Rogojampi semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Perjalanan yang lebih pasti membantu masyarakat mengatur waktu, menjaga produktivitas, serta membuka peluang baru di berbagai sektor. Aktivitas ekonomi bergerak, interaksi sosial terjaga, budaya tetap hidup, dan pariwisata terus berkembang dalam satu jaringan perjalanan yang saling terhubung.

“Kepercayaan masyarakat menjadi dorongan bagi KAI untuk terus menjaga kualitas layanan. Setiap perjalanan diharapkan memberi kemudahan, rasa aman, serta manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” tutup Anne.(fahmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ramainya WNA Naik Whoosh Sepanjang 2026, Malaysia Jadi Penumpang Terbanyak

3 Juli 2026 - 19:58 WIB

HUT ke-23, KAI Services Tegaskan Komitmen Perkuat Layanan dan Keamanan Pangan Lewat Sertifikasi ISO 22000

3 Juli 2026 - 19:34 WIB

KAI Sulap Stasiun Gambir Jadi Modern Station & Lifestyle Hub, Siap Jadi Ruang Publik dan Pusat Aktivitas Baru di Jakarta

3 Juli 2026 - 16:56 WIB

KAI Wisata Siapkan Revitalisasi Wisata Heritage, Stasiun Jakarta Kota Jadi Langkah Awal

3 Juli 2026 - 07:33 WIB

Komut KAI Wisata Kunjungi Stasiun Jakarta Kota, Luncurkan Inisiatif Pelestarian 5 Stasiun Bersejarah

3 Juli 2026 - 06:55 WIB

KAI Gandeng Jaring Esports Nusantara, Delapan Stasiun Disiapkan Jadi Digital Hub dan Arena Esports

2 Juli 2026 - 16:29 WIB

Tiket Diskon Kereta Libur Sekolah Laris, KAI Catat 1,24 Juta Pemesanan dengan Okupansi Tembus 105,75 Persen

2 Juli 2026 - 15:46 WIB

KAI Services Bekali Prama Prami dengan Teknik Sales untuk Dongkrak Penjualan Merchandise di Kereta

2 Juli 2026 - 15:40 WIB

Kereta Petani Pedagang KAI Layani 26.074 Pelanggan di Lintas Rangkasbitung-Merak pada Semester I 2026

2 Juli 2026 - 11:16 WIB

Dukung Transisi Energi, KAI Terapkan Biodiesel B50 pada Seluruh Sarana Diesel

2 Juli 2026 - 09:12 WIB

Trending di PERON