Wartatrans.com, ACEH UTARA — Komitmen pemulihan pascabencana terus diwujudkan oleh organisasi sosial kemanusiaan Seusama Peduli, turunan dari Ormas Seuramo Syedara Lhokseumawe (SEUSAMA). Pada Sabtu (25/4/2026), program pembangunan balai pengajian resmi dimulai dengan peletakan batu pertama di Dayah Malem Diwa, Gampong Cot Bada, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
Menariknya, kegiatan ini dilaksanakan secara bersamaan dengan acara Halal Bihalal (HBH) SEUSAMA yang digelar di Jakarta, sebagai simbol kuatnya keterhubungan emosional dan kepedulian warga Lhokseumawe di perantauan terhadap kampung halaman.
Sejak hari kedua pascabencana banjir, Seusama Peduli telah bergerak cepat melalui program Seusama Peduli 1 dengan menyalurkan bantuan darurat bagi warga terdampak. Para relawan bahkan tinggal di lokasi selama kurang lebih dua bulan untuk memastikan distribusi bantuan berjalan efektif.


Memasuki tahap lanjutan, Seusama Peduli 2 difokuskan pada pembangunan kembali sektor keagamaan, khususnya balai pengajian yang menjadi pusat pembinaan spiritual masyarakat. Sebanyak 15 balai pengajian direncanakan dibangun di Kecamatan Langkahan dan Jambo Aye.
Ketua SEUSAMA, Zulkifli Ibrahim, menyampaikan bahwa peletakan batu pertama ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemulihan yang lebih mendasar.
“Balai pengajian bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah pusat pembinaan karakter, moral, dan spiritual masyarakat. Momentum peletakan batu pertama ini menjadi awal kebangkitan kembali kehidupan keagamaan masyarakat yang sempat terdampak banjir,” ujar Zulkifli.
Ia juga menekankan bahwa pelaksanaan kegiatan yang bersamaan dengan Halal Bihalal di Jakarta mencerminkan semangat gotong royong lintas wilayah.
“Walau berjauhan secara geografis, hati dan kepedulian kami tetap menyatu untuk Aceh,” tambahnya.

Balai pengajian yang dibangun merupakan fasilitas yang sebelumnya hilang atau mengalami kerusakan minimal 85 persen akibat banjir. Selain itu, pembangunan hanya dilakukan di atas lahan berstatus wakaf yang sah guna menghindari potensi sengketa di masa depan.
Seusama Peduli meyakini bahwa pemulihan pascabencana harus menyentuh aspek spiritual masyarakat. Balai pengajian diharapkan kembali menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan Al-Qur’an, serta ruang pemberdayaan masyarakat.
Program ini juga bertujuan menyediakan fasilitas pendidikan keagamaan yang layak, memperkuat ketahanan mental dan sosial masyarakat, serta membangun generasi muda yang berakar pada nilai-nilai agama.
“Ini bukan hanya membangun fisik, tetapi membangun kembali harapan dan masa depan masyarakat Aceh,” tutur Zulkifli.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa solidaritas warga perantauan tidak pernah padam, sekaligus menegaskan bahwa pemulihan pascabencana memerlukan pendekatan yang menyeluruh—tidak hanya infrastruktur, tetapi juga spiritual dan kemanusiaan.*** (Jasa/Agam)

























