Wartatrans.com, DEPOK — Semangat berkesenian di kalangan pelajar kembali menemukan ruangnya dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat SMA/MA Kota Depok tahun 2026. Ajang tahunan ini tak sekadar menjadi kompetisi, melainkan juga ruang perjumpaan ide, ekspresi, dan identitas budaya generasi muda.
Tahun ini, pelaksanaan FLS3N dipusatkan di SMA Negeri 4 Depok, berdasarkan hasil rapat tahunan bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Sejak terbitnya petunjuk teknis nasional pada Februari lalu, berbagai persiapan telah dilakukan secara intensif, mulai dari pembentukan panitia hingga koordinasi lintas sekolah.

Ketua panitia, Akhmad Yani, S.Pd., menuturkan bahwa proses persiapan dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan semangat kolaboratif. “Kami ingin memastikan FLS3N tidak hanya berjalan lancar secara teknis, tetapi juga menghadirkan pengalaman bermakna bagi para peserta. Ini adalah ruang tumbuh bagi kreativitas mereka,” ujarnya.

Para pemenang FLS3N
Sekitar 500 siswa dari berbagai SMA/MA sederajat di Kota Depok dipastikan ambil bagian. Jumlah tersebut merepresentasikan sekitar 50 persen dari total sekolah yang ada di wilayah ini. Angka itu menunjukkan bahwa FLS3N tetap menjadi magnet penting bagi pelajar untuk menyalurkan bakat seni dan sastra mereka.
Pembukaan acara dijadwalkan berlangsung khidmat dan meriah dengan kehadiran tokoh-tokoh pendidikan. Kepala SMA Negeri 4 Depok yang juga menjabat sebagai Ketua MKKS SMA Kota Depok, Drs. Mamad Mahpudin, M.Pd., akan membuka kegiatan tersebut. Turut hadir pula Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II, Dr. Ervin Aulia Rachman, S.E., M.Si., M.Ed., yang selama ini dikenal mendorong penguatan pendidikan berbasis karakter dan kreativitas.
Dalam FLS3N tahun ini, sebanyak 16 cabang lomba dipertandingkan. Mulai dari bidang sastra seperti baca puisi, cipta puisi, dan menulis cerpen; bidang musik seperti cipta lagu, solo gitar, solo vokal putra dan putri, serta kreativitas musik tradisional; hingga seni rupa dan media seperti desain poster, komik digital, fotografi, dan film pendek. Selain itu, terdapat pula cabang monolog, tari kreasi, kriya, serta jurnalistik yang memberi ruang bagi pelajar untuk mengasah kepekaan sosial dan kemampuan bertutur.
Keberagaman cabang lomba ini mencerminkan luasnya spektrum seni yang diakomodasi. Lebih dari sekadar adu kemampuan, setiap cabang menjadi medium bagi siswa untuk menyuarakan gagasan, keresahan, dan harapan mereka melalui bahasa seni.
“Di tengah arus digitalisasi yang begitu cepat, seni menjadi cara penting bagi siswa untuk tetap terhubung dengan nilai-nilai kemanusiaan dan budaya. Kami melihat banyak karya yang tidak hanya kreatif, tetapi juga reflektif terhadap realitas sosial,” kata Akhmad Yani.
FLS3N, dalam konteks yang lebih luas, juga dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi sekaligus mendorong inovasi. Kehadiran cabang seperti kreativitas musik tradisional dan kriya, misalnya, menjadi penanda bahwa akar budaya lokal tetap mendapat tempat di tengah geliat modernitas.
Salah satu guru pendamping yang terlibat dalam kegiatan ini menyebutkan bahwa FLS3N sering kali menjadi titik awal lahirnya talenta-talenta muda yang kelak berkiprah di dunia seni profesional. “Banyak alumni FLS3N yang kemudian melanjutkan studi atau karier di bidang seni. Ini bukan sekadar lomba, tetapi proses pembentukan jati diri,” ujarnya.
Di sisi lain, cabang seperti jurnalistik dan film pendek menunjukkan bagaimana pelajar mulai akrab dengan medium bercerita yang lebih kompleks. Mereka tidak hanya dituntut kreatif, tetapi juga mampu mengolah realitas menjadi narasi yang utuh dan bermakna.
Melalui FLS3N, para peserta terbaik nantinya akan diseleksi untuk mewakili Kota Depok ke tingkat provinsi hingga nasional. Namun, lebih dari sekadar hasil akhir, proses yang dilalui para siswa menjadi nilai utama yang diharapkan dapat membentuk karakter, kepercayaan diri, serta kemampuan berkolaborasi.
Dengan dukungan berbagai pihak—mulai dari sekolah, MGMP, hingga dinas pendidikan—FLS3N SMA Kota Depok 2026 diharapkan berlangsung sukses dan memberi dampak berkelanjutan. Di tengah hiruk-pikuk kompetisi akademik, ruang-ruang seperti ini menjadi pengingat bahwa pendidikan juga tentang merawat rasa, imajinasi, dan kepekaan.
Pada akhirnya, FLS3N bukan hanya panggung bagi para juara, tetapi juga ruang bagi setiap siswa untuk menemukan suaranya—dan melalui suara itu, mereka merangkai masa depan yang lebih berwarna.*** (Dulloh)

























